Tidak banyak yang menekuni pembuatan kostum cosplay. Di Probolinggo, hanya Mochammad Naufal Adi Setyawan, 27. Pilihannya ini berawal dari kesulitannya menemukan pembuat kostum cosplay.
FAHRIZAL FIRMANI, Probolinggo, Radar Bromo
Ketertarikan Mochammad Naufal Adi Setyawan, 27, pada dunia cosplay berawal dari ketidaksengajaan. Saat masih kelas X SMK, ia melihat ada seorang laki-laki menggunakan kostum Final Fantasy di YouTube.
Dari situ, warga Kelurahan Jrebeng Lor, Kedopok, Kota Probolinggo, ini lantas mencari tahu tentang kostum tersebut. Dia akhirnya tahu bahwa lelaki di YouTube itu mengenakan kostum dan berdandan ala karakter tertentu yang disebut cosplay.
Cosplay sendiri merupakan gabungan kata dari costume (kostum) dan play (bermain). Cosplay secara bebas diartikan sebagai sebuah kegiatan menggunakan kostum, riasan wajah, dan berperan menyerupai karakter tertentu di dunia fiksi. Seperti anime, manga, video game, hingga film favorit.
Naufal pun langsung tertarik. Dia lantas menjelajahi facebook untuk mencari komunitas cosplay di Probolinggo. Namun, ternyata tidak ada.
Dia lantas menceritakan ketertarikannya pada dunia cosplay pada temannya di sekolah. Naufal lantas bertemu dengan Avi yang juga tertarik pada karakter anime Jepang.
Singkat kata, Naufal akhirnya bertemu dengan sepuluh orang yang sama-sama menyukai cosplay. Semuanya warga Probolinggo.
Mereka pun jadi sering berkumpul dan membahas hobi mereka itu. Termasuk mencari tempat persewaan kostum cosplay di Probolinggo.
“Tapi, saat itu susah mendapatkan kostum cosplay. Mencari rental juga tidak ketemu. Sempat mencari di Kabupaten Probolinggo, juga tidak ada,” katanya.
Akhirnya, Naufal bersama teman-temannya sesama pecinta cosplay yang tergabung dalam komunitas Tsumikaze, mencari penjahit yang bersedia membuat kostum cosplay. Namun, tidak mudah ternyata. Hampir semua penjahit tidak mau membuatkan kostum cosplay.
Sampai akhirnya, mereka mendatangi seorang penjahit di Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Penjahit inilah yang kemudian bersedia menerima pesanan kostum karakter dari mereka. Sebab, yang bersangkutan terbiasa menerima pesanan seragam karnaval.
Naufal pun langsung memesan kostum karakter Yuta dalam anime Chuunibyo. Ongkos jahitnya saat itu Rp 150 ribu.
“Penjahitnya bilang itu sudah harga pelanggan. Kostumnya cukup memuaskan. Hampir mendekati aslinya,” jelas Naufal.
Awalnya, ia dan teman-temannya hanya main cosplay sendiri. Pakai kostum, lalu berfoto. Enam bulan setelahnya, ia baru memberanikan diri ikut acara event di Kota Malang yang diberi nama Japan Daisuki.
Meski sempat minder karena banyak yang lebih bagus, namun sulung dari lima bersaudara ini mengaku sangat senang. Ia dan komunitas Tsumikaze lantas rutin mengikuti event cosplay di berbagai tempat.
“Kadang membuat kostum itu tidak memungkinkan, sebab event berdekatan, kami jadi harus rental. Biaya yang dikeluarkan ya tidak sedikit,” jelasnya.
Untuk menyewa kostum, ia bisa mengeluarkan uang mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu. Jika kostumnya memiliki banyak aksesori, bisa lebih mahal. Apalagi jika ada properti seperti pedang. Satu properti sewanya bisa Rp 100 ribu.
Saat itu, ia harus menyewa kostum cosplay keluar Kota Probolinggo. Seperti ke Kota Malang atau Surabaya. Sebab, di Probolinggo belum ada yang menekuni pembuatan kostum tersebut.
Karena sulitnya mencari persewaan kostum karakter itu, mulai 2016, warga Jalan Sunan Ampel ini memutuskan untuk membuat sendiri kostum cosplay. Memilih bahan untuk membuat kostum tidak mudah. Ia harus tetap melihat karakter yang mau dibuat.
Misalnya, kostum yang dipakai harus berbahan tebal ataukah tipis. Atau, celana untuk karakter tertentu cocok dari bahan jins atau kain biasa.
“Saya sampai mencari bahan keluar kota. Seperti Kota Surabaya, Malang, hingga Jember agar kostum yang dihasilkan bagus,” sebutnya.
Setelah mendapat bahan yang cocok, Naufal pun belajar otodidak menjahit. Karena usahanya dijalankan sendiri, ia membatasi pesanan lima sampai enam buah kostum dalam sebulan. Melibatkan pekerja lain sulit dilakukan karena membuat kostum ini butuh kreativitas.
Bahan membuat kostum karakter biasanya menggunakan kain kaus atau kain jaket. Bahan satu kostum cosplay bisa menghabiskan Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Pembuatannya sekitar satu sampai dua bulan, bergantung kesulitan.
Jika kostumnya sulit dan pemesan meminta waktu cepat, misalnya dua pekan, ia masih berani. Namun, tentunya, harganya lebih mahal daripada harga pembuatan normal.
Ia pernah membuat karakter Aizen dari game Tales of Berseria. Pembuatannya butuh dua bulan karena sulit. Sebab, harus memakai kain motif. Kostumnya membutuhkan layering yang banyak.
“Selain ada dalamannya, jahitan untuk luarannya butuh dua kali. Selain itu, masih harus membuat motif juga. Ini karakter paling susah,” jelasnya.
Sementara kostum karakter paling mudah adalah anime One Piece. Ia bisa mengerjakan satu pekan saja. Harga kostum bervariasi mulai dari Rp 350 ribu sampai Rp 1,3 juta. Kalau dalam kota bisa bebas ongkos kirim (ongkir) dan diantar.
Selama menjalani aktivitasnya itu, Naufal pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan pada 2016. Seseorang memesan kostum karakter anime Kubinashi. Namun, pemesan hilang kabar dan tidak mengambil kostum pesanannya.
Meski sudah membayar uang muka 50 persen, namun biaya kostumnya Rp 400 ribu. Akhirnya kostum itu dia pakai sendiri.
Pernah juga ada pemesan yang membatalkan pesanannya. Bahkan, meminta uangnya dikembalikan. Padahal, uang itu sudah dibelikan bahan. Akhirnya, Naufal pun mengembalikan separonya.
“Kalau belum dibelanjakan bahan, boleh saja membatalkan. Cuma waktu itu bahan kainnya sudah lengkap. Tapi dia tetap memaksa,” tutur Naufal.
Beberapa kostum buatannya juga disewakan. Harga sewa mulai dari Rp 50 ribu. Namun, saat pandemi pada 2019, usaha kostumnya ikut terdampak. Karena tidak ada event, sehingga tidak ada yang memesan.
Sebenarnya masih ada satu dua yang menyewa untuk kebutuhan konten video atau foto. Namun, karena harga sewa tidak seberapa, ia terpaksa merantau. Dan baru melanjutkan pembuatan kostum cosplay mulai tahun lalu.
“Pemesan saya justru dari luar Kota Probolinggo. Ada yang dari Jember hingga Malang. Kalau anggota komunitas lebih suka merental,” tuturnya.
Namun, ia mengakui pilihannya menekuni pembuatan kostum cosplay sempat dicibir oleh beberapa kerabatnya. Mereka menilai usaha ini tidak menjanjikan dan hanya anak alay yang suka cosplay.
Naufal pun memilih untuk membuktikan melalui lomba yang diikuti. Walau belum pernah menang dalam event cosplay yang diikuti, setidaknya ada dokumentasi dirinya pernah naik ke atas panggung.
“Mereka bilang lebih banyak yang dikeluarkan daripada yang didapat. Tapi, saya tidak ambil pusing. Karena bagi saya ini adalah hobi,” pungkasnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin