Berkeinginan mengangkat potensi desa melalui kebudayaan, sejumlah pemuda dari desa-desa di Probolinggo Raya sepakat membentuk komunitas yang fokus bergerak dalam bidang kebudayaan. Maka, pada Agustus 2023, terbentuklah Komunitas Ngarang Desa. Mereka menggelar event pertama di Candi Jabung, Paiton, akhir bulan lalu.
AGUS FAIZ MUSLEH, Paiton, Radar Bromo
Jatuh pada tanggal 14 Kalender Lunar, bulan purnama malam itu mengiringi puncak gelaran festival budaya yang diadakan di Candi Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Suasana Minggu (29/10) malam itu terasa istimewa. Sebab, festival budaya itu menjadi tonggak keseriusan para pemuda di Probolinggo Raya untuk memajukan desa dari bidang kebudayaan.
Para pengunjung yang datang pun khusyuk mengikuti kegiatan ngaji budaya bersama sastrawan terkenal Indonesia, Sujiwo Tejo.
Sembari menyanyikan lagu Lir-ilir di pelataran Candi Jabung, kegiatan itu mengambil tema ‘Menakar Ekosistem Kopi.’
Komunitas Ngarang Desa sendiri bersifat independen. Murni digerakkan para pemuda yang peduli dan sadar terhadap potensi desa.
Untuk kemudian berupaya merangsang potensi desa masing-masing agar lebih memajukan pada kebudayaannya.
“Agustus lalu terbentuk oleh para pemuda yang notabenenya merupakan mahasiswa dan beberapa di antaranya influencer, pegiat kopi dan pemilik usaha lainnya,” kata Mujibur Rahman, penanggung jawab komunitas Ngarang Desa.
Komunitas itu sendiri dibentuk dengan beberapa pertimbangan matang. Bahwa melalui kebudayaan, potensi desa akan mudah diterima oleh masyarakat umum.
Ini karena beragam potensi desa memiliki sisi budaya atau tradisi yang khas di setiap desa. Baik itu ditilik dari keberadaannya, hasil produksinya, proses produksinya, dan kultur sosialnya.
“Seluruh potensi desa memiliki histori yang dapat digali kebudayaan. Melalui kebudayaan inilah kita angkat potensi desa,” lanjutnya.
Festival budaya yang digelar di Candi Jabung merupakan kegiatan pertama Komunitas Ngarang Desa. Mengangkat kopi sebagai potensi desa yang ada di Kabupaten Probolinggo.
“Kami undang sejumlah petani kopi asal Bermi dan para pegiat kopi untuk bisa berdiskusi tentang bagaimana kopi di Kabupaten Probolinggo. Sehingga, bisa memiliki nilai lebih. Dari hasil tersebut kami akan membuat jurnal tentang kopi Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Secara khusus, menurutnya, festival itu mengangkat potensi Desa Bermi, yakni kopi. Sebab, sebagian besar lahan di Bermi merupakan lahan pertanian kopi.
Sebagai narasumber utama, diundang Sujiwo Tejo. Yakni, seorang dalang, sastrawan Indonesia, penulis buku Tali Jiwo.
Sujiwo Tejo sengaja diundang untuk menggaet minat masyarakat di kegiatan pertama itu.
“Mendatangkan Mbah Sujiwo Tejo, bukan karena kebanyakan duit. Kami mulai dari nol. Semua pendanaan murni teman-teman komunitas yang mencari,” terangnya.
“Mulai dari pemerintah, sampai perusahaan swasta dan DPRD. Tidak lain untuk menggugah masyarakat agar bisa satu pemikiran membangun potensi desa melalui kebudayaan,” imbuhnya.
Membangun kesadaran menjadi satu persepsi tentu butuh perjuangan. Apalagi, para anggotanya memiliki kesibukan masing-masing.
Ada yang kuliah, bisnis, atau bekerja. Dan mereka harus rela meluangkan waktu masing-masing untuk merealisasikan program pertama ini.
Adapun tema kopi yang dipilih, menurut Mujibur Rahman, tidak asal pilih. Juga tidak hanya berpegang pada potensi kasat mata saja. Namun, dihasilkan dari riset di sebuah desa.
“Kami riset apa potensinya, kelemahan di desa yang kami cari. Dari sana lantas kami analisis, apa yang perlu diperbaiki. Kami juga mengajak dan belajar bersama masyarakat untuk mengangkat potensi desa melalui kebudayaan,” ujarnya.
Ke depan, Ngarang Desa berencana untuk menggelar program-program lain. Seperti pameran produk unggulan desa, lomba menulis cerita rakyat, workshop seni dan kerajinan, dan lain-lain.
Komunitas ini juga terbuka untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang memiliki visi dan misi sejalan.
“Kami ingin Ngarang Desa menjadi wadah bagi para pemuda desa untuk berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan desanya. Kami juga ingin Ngarang Desa menjadi jembatan bagi para pemuda desa untuk berinteraksi dan bersinergi dengan pemuda-pemuda dari daerah lain,” harapnya.
“Kami berharap Ngarang Desa bisa menjadi komunitas yang bermanfaat bagi masyarakat desa dan bangsa Indonesia,” tambahnya.
Pada setiap gelaran nanti, komunitas Ngarang Desa juga berkomitmen untuk bisa melibatkan usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di masing-masing desa.
Tentu dengan membawa kebudayaan pada setiap produk yang dimiliki oleh masyarakat desa.
“Kegiatan yang sama rencananya akan digelar selama tiga bulan sekali, dengan melibatkan masyarakat dan pemuda desa yang kami tuju,” ujarnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin