Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Unik Rachmad Sudaryanto Budi Daya Kepiting Bakau yang Memakai Jeriken Bekas

Inneke Agustin • Kamis, 14 Desember 2023 | 15:40 WIB
SEPERTI APARTEMEN: Rachmad Sudaryanto, yang memanfaatkan jeriken bekas untuk membuat vertical crab house sebagai sarana budidaya Kepiting Bakau
SEPERTI APARTEMEN: Rachmad Sudaryanto, yang memanfaatkan jeriken bekas untuk membuat vertical crab house sebagai sarana budidaya Kepiting Bakau

Kepiting bakau (Scylla) merupakan jenis kepiting yang hidup di ekosistem hutan bakau. Bernama lain mangrove crab, mud crab, ataupun swamp crab, budi daya kepiting ini banyak diminati di Indonesia dengan metode apartemen atau vertical crab house. Rachmad Sudaryanto salah satu pembuatnya

 

INNEKE AGUSTIN, Kedopok, Radar Bromo.

 

BERAWAL dari kesukaannya mengkonsumsi kepiting, pria berusia 58 tahun itu ingin membudi dayakan kepiting bakau. Namun karena tak memiliki tambak, membuatnya harus putar otak.

Hingga dia memutuskan untuk menggunakan metode  vertical crab house. Rachmad kemudian mulai membuat apartemen dari jeriken bekas. Media yang ia gunakan adalah jeriken dengan kapasitas 10 liter. Harganya juga murah. Hanya Rp 20 ribu per buah.

“Kalau di sosial media, medianya sebenarnya bukan terbuat dari jeriken. Ada tersendiri. Namun karena harganya cukup mahal, akhirnya saya berinovasi dengan menggunakan jeriken saja. Sekaligus memanfaatkan limbah,” katanya.

Sebelum digunakan, jeriken tersebut dibersihkan dari kotoran-kotoran. Jeriken tersebut lantas dilubangi di beberapa sisinya. Sejumlah lubang tersebut berguna sebagai lubang pintu, saluran air, dan sirkulasi udara. Pintu dirancang dapat dibuka dan ditutup. Untuk keluar-masuknya kepiting dan akses pemberian makan. Sementara lubang saluran air nantinya akan dipasang pipa paralon untuk jalur air masuk dan pembuangan.

 

 

Puluhan jeriken plastik tersusun bertingkat ini, diletakkan Rachmad di dalam ruangan ruko miliknya di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok. Tampak juga pipa-pipa yang mengalirkan air dari kotak satu ke kotak lainnya. Tercatat telah ada 50 kotak yang telah terisi kepiting bakau yang sedang dibudidayakan.

“Sementara yang belum terisi masih ada 75 apartemen lagi,” kata pria mantan karyawan pabrik rokok ini.

Menurut Rachmad,  ada beberapa kelebihan dari sistem budi daya vertical crab house ini. Beberapa di antaranya yaitu hemat biaya, pertumbuhan kepiting dapat lebih terkontrol, dan cara perawatannya yang lebih simpel.

Pembudi dayanya juga tak harus punya tambak terlebih dulu. Sebab dapat dilakukan di dalam ruangan. “Karena di dalam ruangan, pengecekan juga lebih mudah. Entah cuaca sedang terik maupun hujan, pertumbuhan kepiting bisa dipantau kapanpun. Perawatannya juga mudah, cukup dibersihkan dari kotoran kepitingnya saja,” jelasnya.

Meski perawatannya tergolong mudah, ada hal yang harus diperhatikan dalam membudi dayakan kepiting bakau. Menurut Rachmad penggunaan airnya menggunakan air payau yaitu campuran air laut dan air tawar. Suhu juga berkisar antara 25 hingga 35 derajat celcius. Sementara pH 7,0 hingga 9,0 dengan kadar berkisar 10 hingga 30 ppt. Selain itu, air juga harus terbebas dari polutan.

 

 

“Jadi diusahakan menyerupai habitat aslinya, meski di dalam kotak apartemen. Tetap dijaga salinitas airnya. Sebab kalau terlalu tinggi, kepitingnya bisa mati. Selain itu pembersihan apartemen dilakukan tiap pagi dan sore. Ini agar kepiting tidak terinfeksi kotorannya sendiri. Meski habitatnya di lumpur, ternyata kalau dia terinfeksi bisa mati juga,” katanya.

Bibit kepiting bakau, Rachmad dapat dari pedagang di pasar dengan harga rata-rata Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu saja. Kepiting tersebut kemudian ia masukkan ke dalam kotak apartemen yang tiap bulannya akan ditimbang bobotnya.

BISA BESAR: Kepiting bakau yang dibudi dayakan Rachmad.
BISA BESAR: Kepiting bakau yang dibudi dayakan Rachmad.

“Untuk yang siap panen kisaran bobotnya mencapai 60 hingga 800 gram. Ukuran yang banyak digunakan di restoran. Harganya bisa mencapai Rp 340 ribu. Sementara kepiting bakau ini bisa lebih besar lagi. Bisa mencapai 3 Kg hingga 5 Kg,” katanya.

Kata Rachmad, untuk mencapai bobot tersebut bergantung pada tingkat konsumsi pakan. Ia menggunakan ikan mentah sebagai pakan kepiting yang ia budidaya. Pakan tersebut diberikan sekali sehari saat malam dengan aturan 0,05 kali bobot kepiting.

“Makin lahap kepiting makan, makin cepat pertumbuhannya. Mungkin 5 bulan saja sudah bisa panen,” kata Rachmad.

 

 

Rachmad berharap ada lebih banyak lagi masyarakat Kota Probolinggo yang bisa melakukan budi daya Kepiting Bakau dengan cara ini ke depannya. Sebab potensi ekonomi dari penjualan kepiting juga cukup besar.

“Kota Probolinggo bisa jadi kota produsen kepiting. Kan potensi lautnya sudah ada. Misal tiap warga 50 kotak apartemen saja. Saya rasa sudah bisa potensi daerah, bisa jual ke daerah lain seperti Bali dan Surabaya,” katanya. (fun)

Editor : Ronald Fernando
#kepiting bakau #Budi daya kepiting