Pelajar kelas XI MAN 1 Pasuruan, Almer Abiyu Ahmad, kembali mendulang prestasi di kancah robotik internasional. Dalam ajang International Youth Robotic Competition (IRC) tahun 2023 itu, dia meraih medali perunggu. Prestasi itu sangatlah tak mudah diraihnya. Karena ia harus bersaing dengan ratusan kontestan dari puluhan negara di dunia.
IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo
Senyuman manis mengembang dari remaja 16 tahun itu. Sapaan salam mengikuti senyuman di wajahnya. Wajar, Almer Abiyu Ahmad baru saja meraih juara dalam ajang bergengsi. Dia meraih perunggu di International Youth Robotic Competition (IRC) tahun 2023. Lomba itu digelar International Youth Robotic Association (IYRA) di Daichun, Korea Selatan, pada 3-6 Agustus 2023.
"Alhamdulillah. Meski persaingan ketat, saya masih bisa juara," ungkap dia mengawali kata.
Keberhasilannya, tak lepas dari idenya membuat sumber energi listrik dari tenaga gerak, treadmill. "Saya mengikuti kejuaraan untuk kategori kreatif dengan tema lomba, energi bersih," kata putra dari pasangan Cahyo Komari dan Sri Utami tersebut.
Almer sendiri bisa mengikuti lomba robotik internasional itu usai memenangi kejuaraan IRC ASEAN di Malaysia, Juni 2023. Keberhasilannya di Malaysia, mengantarkannya untuk menjadi salah satu peserta undangan IRC tingkat dunia di Korea Selatan.
Ia pun mempersiapkan diri. Termasuk mencari ide robot yang akan dilombakan. Semula, ia berencana membuat kendali internet jarak jauh yang bisa menghidupkan benda elektronik, seperti lampu. Konsepnya dengan memanfaatkan smartphone untuk mengendalikan lampu agar menyala atau mati.
Namun, rencana itu kemudian dibatalkannya. Lantaran dianggap sudah menjadi hal yang biasa. "Saya berpikir keras agar menemukan ide terbaik," tutur pemuda jurusan MIA itu.
Hingga akhirnya, terpikir untuk menciptakan sumber energi listrik dari tenaga gerak. Ide itu muncul seiring dengan kebutuhan listrik yang semakin tinggi. Sementara, produksi listrik banyak dihasilkan dari tenaga yang tak bisa terbarukan. Semisal, batu bara.
Remaja yang bercita-cita menjadi programer ini pun mencari ide dari mana tenaga gerak dihasilkan. Sampai akhirnya, dia mendapat ide tenaga gerak dihasilkan dari olahraga treadmill.
"Orang yang treadmill akan menghasilkan tenaga gerak. Bila dimanfaatkan, tenaga tersebut bisa diolah menjadi energi listrik. Itulah yang akhirnya terbersit dalam benak saya," sampainya.
Ide itu muncul seminggu sebelum kejuaraan dimulai. Untuk mewujudkannya, ia pun membuat prototipe, robot miniatur alat treadmill yang bisa menghasilkan listrik.
Miniatur treadmill itu dibuatnya dari bahan plastik. Kemudian disambungkan dengan kabel yang menghubungkan dengan lampu LED mini.
"Saya mendesainnya dengan berbekal ilmu dari kampung robot di Tangerang," ungkap Almer yang mengaku menjalani karantina di Tangerang selama tiga hari.
Usai karantina itu, ia pun terbang ke Korea Selatan. Ia didampingi Kepala MAN 1 Pasuruan Nasrudin dan guru pendamping robotik, M. Faisal Fadlie. Di sana ada ratusan peserta dari 20 negara lebih.
Lomba yang dilangsungkan tanggal 3 sampai 6 Agustus itu, diisi dengan praktik robotik. Sambil menunjukkan prototipe, ia mempresentasikan dan memperagakan ide robotik yang dirancangnya.
Alat treadmill mini itu digerakkannya dengan jari. Kecepatan gerakan lari jari akan memengaruhi energi listrik yang dihasilkan. Semakin cepat lari jari, akan semakin kuat cahaya yang dihasilkan.
Begitu semua selesai, ia pun tinggal menunggu pengumuman pemenang. Ia dibuat tak menyangka, ketika namanya disebutkan sebagai peraih juara ketiga.
"Ini lomba tingkat dunia. Saya benar-benar tak menyangka bisa mendapatkan juara," akunya.
Almer berharap, temuannya itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan dalam mendapatkan energi yang terbarukan.
"Ini mungkin hanya prototipe. Tapi, kami harap bisa dikembangkan lebih jauh. Misalkan dengan manfaatkan alat treadmill yang sesungguhnya dalam menghasilkan dan menyimpan energi listrik untuk kebutuhan masyarakat," katanya.
Kepala MAN 1 Pasuruan Nasrudin menilai, prestasei Almer membuktikan bahwa madrasah mampu bersaing di tingkat dunia. Ia pun berharap temuan anak didiknya bisa dimanfaatkan dalam menciptakan energi listrik yang lebih besar. Sehingga, bisa memberi dampak besar untuk masyarakat.
"Ini merupakan kejuaraan tingkat dunia. Ada puluhan negara yang berpartisipasi. Sayangnya, dukungan pemerintah daerah hampir tidak ada untuk MAN 1 Pasuruan. Padahal, prestasi yang diraih mampu mengangkat dan mengharumkan nama daerah di tingkat dunia," sampainya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin