Musik Daul Duk Duk makin dikenal warga Probolinggo satu dekade belakangan. Hiburan ini biasanya disajikan secara terbuka menggunakan mobil dengan personel perkusi di atasnya. Kini tak hanya musiknya yang menjadi tren musik tradisional di Kota Probolinggo. Namun, juga miniaturnya yang khas.
INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo
Adalah Husnul Hakim, 45, salah satu perajin miniatur Daul Duk Duk di Kota Probolinggo. Warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu sebenarnya seorang nelayan. Namun, sejak 14 tahun lalu, dia mulai membuat miniatur Daul Duk Duk untuk anaknya.
Inspirasinya yaitu, kelompok musik Klabang Songo. Sebuah kelompok musik Daul Duk Duk di Kota Probolinggo yang sering tampil di sejumlah kegiatan kesenian di kota.
Saat awal membuat, Husnul sebenarnya hanya ingin menuruti permintaan anaknya yang sangat menyukai Klabang Songo. Sejak saat itu, setiap tahun dia membuat miniatur serupa yang biasa disebutnya miniatur Klabang Songo. Terutama di bulan-bulan tertentu saat ada banyak pertunjukan kesenian atau keramaian. Seperti bulan Agustus.
“Semenjak Klabang Songo booming di Kota Probolinggo, saya sudah mulai membuat miniaturnya. Awalnya tidak untuk dipasarkan. Hanya untuk mainan anak saya. Anak saya senang sekali kalau dibuatkan mainan seperti ini. Dia pamerkan ke teman-temannya,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, makin banyak yang tahu keahlian Husnul membuat miniatur Klabang Songo. Hingga akhirnya, dia pun menerima order untuk membuat miniatur serupa.
Husnul sendiri mengklaim, miniatur Klabang Songo miliknya merupakan karya orisinal. Walaupun di daerah lain mungkin juga ada miniatur serupa dengan nama yang berbeda.
“Kepalanya saya desain berbentuk naga. Sedangkan barongnya saya letakkan di buritan. Saya buat bertingkat ke belakang. Ornamennya batik dan saya desain sendiri,” tuturnya.
Awalnya. Dia membuat cetakan atau mal hiasan agar simetris kanan kirinya. Idenya tidak mencontoh dari manapun. Murni idenya sendiri. Karena itu, butuh waktu lumayan lama untuk pembuatannya. Sebab, Husnul harus membuat ide yang orisinil.
Selain ide yang orisinil, membuat miniatur Klabang Songo juga harus telaten. Sebab, miniatur ini penuh dengan ukiran atau hiasan yang harus dibuat dengan detail.
Tentu saja, kesulitan selalu ada. Beberapa kali Husnul harus merombak miniatur buatannya. Sebab, tak sesuai dengan ekspektasinya. Misalnya wajah naga terlalu menunduk, kurang garang, atau tubuh naga kurang panjang. Untuk menemukan keseimbangan, Husnul rela mengubahnya hingga tiga kali sampai menemukan bentuk yang ia inginkan.
Salah satu orang yang memesan miniatur Klabang Songo ini yaitu Abdul Rohim, 54. Warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, ini masih tetangga Husnul. Karena itulah, Rohim berani memesan. Sebab, miniatur Klabang Songo buatan Husnul ini baginya tidak pernah gagal.
“Tiap hari juga saya pantau pembuatannya. Karena hitungannya masih bertetangga, sesama Mayangan. Rumah juga tidak jauh. Kalau tidak ada kepentingan atau sepulang kerja, biasanya saya ke sini,” katanya.
Rohim sendiri memesan miniatur itu untuk mengikuti lomba miniatur Klabang Songo di Mayangan. Lomba itu digelar masih dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan RI atau Agustusan.
Ide yang ia tuangkan dalam miniatur miliknya adalah naga dengan Unicorn di atasnya. Sebuah kuda bersayap.
Bahannya dari gembes (spon kapal) dengan ukuran 120x240 cm. Papan tripleks, lem, dan kawat untuk perekatnya. Miniatur ini dilengkapi roda agar bisa ditarik.
“Rodanya bisa dari roda bekas mobil-mobilan atau beli di toko mainan. Kemudian buat badannya dari tripleks. Barulah mendesain ornamen dari gembes tadi,” tuturnya.
Ornamen yang dibuat bisa dalam bentuk lembaran atau 3D seperti kepala naga. Kalau sudah terpasang semua, baru bisa ditambahkan ornamen seperti payung ala-ala Bali atau semacamnya.
“Lalu untuk catnya, digunakan cat khusus dari Tangerang. Biar warnanya lebih meriah. Lalu nanti ditambahkan mutiara dan lampu biar kelap-kelip meriah. Ada sound-nya juga. Harapan saya bisa menang lomba nantinya,” tambah Rohim.
Baik Husnul maupun Rohim mengaku tidak sabar menanti pameran Klabang Songo digelar pada 3 September nanti. Yang jelas, keduanya merasa puas karena miniatur itu murni dari ide masing-masing. Tidak meniru karya orang lain.
Tidak hanya untuk lomba atau untuk mainan. Miniatur ini juga bisa dijadikan hiasan rumah. Agar awet dan elegan, miniatur ini dapat dipajang di media kotak kaca. (hn)
Editor : Jawanto Arifin