Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Pelajar asal Pasuruan Galindra Firdanuar Alfansyah Membuat Wayang Kertas

Muhamad Busthomi • Selasa, 5 Desember 2023 | 23:45 WIB
KARYA SENDIRI: Galindra menunjukkan wayang kertas buatannya di rumahnya di Kelurahan/Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Dia ingin generasi Z seperti dirinya juga menyukai wayang.
KARYA SENDIRI: Galindra menunjukkan wayang kertas buatannya di rumahnya di Kelurahan/Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Dia ingin generasi Z seperti dirinya juga menyukai wayang.

Galindra Firdanuar Alfansyah boleh dibilang tumbuh dengan buaian kebudayaan. Menonton pagelaran wayang sudah jadi kesukaannya sejak berumur 3 tahun. Tak heran, berbagai tokoh pewayangan dihafalnya. Sampai-sampai, ia mahir membuat wayang. Meski hanya berbahan kertas, ia ingin wayang lebih dikenali generasi Z seusianya.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Ada yang lebih menyenangkan bagi Firdan–sapaan Galindra Firdanuar Alfansyah–ketimbang bermain media sosial, menonton YouTube ataupun TikTok. Sepulang dari sekolah, ia bahkan hanya sesekali menyentuh ponsel.

Dia lebih suka duduk bersila di ruang tamu, di antara sisa-sisa potongan kertas, kuas, dan palet berisi cat air yang nyaris mengering.

Hari itu, wayang Karna dari kertas buatan Firdan sudah separo jadi. Saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi rumahnya di Gang Semar, Kelurahan/Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, Jumat (1/11) siang, proses pewarnaan sudah rampung.

Firdan tinggal mempertajam detailnya saja. Dia pun membiarkan ujung spidol di tangannya menari di atas wayang yang menjadi sekutu Kurawa itu.

Setelah kurang lebih satu jam, proses mempertajam detail pun selesai. Dia lalu memasang gapit atau penyangga dan gagang yang terbuat dari bambu. Memasang gapit wayang memang tidaklah begitu memakan waktu.

Yang butuh waktu yaitu proses membuat wayang. Seluruhnya bisa menghabiskan waktu rata-rata empat hingga lima hari. Itu pun untuk ukuran wayang yang terbilang mini.

Sementara untuk membuat wayang berukuran standar selayaknya dalam pagelaran, dibutuhkan waktu lebih lama lagi. Yaitu, sepekan. Seperti saat Firdan membuat wayang Jarasandha.

Saat itu, ia iseng saja membuat wayang yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam lakon Sesaji Raja Suya itu. ”Tertarik saja karena penasaran dengan kerumitannya,” ungkap Firdan.

Dan secara kebetulan, setelah Jarasandha rampung, ada tugas dari sekolahnya untuk membuat wayang. Terang saja, Firdan menyodorkan wayang yang baru dibuatnya pada gurunya.

Di luar dugaan, gurunya malah tidak percaya bahwa Firdan sendiri yang telah membuat wayang itu. Termasuk teman-temannya, juga tidak percaya.

”Malah waktu itu dikira beli. Kemudian saya cerita bahwa saya memang suka wayang,” bebernya.

Pelajar kelas XI SMAN Gondangwetan itu sendiri tak tahu persis sejak kapan dia mulai gandrung dengan pagelaran wayang.

Bisa jadi, kegandrungannya itu melekat seiring pertumbuhannya. Karena sejak bayi, ia seolah sudah ditimang-timang dengan drama tradisional dalam kebudayaan Jawa.

Mendiang kakeknya, Mujari, sangat memengaruhi ketertarikannya terhadap wayang. ”Mulai kecil betah nonton wayang. Sama mbahnya, dia memang selalu diajak keliling nonton wayang,” kata Novi, ibu Firdan.

Ada cerita menarik ketika Firdan diajak kakeknya menonton pertunjukan di Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Firdan yang kala itu tertarik dengan Ki Bayu saat memainkan lakon nekat naik ke panggung. Sebagian penonton bingung. Namun, suasana tetap cair ketika dalang itu justru mengajak Firdan berbincang.

”Dan yang jadi kenang-kenangan sampai sekarang, saya dikasih wayang Yudhistira,” kata remaja berusia 16 tahun itu.

Bila pertunjukan wayang sedang sepi, Firdan terbiasa menonton melalui putaran video. Lagi-lagi, Mbah Mujari yang membelikan beberapa CD pertunjukan wayang untuknya. Ia bisa tahan berjam-jam demi menyaksikan adegan demi adegan sampai tamat.

”Terutama Dewa Ruci, itu lakon favorit bagi saya,” tambahnya.

Selayaknya lakon wayang lain yang tak sekadar pertunjukan. Menurut Firdan, lakon Dewa Ruci memiliki pesan bermakna.

Perjalanan Werkudara mengalahkan raksasa dan naga demi bertemu Dewa Ruci menyiratkan perjalanan setiap manusia. Di mana manusia harus berjuang mengalahkan nafsunya menuju kesempurnaan hidup, mengenali jati diri dan Tuhannya.

”Lakon Dewa Ruci itu juga yang membuat saya suka dengan tokoh Werkudara. Di samping perawakannya yang gagah, Werkudara juga punya karakter yang tidak banyak omong. Semua ditunjukkan dengan tindakan,” beber anak sulung dari dua bersaudara itu.

Karena itu, dia pun mengoleksi beberapa wayang Werkudara. Termasuk buatannya sendiri. Tapi sebenarnya, wayang pertama yang dibuatnya adalah Setyaki, sekutu Pandawa dalam lakon Baratayuda.

Bagi Firdan, sebenarnya bisa saja memiliki wayang kulit yang diinginkannya. Tapi, di usianya saat itu, Firdan ingin lebih dari sekadar punya wayang. Ia ingin merasakan bagaimana kerumitan membuat wayang yang wajah, perawakan, hingga sandangannya begitu detail.

”Inspirasinya dari Ki Entus yang sering berkreasi sendiri,” jelasnya.

Bahan yang paling mudah didapat memang kertas karton. Sedangkan gapitnya, menggunakan gapit bekas wayang yang sudah rusak. Eksperimennya ketika masih kelas 6 SD itu ternyata nyandu. Firdan makin ketagihan membuat wayang dengan tokoh berbeda.

Kebanyakan wayang buatannya memiliki warna yang beragam, perawakannya ramping dengan kedua kaki yang rapat. Orang yang paham pewayangan tentu dengan mudah mengenali pakem itu.

”Rata-rata memang gaya Surakarta. Karena sejak kecil yang saya tonton memang gagrag Surakarta,” ungkap Firdan.

Belasan tahun menonton pagelaran wayang membuat remaja kelahiran 13 Januari itu tak kesulitan menghafal berbagai tokoh. Di rumahnya, memang hanya ada beberapa tokoh wayang. Seperti Dursasana, Petruk, Brotoseno, dan Kresno. Tapi hampir semua tokoh pewayangan bisa dibuatnya.

”Caranya ya ngemal wayang yang sudah jadi. Tetapi hanya untuk memperkirakan ukurannya saja. Sedangkan detailnya dikreasikan sendiri,” katanya.

Meski berbahan kertas karton, wayang buatannya tak kalah menarik dengan wayang kulit. Buktinya, banyak orang yang akhirnya memesan wayang buatan Firdan sebagai koleksi ataupun hiasan rumah. Ia mematok tarif kisaran Rp 50 ribu hingga Rp100 ribu.

Melihat peminat wayang yang mulai tinggi, Firdan juga mulai berinovasi. Di antaranya hiasan meja berupa beberapa wayang mini lengkap dengan gebernya, seolah sedang memainkan lakon tertentu. Ada juga, pensil yang bagian atasnya dihiasi dengan tokoh pewayangan.

Untuk pensil ini, dia membuatnya dengan tujuan khusus. Yaitu, agar Generasi Z seperti dirinya tertarik membeli dan pada akhirnya mengenal wayang.

”Paling tidak anak-anak seusia saya bisa suka dulu terhadap wayang,” harapnya.

Siapa tahu, pikir Firdan, ia bisa menularkan kegemarannya menonton pagelaran wayang terhadap anak muda lainnya. Karena selama ini, hampir semua penonton pagelaran wayang adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.

”Padahal kalau di pagelaran bukan hanya pertunjukan. Banyak pesan dan pelajaran bermakna dalam setiap lakon wayang,” katanya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#wayang #sman gondangwetan #pelajar