JAKARTA –Hari Pahlawan 10 November 2023 jadi hari bersejarah. Ada enam tokoh dari berbagai daerah yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Salah satunya M Tabrani, tokoh asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Ia merupakan sosok pencetus bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Amie Primarni, putri M Tabrani mengakui, sang ayah memang sosok visioner.
Saat berusia 32 tahun, Tabrani sudah mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Alasannya adalah harus ada bahasa sendiri, tidak memakai bahasa Belanda atau bahasa Melayu.
”Ketika di Belanda mendengar pembicaraan kalau mau keren harus pakai bahasa Belanda. Kalau tidak pakai bahasa Belanda, berarti kita orang kedua, inlander. Bapak tidak mau, harus jadi orang nomor satu di negara sendiri dan mengusulkan bahasa Indonesia,” bebernya.
Usul Tabrani pada Kongres Pemuda I untuk menggunakan bahasa Indonesia diterima pada Kongres Pemuda II pada 1928.
Pria kelahiran Pamekasan, 10 Oktober 1904, tersebut dulunya pernah memimpin media Reveu Politik, Sekolah Kita, dan Harian Pemandangan.
Berbagai tempaan orang tua, keluarga, dan guru, M. Tabrani menjadi sosok penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia menjadi pribadi pembelajar, aktivis, dan jurnalis andal.
Tabrani mendedikasikan diri yang sejak remaja bercita-cita Indonesia merdeka. Bahkan, saat belum genap berusia 22 tahun sudah memiliki gagasan mempersatukan bangsa Indonesia dengan bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.
Menurut dia, dengan bahasa Indonesia itu bisa menyatukan perasaan persatuan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan Indonesia.
Gagasan itu diperjuangkan secara konsisten melalui tulisan di Hindia Baroe, hingga saat menjadi ketua Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 1926.
Setelah melalui perdebatan dengan M. Yamin, gagasan itu diterima dan diabadikan dalam butir ketiga Sumpah Pemuda.
Sebelumnya, bahasa persatuan dalam butir ketiga itu bukan bahasa Indonesia. Yamin mengusulkan bahasa Melayu.
Namun, Tabrani mempertahankan pendiriannya bahwa bahasa persatuan itu hendaknya bahasa Indonesia.
Karena perdebatan itu pula baru ditetapkan pada kongres kedua pada 1928, dua tahun kemudian.
Bahasa Indonesia mengikat penutur 718 (data 2019) bahasa daerah di Indonesia. Dengan bahasa Indonesia penutur ratusan bahasa daerah dari berbagai daerah dan budaya itu bersatu di bawah bendera Indonesia. (lyn/mia/ttg/JawaPos)
Editor : Muhammad Fahmi