Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dari Kayu Bekas, Rifai Buat Relief Bernilai Seni, Walaupun Pakai Kayu yang Sudah Dimakan Rayap

Rizal Syatori • Rabu, 25 Oktober 2023 | 15:20 WIB

 

TIGA DIMENSI: Relief kayu karya Rifai yang masih tersimpan di rumahnya.
TIGA DIMENSI: Relief kayu karya Rifai yang masih tersimpan di rumahnya.

 

Dari kayu bekas, Rifai, 47, mampu membuat seni yang cantik. Kayu-kayu itu disulapnya menjadi relief. Bentuknya tiga dimensi dan sering dipajang di hotel-hotel maupun tempat penginapan.

 

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

 

SANTAI dan berpenampilan sederhana. Ciri khasnya selalu memakai topi dan murah senyum. Itulah gaya sehari-hari Rifai.

Saat ditemui di rumahnya di Lingkungan Tulang, Kelurahan Ledug, Prigen, suami dari Sugiarti ini seakan sudah tahu maksud kedatangan Jawa Pos Radar Bromo. Dia langsung mengajak ke bagian dalam rumahnya yang terdapat sejumlah relief kayu.

Di kampung tempat tinggalnya, Rifai memang dikenal bekerja sebagai tukang relief tebing dan taman. Vila dan hotel kerap memakai jasanya. Usaha ini sudah digelutinya lama. Sekitar 20 tahun terakhir dan masih bertahan sampai sekarang.

Selain menjadi tukang relief tebing dan taman, ternyata pria yang hanya tamatan Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini sekaligus menjadi seniman relief kayu.  “Kalau geluti dan membuat relief kayu ini tergolong baru. Kira-kira masih berjalan tiga tahun terakhir. Untuk kesibukan di rumah saat luang saja, daripada menganggur,” ucap Rifai.

Awal mula dia membuat relief kayu ini, karena iseng melihat kayu-kayu bekas di sekitar tempat tinggalnya tidak terpakai. Kayu-kayu itu bahkan banyak yang telah dimakan rayap.

Akhirnya, kayu-kayu bekas yang sudah tidak terpakai, dikumpulkan olehnya. Satu persatu kayu bekas tersebut dirangkai menjadi relief kayu.

“Saya kan sudah terbiasa buat relief tebing dan taman di vila dan hotel. Lalu coba berkreasi membuat relief kayu, yang kemudian akhirnya bisa dan jadi,” tuturnya.

Relief kayu yang ia buat, merupakan barang kerajinan belum banyak orang lain membuatnya. Biasanya memang dibuat untuk pajangan dinding atau tembok. Bisa di bangunan rumah, vila, kantor, dan hotel.

Jika melihat karya buatannya, bentuknya cukup unik sekali. Mengusung tema beragam. Mulai dari panorama pegunungan, pedesaan, pantai, dan lain sebagainya.

“Selama tiga tahun terakhir, saya sudah membuat banyak relief kayu ini. Dengan bahan baku utama dari kayu bekas. Paling suka sebagian sudah termakan rayap,” katanya.

Untuk peralatan yang digunakan, cukup dengan gergaji kayu, pahat, dan lem. Awal pembuatannya, dimulai lebih dulu mengerjakan piguranya. Setelah selesai, baru kemudian membuat relief kayunya.

Tentunya tema sesuai yang dinginkan juga berdasarkan mood-nya. Selain itu, dalam proses pembuatannya harus sabar, telaten, dan jeli

“Satu barangnya sampai dengan jadi, bisa lama pengerjaannya. Antara tiga pekan hingga satu bulan. Karena garapnya santai dan tidak terburu-buru,” ujar bapak satu orang anak yang sudah punya cucu satu itu.

Sebagai pembeda dan menjadi ciri khasnya, Rifai memilih karya kerajinan relief kayunya dibiarkan natural atau alami. Tanpa dicat maupun pelitur.

“Tanpa dicat, pelitur, maupun pernis. Atau dibiarkan natural dan original, bagi saya pribadi justru tambah terlihat bagus, asyik, serta unik,” cetusnya tersenyum.

Untuk satu barangnya yang sudah jadi, ia katakan kalau dijual harganya jutaan rupiah. Mahal atau tidaknya merupakan relatif. “Tergantung bentuk dan ukuran. Serta tingkat kesulitan saat membuatnya,” kata Pai, sapaan akrabnya.

“Di rumah, kini tersisa dua saja. Kalau ada pembeli yang tertarik, ya saya buatkan untuk tambahan penghasilan,” ucapnya. (fun)

Editor : Ronald Fernando
#pahat kayu #seni relief kayu