Sebuah kebanggaan bagi Indonesia, Tim Garuda Muda bisa berlaga di Piala Dunia U-17 sebagai tuan rumah. Kabupaten Pasuruan pun berbangga karena salah satu penggawa timnas U-17 berasal dari Kauman, Kecamatan Bangil.
Sosok pesepak bola muda itu adalah M. Hanif Ramadan, 17. Kisah Hanif bisa tembus Timnas Muda dikuak oleh keluarganya.
Iwan Andrik, Bangil, Radar Bromo
BALIHO berukuran jumbo menghiasi pintu masuk sebuah mussala yang ada di wilayah Kauman, Kecamatan Bangil.
Baliho itu sengaja disiapkan, bukan untuk pencalegan. Tapi, sebagai layar saat nonton bareng pertandingan tim nasional (timnas) muda atau timnas U-17 dalam Piala Dunia U-17.
Bahkan, baliho itu dipasang sudah sejak H-2 putaran Piala Dunia U-17.
Laga Timnas U-17 memang terasa spesial di Bangil. Khususnya di Kauman. Maklum, salah satu pemainnya merupakan remaja asal Kauman, Kecamatan Bangil. Dia adalah M. Hanif Ramadan.
“Kami jauh-jauh hari memasang baliho ini untuk layar nobar. Proyektor juga kami siapkan dengan meminjam ke kelurahan. Setiap laga timnas, kami memang menggelar nobar. Apalagi, ada adik saya (Hanif, Red) yang berlaga. Warga di sini ingin menyaksikan bersama-sama,” kata Rizki Gusman, 25, kakak Hanif Ramadan.
Rizki mengaku, sebuah kebanggaan Hanif bisa masuk Timnas U-17. Sebab, masuk timnas bukanlah perkara mudah.
Seleksi ketat harus dilalui. Bahkan, adiknya harus bersaing dengan pemain-pemain naturalisasi.
Ia masih ingat, saat masih belia, adiknya sering mendapat cibiran orang. Banyak yang pesimistis dengan perjuangan Hanif.
“Sering diremehkan waktu belum seperti sekarang. Saat latihan siang hari sendirian, adik saya kerap dicibir. Ada yang bilang, untuk apa latihan. Toh, tidak bakal jadi apa-apa. Kini Hanif bisa membuktikan ia bisa,” kisah Rizki.
Hanif sendiri memang hidup di lingkungan pecinta sepak bola.
Ayahnya, Agusman, 60, merupakan pemain sepak bola antarkampung yang kini berjualan es kristal.
Sementara, Rizki dulu pernah bermain untuk Persekabpas Pasuruan.
Perjalanan Hanif di dunia sepak bola dimulai saat ia sekolah di TK B. Ayahnya mendaftarkan putra keempatnya itu di SSB Aro Porong. Hanif pun tekun mengikuti latihan demi latihan.
Hingga saat kelas 4 SD, Hanif bergabung dengan SSB Mandiri FC Wonokoyo. Dia pun mulai mengikuti turnamen. Salah satunya, turnamen Danone di Malang.
Ketika itu, Hanif menjadi pemain inti. Ia berposisi sebagai gelandang serang.
Sayangnya, saat itu timnya tidak bisa berbuat banyak. Karena di babak delapan besar, tim SSB Mandiri FC harus tumbang.
Kegagalan itu sempat membuat Hanif kecewa. Namun, siapa sangka, penampilannya saat berlaga di kejuaraan Danone itu membuatnya dilirik SSB Bulog Surabaya. Bersama SSB Bulog Surabaya inilah, berbagai turnamen diikutinya.
Dari turnamen-turnamen tersebut, tak sedikit yang akhirnya berbuah piala. Mulai kejuaraan Putra Arisa Junior Leage di Semarang. Hingga Kompetisi Okky Splash tahun 2018 yang membuat timnya berhasil meraih juara.
Karena prestasinya itu pula, pemain yang berposisi sebagai gelandang itu akhirnya dilirik pelatih timnas, Indra Syafri. Saat itu, Hanif dipilih untuk ajang Singa Cup 2018 di Singapura.
Dalam laga tersebut, Hanif dan kawan-kawannya berhasil menyabet juara.
Mereka menumbangkan beberapa tim lawan. Antara lain tim dari negara bagian Amerika, Filipina, Malaysia, hingga tuan rumah Singapura.
Kemenangan itu membuat Hanif makin diperhitungkan. Bahkan, saat itu pihak penyelenggara menobatkannya menjadi pemain terbaik.
Yang menarik lagi, ia mencetak 10 gol dalam kompetisi Singa Cup tersebut. Sehingga, ia pun dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak.
Perjalanan karir Hanif kian menanjak ketika masuk dalam program Garuda Select.
Putra pasangan Agusman dan Rini Sulistyowati ini bisa terbang ke Inggris dan Italia untuk mengikuti pelatihan. Bahkan, baru-baru ini Hanif ikut pelatihan di Jerman.
Pada AFF di Jakarta tahun 2022, Hanif juga ikut serta. Ia bersama rekan-rekannya seperti Figo asal Probolinggo, berhasil menyabet juara pertama. “Sempat pula, adik saya mencetak gol dalam kompetisi tersebut,” tandas Rizki.
Berangkat dari situlah, adiknya masuk kandidat pemain timnas untuk Piala Dunia U-17.
Saat itu, ada 56 peserta yang masuk seleksi timnas. Termasuk di antaranya, beberapa pemain naturalisasi.
Hanya saja, tidak semua pemain akan dipilih memperkuat Piala Dunia U-17. Hanya 21 pemain yang diambil.
“Ternyata, Hanif masuk di dalamnya. Itu jelas sebuah kebanggaan bagi kami sekeluarga,” bebernya.
Karena aktivitasnya sebagai pemain sepak bola itu, Hanif jarang pulang ke rumah.
Bahkan, dalam setahun biasanya hanya sekali pulang. Meski begitu, Hanif tak pernah melupakan keluarganya di Kauman.
Khususnya, ketika akan berlaga. Ia senantiasa menelepon keluarga untuk meminta doa kepada ibu, ayah, dan keluarganya.
“Kalau mau bertanding, biasanya dia telepon minta doa,” tandas Rizky.
Sementara bagi Agusman, ayah Hanif, banyak kisah yang mengikuti perjalanan Hanif hingga berhasil menjadi pemain timnas.
Ia pun masih ingat, ketika mengantarkan anaknya itu menggunakan sepeda kayuh. Bahkan, harus menggunakan sepatu seadanya untuk mengikuti latihan dan kejuaraan.
“Sesuatu yang langka bagi kami bisa menembus timnas. Hal itulah yang membuat kami merasa sangat bangga pada Hanif,” tutur lelaki yang bekerja sebagai pedagang es kristal tersebut. (hn)
Editor : Ronald Fernando