Banyak cara bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sekitar. Salah satunya wisata Bumi Harmony di Dusun Klompangan, Desa Binor, Kecamatan Paiton. Sebuah wisata alternatif yang mengajak pengunjung mengenal dan menjaga alam.
ACHMAD ARIANTO, Paiton, Radar Bromo
Asri. Itulah yang dirasakan pertama kali saat masuk ke kawasan Bumi Harmony. Belasan jenis pohon menjulang tinggi, dilengkapi dengan beberapa tanaman pendukung lainnya. Membuat lingkungan terasa sejuk.
Wilayah milik Perhutani yang difungsikan sebagai wilayah konservasi ini lambat laun menjadi wisata alternatif. Jujukan warga sekitar dan pelajar yang ingin rekreasi sekaligus belajar mengenal alam.
Pengelola Bumi Harmony Zainal Abidin Fadilah, 42, mengatakan, wisata tersebut awalnya merupakan wilayah hutan konservasi. Dikembangkan secara bertahap mulai tahun 2021.
Konservasi sendiri merupakan salah satu kegiatan yang mengatur kehidupan manusia dengan sumber daya alam. Sehingga, tercipta lingkungan yang lestari.
Wujud kegiatannya misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi sampah dan tidak membakar sampah.
Selain itu, menghemat energi, menggunakan produk daur ulang, dan menanam pohon. Juga ada kegiatan penataan lingkungan agar tetap terjaga dengan baik.
“Sebenarnya ini merupakan wilayah hutan konservasi. Perlahan kemudian dijadikan wisata edukasi dan secara bertahap fasilitasnya terus dilengkapi,” katanya.
Wilayah hutan konservasi ini memiliki luas lahan sekitar 2 hektare. Dengan pemandangan yang cukup menawan.
Sisi timur hingga selatan berbatasan dengan bukit Selobanteng. Bukit yang oleh warga setempat disebut Gunung Loros ini tampak hijau dari kejauhan. Seolah-olah menjadi pagar alam.
Suasana lingkungan sekitar pun masih cukup alami. Bahkan, masih ditemui beberapa hewan endemik di kawasan ini. Seperti lutung, trenggiling, dan elang.
Saat ini, Bumi Harmony yang di bawah Binaan PLN Nusantara Power UP Paiton memiliki beberapa fasilitas.
Dari pintu masuk sisi utara terdapat sebuah pendopo yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan. Baik oleh warga sekitar, pemerintah desa, atau instansi lainnya.
Kemudian pada sisi barat terdapat sebuah aviari. Yaitu, sebuah kandang burung, sama dengan sangkar. Bedanya, ukurannya lebih besar.
Di dalamnya dibuat habitat burung, seperti halnya di alam liar. Ada semak, pohon, dan tanaman pendukung lainnya. Aviari juga dijadikan sebagai tempat adaptasi burung sebelum dilepasliarkan di alam.
Beberapa jenis burung ada di tempat ini. Bahkan, burung-burung yang mulai susah didapat di alam liar. Seperti, burung kutilang, terkuku, trucukan, punai, bondol kaji, gelatik jawa, jalak kebo, gemek, klapasan, manyar, dan puter.
Masih pada deretan sebelah barat, terdapat sebuah green house yang berfungsi untuk menghindari dan memanipulasi kondisi lingkungan.
Agar tercipta kondisi lingkungan yang dikehendaki dalam pemeliharaan tanaman. Ada juga kandang maggot dan rumah jamur.
“Pengelola turut memerangi perburuan liar. Aviari ini fungsinya juga mencegah dan mengatasi perburuan dan perdagangan burung liar secara ilegal,” ucapnya.
Sementara itu pada sisi timur merupakan playground. Berbeda dengan playground umumnya yang terbuat dari besi. Di Bumi Harmony, playground terbuat dari kayu yang kokoh.
Konstruksinya berbahan kayu agar anak-anak lebih terbiasa dengan alam. Khususnya pepohonan yang keberadaannya cukup penting bagi manusia.
“Playground tersebut terdiri atas beberapa permainan. Melatih ketangkasan dan keberanian anak-anak,” kata pecinta alam ini.
Bumi Harmony pun terus mengembangkan fasilitas untuk pengunjung. Saat ini juga terdapat beberapa fasilitas pendukung lainnya yang sudah dapat dinikmati oleh pengunjung. Yakni, gazebo, musala, toilet, dan kantin.
Yang menarik, pengunjung tidak hanya datang lantas pulang seperti pengunjung wisata umumnya. Ada juga pengunjung yang bermalam dengan mendirikan tenda di tempat ini.
Mereka ini biasa rombongan yang ingin menikmati keindahan alam dan menyatu dengan alam. Karena itulah, mereka kamping atau berkemah. Areal kemah juga hampir tersedia di seluruh kawasan Bumi Harmony.
“Pengunjung dalam sepekan bisa sampai 500 orang. Rata-rata pelajar mulai TK sampai SMA. Tentunya saat berkunjung kami awasi agar aman dan nyaman. Termasuk anak-anak yang berkemah,” tuturnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin