Tiga siswa SMK Negeri 2 Kota Probolinggo berhasil membawa pulang piala dari ajang Civil Creative Competition. Sebuah ajang yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema). Mereka mendesain jembatan dari kayu balsa.
INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo
KETIGA siswa itu adalah Andyana Wijayanti, 18, Ahmad Bustanul Arifin, 17, dan Ali Baba 17. Mereka bagian dari tim yang mengikuti ajang Civil Creative Competition (CCC), yang finalnya digelar Sabtu (14/10) lalu.
CCC merupakan ajang desain jembatan. Kompetisi ini mengangkat tema besar yaitu mendesain jembatan yang kokoh untuk kemajuan infrastruktur yang berkelanjutan di Indonesia. Ajang ini dibuka sejak Minggu (27/08) hingga Minggu (1/10) untuk babak pendaftaran hingga pengerjaan proposal dan video.
Andyana yang menjadi ketua mengatakan, timnya diberi nama Shamrock yang diinisiasi Ali Baba. Saat itu timnya memiliki waktu dua minggu untuk mengerjakan proposal dan video.
“Kami terus berupaya menyelesaikan project tersebut. Kami bagi tugas. Ada yang mengerjakan desain, ada juga yang bikin video dan membuat proposal meski harus direvisi berkali-kali. Alhamdulillah, di menit akhir pengumpulan, proposal dan video milik tim kami berhasil terkirim,” kata Andyana.
Desain yang disuguhkan timnya mengadopsi desain jembatan jenis Warren. Desain jembatan tersebut dibuat menggunakan kayu Balsa. Jenis kayu tersebut sebelumnya memang telah ditentukan oleh dewan juri.
Andyana menjelaskan, kayu balsa memiliki karakteristik yang mirip dengan baja. Kayu tersebut termasuk jenis kayu medium. Sifatnya ringan dan lentur, namun memiliki kekuatan tinggi. Terutama dalam menyerap goncangan dan getaran.
Desain ini membuat tim Shamrock lolos ke 10 besar. Nah, di babak berikutnya inilah desain jembatan di uji coba. Alhasil, mereka bisa tembus ke babak final yang lombanya digelar Sabtu (14/10) di Polinema.
Di babak final, tiap tim dituntut untuk dapat merakit jembatan secara langsung. Selanjutnya jembatan tersebut akan diuji beban. Barulah seluruh hasil tersebut dipresentasikan di hadapan dewan juri.
Ahmad Bustanul Arifin mengatakan, selama lomba, peserta tak diperbolehkan untuk membawa bahan kayu sendiri. Hanya diperbolehkan membawa alat potong berupa cutter, perekat, dan alat ukur berupa penggaris. Begitu juga dengan cetakan pola jembatan. Tidak diperkenankan terbuat dari desain AutoCad.
“Jadi harus pakai gambar manual dengan tangan. Untung saya mampu membuat mal tersebut hanya dalam lima menit saja. Tidak butuh waktu lama,” kata siswa yang berdomisili di Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.
Di babak final, Shamrock mampu menyelesaikan proses perakitan jembatan sesuai waktu yang ditentukan. Jembatan type Warren yang terbuat dari kayu balsa tersebut memiliki dimensi panjang 32 cm, lebar 6,9 cm, dan tinggi 10,9 cm.
“Sebenarnya ketentuan dari dewan juri untuk panjang maksimal bisa sampai 34 Cm, lebar maksimal 7 Cm, dan tinggi maksimal 12 Cm. Namun pertimbangan dari tim kami, mengapa tidak dibuat pas dengan ketentuan tersebut. Kami khawatir malah ketika dicek oleh dewan juri, ternyata lebih ukurannya. Jadi untuk amannya kami pakai ukuran pertengahan saja,” jelas Ali.
Jembatan tersebut kemudian dinamakan jembatan Pandawa Wirakarya. Pandawa diambil dari nama lima tokoh pewayangan. Sementara Wirakarya artinya hasil yang menunjukkan keunggulan dan ketangguhan.
“Sebab di desain jembatan kami itu kan menggunakan 7 batang. Sehingga dihasilkan 5 pertemuan batang yang kemudian kami adopsi menjadi nama Pandawa. Tipe Warren sendiri juga merupakan jenis jembatan yang simpel dan sederhana. Karena bentuknya simetris, dia tergolong stabil. Sehingga dia lebih efisien dan hemat bahan bila diaplikasikan. Ini sesuai dengan tema besar yang diangkat dalam lomba tersebut. Menurut kami, ini merupakan nilai unik dari desain kami,” kata Andyana.
Perjuangan Shamrock ternyata membuahkan hasil. Saat uji beban pun desain tersebut mampu menopang beban hingga 33,59 kg sebelum akhirnya patah. Alhasil tim tersebut berhasil menjadi juara 3 dalam ajang ini.
Meski begitu, hal tersebut bukan tanpa rintangan. Selain baru pertama kali, Arifin mengaku sempat kesulitan berkomunikasi dengan Andyana sebagai ketua tim. Hal ini disebabkan karena bahasa yang digunakan Arifin, mayoritas bahasa Madura. Sementara Andyana tak paham bahasa Madura.
“Padahal, saya dan Ali ini masih kali pertama ikut lomba semacam ini. Berbeda dengan ketua kami yang sudah pernah ikut lomba sebelumnya. Jadi mungkin dia lebih matang. Makanya kami perlu sering komunikasi dengan dia untuk menyamakan persepsi. Untunglah ada Ali yang bisa menterjemahkan itu. Sehingga komunikasi kami tetap bisa nyambung,” katanya sambil tertawa.
Andyana juga pada awalnya merasa canggung sebab belum pernah mengenal Ali dan Arifin sebelumya. “Tapi lama-lama, sering ketemu. Akhirnya kenal dan akrab,” katanya.
Sementara Ali juga sempat merasa minder di lokasi lomba. “Lawan kami memiliki public speaking yang bagus. Jago ngomong. Syukur kami bisa menghandle itu semua. Di lokasi lomba kami tetap berkoordinasi satu sama lain. Saling menyemangati,” katanya.
Terpisah, Ketua Jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) SMK Negeri 2 Kota Probolinggo, Soehendro mengaku bangga atas prestasi siswa-siswinya. Ia ingin prestasi tersebut bisa ditingkatkan ke depannya. “Ini merupakan langkah awal yang bagus. Tapi ke depan harus lebih baik dan lebih baik lagi. Kalau saat ini juara tiga, mungkin ke depan bisa juara satu,” katanya.
Pihaknya juga terus memupuk pengetahuan tentang desain jembatan melalui mata pelajaran di jurusan DPIB. Ia juga menjaring siswa-siswi berbakat untuk menjadi bibit baru yang dapat mengikuti ajang kompetisi lainnya. “Biasanya kami adakan lomba internal. Dari sana bisa tampak bibit bibit baru. Itu terus kami pupuk agar terus bergenerasi,” katanya. (fun)
Editor : Ronald Fernando