Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pelajar SMA Yadika Bangil Borong Juara Nasional di Ajang Chinese Paradise UB Malang

Iwan Andrik • Selasa, 19 Desember 2023 | 16:50 WIB
Dari kanan, Dedy K, kepala SMA Yadika Bangil didampingi guru Mandarin SMA Yadika Bangil, Fajar S bersama Aditya Rachmadani, Saskia Nur Komariya, dan Syazwina Latif pemenang lomba Chinese Paradise di U
Dari kanan, Dedy K, kepala SMA Yadika Bangil didampingi guru Mandarin SMA Yadika Bangil, Fajar S bersama Aditya Rachmadani, Saskia Nur Komariya, dan Syazwina Latif pemenang lomba Chinese Paradise di U

Prestasi membanggakan diraih tiga siswa SMA Yadika Bangil dalam ajang Chinese Paradise di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Mereka memborong tiga juara. Yakni, juara satu dan tiga untuk lomba puisi Mandarin dan juara dua untuk digital poster.

 

Iwan Andrik, Bangil, Radar Bromo

 

BASAH kuyub. Begitulah yang yang diingat Aditya Rachmadani, 16 dan dua rekannya, Saskia Nur Komariya, 17 serta Syazwina Latif, 15, saat detik-detik menerima penghargaan. Mereka basah-basahan setelah diguyur hujan saat menuju ruang pengumuman juara.

Rasa malu sempat berkecamuk. Maklum, hampir semua mata peserta memandangi mereka. Namun, hal itu mereka tahan. Hingga akhirnya kabar gembira itu datang saat pengumuman pemenang di kompetisi pelajar tingkat nasional itu.

Nama mereka disebutkan sebagai pemenang. Aditya Rachmadani menyabet juara pertama untuk lomba puisi Mandarin. Sementara Saskia Nur Komariya, menjadi juara kedua untuk lomba digital poster. Sedangkan Syazwina Latif berhasil menyabet juara tiga untuk lomba puisi Mandarin.

"Kami sempat menjadi pusat perhatian ketika hadir dengan kondisi basah kuyub karena kehujanan. Tapi, semua itu terbayar dengan juara yang kami raih,” kata Saskia Nur Komariya dibenarkan dua rekannya.

 

 

Pelajar kelahiran 8 Januari 2006 ini mengaku sangat bahagia bisa meraih penghargaan dalam ajang Chinese Paradise yang digelar Departemen Sastra dan Bahasa China Universita Brawijaya tersebut. Sebab, memang perjalanannya tak mudah.

Persiapan yang dilakukan cukup mepet. Satu bulan sebelum batas akhir lomba, ia baru mendapatkan informasi. Putri pasangan M. Sodikin dan Farida itu pun mulai mengotak-atik aplikasi desain di smartphone-nya. Ia memanfaatkan aplikasi Canva untuk membuat desain bertajuk festival lampion.

Awalnya, dia sempat kesulitan. Terutama, untuk menentukan tema dan toon warna yang digunakan. Bolak-balik dia merevisi dan mengedit karyanya. Sampai-sampai, ia lupa waktu. Bahkan, sampai dini hari, ia masih berkutat dengan smartphone-nya.

"Saking semangatnya, pernah sampai nggak terasa sudah pukul 02.00. Barulah setelah itu saya tidur,” ujar pelajar kelas XII IPA 2 tersebut.

Proses pembuatan digital poster itu, dilakoninya sejak Oktober 2023. Sementara, penjurian mulai 10 November. Hingga mendekati batas waktu penjurian, ia akhirnya menemukan komposisi yang pas.

 

 

Gambar khas festival lampion dengan kelinci serta makanan khas onde dirangkainya. Berpadu dengan warna pitch yang dianggap sesuai. Ia pun mengirimkan karyanya melalui online. Jelang pengumuman, ia pun mendapat undangan untuk menghadiri penghargaan pada 25 November 2023 di UB Malang.

Pelajar yang tinggal di Sidowayah, Beji, ini masih ingat ketika menghadiri penghargaan. Saat itu, hujan lebat mengguyur Malang. Ia bersama dua rekannya menyewa Grab, usai turun dari stasiun Malang.

Saat turun dari Grab itulah, ia basah-basahan. Karena tidak bawa payung untuk menuju ruangan. “Apalagi, kami sempat kesulitan mencari tempatnya. Akhirnya ya basah kuyup,” tuturnya.

 

 

Cerita tak kalah seru juga diungkapkan Aditya bersama Syaswina. Keduanya mengikuti lomba membaca puisi Mandarin. Mereka sempat kerepotan untuk menyesuaikan diri dalam melafalkan kalimat-kalimat mandarin.

Berulang kali, harus mengulang pengambilan video. Bahkan, Aditya sempat harus mengubah naskah. Lantaran kerepotan melafalkan puisi yang pertama.

“Capek juga. Hampir setiap sore, kami latihan untuk melafalkan. Bahkan, terpaksa harus ganti naskah, saking repotnya,” papar Aditya, pelajar kelas X A asal Pogar, Kecamatan Bangil, tersebut.

Perubahan naskah itu sempat membuatnya panik. Karena dilakukan H-3 jelang akhir lomba. Siapa yang menyangka, itu mengubah semuanya. Bahkan, ia berhasil menyabet juara pertama.

“Alhamdulillah semuanya bisa kami lalui dengan baik,” timpal putra dari pasangan Andi Suwardi dan Zulfia Andriyani ini.

 

 

Senada diungkapkan Syazwina. Rasa lelah memang sempat menyelimuti. Namun, semangat yang membara membuatnya tak menyerah. Meski harus berulang kali pengambilan gambar dilakukan.

“Kami sangat bersyukur, akhirnya bisa membawa pulang juara,” aku peraih juara tiga lomba puisi Mandarin ini.

Kepala SMA Yadika Bangil Dedy Kristiawantoro mengaku bersyukur atas raihan anak didiknya. Hal tersebut tak lepas dari pembinaan dari masing-masing guru di sekolah setempat.

Ia menambahkan, program pendidikan Mandarin memang menjadi unggulan di SMA Yadika Bangil. Program itu sudah berjalan lima tahun terakhir. Tujuannya, tak lain untuk bisa menjadi bekal siswa ketika lulus sekolah.

Sekolah juga menjalin kerja sama dengan lembaga penguji di Surabaya untuk mengukur kemampuan bahasa Mandarin siswa.

“Di tangan Pak Fajar, guru bahasa Mandarin, pengembangan tidak hanya kompetensi siswa. Tapi juga mengarah ke kompetisi. Alhmadulillah, dua tahun terakhir sudah dapat hasil. Tahun lalu, kami juara tiga se-Jatim untuk Chinese Escape Room. Dan sekarang tiga juara sekaligus,” papar dia. (hn)

Editor : Ronald Fernando
#Universitas Brawijaya (UB) #SMA Yadika Bangil