Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Selain Harga Rokok Kian Mahal, Ini Alasan Rokok Tingwe Kian Jadi Primadona

Inneke Agustin • Kamis, 5 Oktober 2023 | 20:05 WIB
LEBIH MURAH: Abdul Rohim, 54, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, saat melinting rokok menggunakan alat linting di rumahnya.
LEBIH MURAH: Abdul Rohim, 54, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, saat melinting rokok menggunakan alat linting di rumahnya.

Kebiasaan merokok susah dihilangkan dari masyarakat kita. Bahkan, harga rokok produksi pabrik yang makin mahal, juga tidak membuat para perokok lantas berhenti merokok. Ada yang berganti merek. Dan yang tak lekang oleh waktu yaitu merokok tingwe alias ngelinting dewe.

INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo

Merokok dengan menggunakan tembakau asli ini kerap disebut juga rokok tingwe atau ngelinting dhewe. Dulu, rokok jenis ini identik dengan warga di daerah-daerah penghasil tembakau. Termasuk para orang tua yang fanatik dengan tembakau racikan sendiri.

Namun, kini penggemar tingwe makin meluas. Warga di perkotaan pun sudah mahfum dengan rokok jenis ini. Tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak muda pun mulai banyak yang mencoba. Bahkan, beberapa toko menjual tembakau beragam jenis khusus untuk kalangan ini.

Salah satu penggemar rokok tingwe yaitu Sukarman, 55, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Awalnya, Sukarman penggemar rokok buatan pabrik atau disebutnya rokok pabrikan. Namun, lambat laun ia berganti ke tingwe.

Alasannya, karena rasa rokok pabrikan tak seperti dulu. Panas dan bikin sesak di dada. Setelah mencoba tingwe, dia merasakan lagi kekhasan tembakau seperti pada rokok-rokok pabrikan zaman dulu. Tentu saja, Sukarman pun langsung cocok. Apalagi, karena tembakau yang dibelinya untuk tingwe tidak terasa panas.

“Dari segi rasa tidak jauh berbeda dengan rokok pabrikan. Dari segi harga, jauh lebih hemat kalau pakai tingwe. Paling murah Rp 10 ribu dapat satu ons. Satu ons itu kalau dilinting bisa jadi minimal 80 batang atau lebih. Tapi kalau saya lebih suka yang jenis (tembakau) Tambeng,” jelasnya.

Bandingkan dengan harga rokok eceran yang bisa mencapai Rp 5000 untuk dua batang saja. Tak bisa dipungkiri, harga tembakau Rp 10 ribu per ons sangatlah menggiurkan.

Sukarman sendiri lebih memilih tembakau Tambeng dibandingkan tembakau racikan yang lebih murah. Tembakau Tambeng biasanya dipatok kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 120 ribu per ons, bahkan bisa lebih. Kalau beli ke petaninya langsung, 1 kg bisa jutaan rupiah.

Mahal memang. Sebab, harga tembakau juga tergantung lama masa simpan. Makin lama tembakau disimpan, makin enak rasanya. Sehingga, makin mahal harganya.

“Tambeng ini tanpa cengkih. Kalau dibakar dia keluar aroma khas, wangi,” katanya.

Tidak hanya disukai mereka yang berusia tua. Tingwe juga banyak digemari para pemuda. Contohnya, Pupus Plaras, 30, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan.

Memang belum lama Pupus merokok tingwe. Terhitung sejak pandemi Covid-19, ia mulai menggunakan tingwe. Baginya, tingwe memberi banyak kesempatan bereksplorasi tembakau dengan berbagai rasa.

“Seringnya pakai bakau kuning. Tapi, terkadang gonta-ganti, tergantung keinginan saya. Kalau pengen aroma mangga, ya beli yang beraroma mangga. Kalau ingin yang mint, ya cari yang mint. Ada banyak pilihannya dan harganya juga variatif,” tuturnya.

Tidak sekadar ikut-ikutan. Pupus sudah pernah mencoba beragam jenis rokok. Mulai rokok pabrikan, juga jenis vape dan pod. Tapi, ia tidak tahan dan malah batuk-batuk.

Pupus pun segera berhenti dan beralih ke tingwe. Dengan tingwe ini, dia malah merasa nyaman dan pas. Batuknya juga hilang. Karena itulah, Pupus memutuskan beralih ke tingwe.

Saat menggulung bakaunya, Pupus lebih suka menggunakan tangan ketimbang pakai alat gulung. Menurutnya, pakai alat gulung hasilnya terlalu kecil. Dia lebih suka isian tembakaunya banyak dan lintingan rokoknya besar. Karena kesukaannya itu, tiap bulannya ia mampu menghabiskan 2 ons tembakau iris (tis).

Walau kesannya jadul, toh Pupus bisa melakukan eksplorasi. Misalnya, ukuran tingwe bisa dibuat kecil atau besar. Rasa tingwe, juga bisa disesuaikan tergantung keinginan. Dan yang penting, harganya terjangkau alias murah. Plus batuknya sembuh.

Abdul Rohim, 54, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, juga menyukai rokok tingwe. “Kalau saya lebih suka melinting pakai tangan. Lebih cepat. Ukurannya bisa disesuaikan. Hasilnya bisa lebih besar, ketimbang pakai alat gulung,” tuturnya.

Rohim juga sempat memakai alat gulung dari kayu. Namun, hasilnya kecil. Dia juga pernah pakai alat gulung dari plastik. Tapi, licin saat dipakai menggulung. Dan akhirnya, Rohim pun menggulung pakai tangan.

“Jadi lebih enak menggulung pakai tangan. Tinggal kasih bakau, tanpa gabus biasanya. Linting, kemudian rekatkan dengan lem. Sudah jadi. Langsung dirokok,” katanya.

Terpisah, Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Probolinggo Nangkok P Pasaribu menjelaskan, kedudukan hukum tingwe tergantung peruntukannya. Tingwe diperbolehkan selama tidak diproduksi masal, dibranding, kemudian diedarkan.

“Kalau hanya untuk konsumsi pribadi di rumah, tidak masalah. Yang menjadi masalah bila tingwe ini kemudian dilinting dengan jumlah tertentu. Lalu dibungkus, diberi merek dagang, kemudian diedarkan. Ini yang tidak boleh. Sebab, sudah termasuk kategori ilegal,” jelasnya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#rokok tingwe #tembakau probolinggo