Ludrukan Kraksaan Vaganza sukses menghibur ribuan masyarakat di Alun-alun Kraksaan. Pentas Seni Budaya 2023 yang digelar Selasa (5/9) malam itu juga menampilkan lakon Djoyonegoro. Mereka yang tampil adalah para Forkopimda dan jajaran Pemkab Probolinggo.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
SEJAK pukul 19.00, para aktor Ludrukan Kraksaan Vaganza mulai mempersiapkan diri guest house Kraksaan. Mereka sudah siap dua jam sebelumnya. Ada yang mempersipakan baju busana yang hendak dipakai pada saat penampilan. Ada yang sudah siap dengan busananya namun masih mengisi stamina dengan makanan yang ada di meja prasmanan. Ada juga yang menyeruput kopi.
Para “aktor” itu tidak asing. Sebab mereka adalah pejabat Pemkab Probolinggo dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Gaya penampilan mereka, tentu saja berbeda dengan sehari-hari saat bertugas di pemerintahan maupun di instansinya masing-masing.
Malam itu, meraka memakai baju beskap yang masih mengacu pada Mataram Jawa. Ada yang menggunakan blangkon dan udeng.
“Pakaian ini merupakan pakaian pejabat pemerintahan Kraksaan tempo dulu. Keren kan,” kata Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief yang berperan menjadi Juru Pengawal Projo atau Ketua Pengawal Pejabat.
Wajah para pejabat yang biasanya bersih, malam juga berbeda. Tentu mereka memakai make up hingga kumis. Bahkan ada yang memakai hiasan alis wajah, yang membuat kesan garang. Penampilan mereka membuat sejumlah pejabat nampak senyam-senyum saat saling berpandangan.
Mata cukup tertarik saat melihat Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Santiyono. Malam itu dia menggunakan kostum preman berbaju hitam. Dengan kumis panjang dan alis menurun, penampilannya sangar. Kontan saja penampilan Santiyono jadi bahan perbincangan para pejabat yang ada di sekitarnya.
“Nah ini (Santyono,red) sebagai Buto Ireng-nya. Eh Kolo Ireng ya namanya,” kata Inspektur Inspektorat Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo, yang berperan sebagai Pangajeng Pengawas Projo.
Santiyono sendiri berperan sebagai Kolo Ireng, atau pemeran antagonis dalam lakon Djoyonegoro ini. Dia berperan sebagai preman yang menghadang para Projo atau pejabat yang berjalan untuk melaporkan hasil kinerja Projo kepada Adipati Djoyonegoro.
“Nah nanti berkelahi dengan pengawal Projo di tengah jalan. Tumbang, para Projo akhirnya melanjutkan perjalanan untuk melaporkan hasil kerja mereka kepada Adipati,” kata salah seorang pejabat sembari mengingat-ingat naskah lakonnya.
Meski jarum jam masih lama untuk giliran mereka tampil, tetapi nampak rasa gugup. Mereka mengaku masih merasa nderedeg untuk tampil. Seperti yang diungkap pengageng Dewan Projo yang di perankan oleh Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo.
“Ndredeg lah, kalau bukan untuk masyarakat Kabupaten Probolinggo, tidak berani,” katanya, sembari berjalan menuju halaman depan guest house.
Para aktor kemudian berkumpul di depan guest house, sembari mengamangati satu sama lain. “Jangan lupa naskahnya. Nanti diatas hilang semua,” kata salah seorang aktor dari kejauhan. Mereka pun berfoto bersama sebelum menuju venue di Alun-alun Kraksaan.
Usai berfoto, merekapun perlahan bergerak menuju pentas. Sembari dikawal tim pengawal Satpol PP setempat, Sekertaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto yang memimpin lakon tersebut, memberi pengarahan.
“Harus totalitas, untuk menghibur masyarakat Kabupaten Probolinggo,” kata pria yang memerankan Patih Banger.
Lakon semifiksi yang akan dibawakan para pejabat ini menceritakan tentang asal usul Probolinggo. Pemerintahan di masa Adipati Djoyonegoro. Dalam sinopsisnya di ceritakan, pada tanggal 18 April 1746 kyai Joyolelono dilantik menjadi Adipati/Bupati Banger. Dalam memen tersebut menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Probolinggo setelah memerintah selama 22 tahun.
Kemudian digantikan oleh Ki Djoyonegoro sebagai bupati ke 2 Hanger pada tahun 1768. Pada masa Djoyonegoro inilah, tepatnya pada 1770 nama Banger resmi diganti dengan nama Probolinggo yang berati sinar yang terang atau cahaya yang memancar.
Awal penampilan, tawa ribuan penonton langsung dibuat pecah. Para aktor yang pertama pertama ialah Patih Banger dan para penasihat Pengageng Projo 1 dan 2 yang dilakoni Asisten Setda 1 dan 2 yakni Heri Sulistyanto dan Hasyim Asy’ari.
Mereka menampilkan cerita sedang berada di kantor Kadipaten tempo dulu. “Mana Projo ini, kantor kok sepi,” kata Ugas kepada para penasihat Pengageng Projo.
“Saya selama tiga hari, tiga jam, tiga detik bersemedi di Gunung Bromo. Mendapat Ilham, bahwa Kadipaten Banger akan maju, melalui percepatan-percepatan prgram. Melalui Buspatas yang telah dilakukan,” katanya.
Patih Banger pun memerintahkan kepada penasihat agar para Pengageng Projo melaporkan progres tersebut. Singkat cerita, para Projo berkumpul untuk berangkat menuju kantor Kadipaten. Dalam perjalanan, merekapun dicegat oleh para preman, agar tidak dapat memenuhi permintaan Patih Banger. Perkelahian pun tak dapat dielakkan.
Juru pengawal Projo yang sakti mandraguna pun memukul mundur mereka. Dengan mengunakan jurus gelombang Kamehame seperti milik Son Goku dalam kartun Dragon ball Z, ketiga preman menghadang pulang tanpa bisa menggagalkan Projo menuju kantor Kadipaten.
Adegan berikutnya, diselingi dengan penampilan Cak Percil CS. Para penonton kembali di buat tertawa terbahak-bahak dengan tingkah jenaka Cak Percil. Dalam penampilannya, Cak Percil juga ikut masuk. Melanjutkan cerita yang sempat terputus.
Sementara para Pengageng Projo sampai di kadipaten. Merekapun melaporkan hasil program yang telah di laksanakan di Kadipaten Banger.
“Untuk Kadipaten Banger, semua maling telah kami amankan,” Kata AKBP Wisnu Wardana yang menjadi Pengageng Bhayangkari Projo Banger.
Dengan dilaporkannya keberhasilannya program Bus Patas, mulai dari pembangunan, pendikan, kemanan dan sebagainya, Adipati Djoyonegoro pun mengganti nama Banger menjadi Probolinggo. “Dengan begini, sejak saat ini, Kadipaten Banger dirubah menjadi Probolinggo,” kata Adipati Djoyonegoro I Made Yuliada, Ketua PN Kraksaan. (fun)
Editor : Ronald Fernando