Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kampung di Mangunharjo Ini Bikin Patung Minak Jinggo untuk Angkat Sejarah Kali Banger

Inneke Agustin • Selasa, 15 Agustus 2023 | 21:45 WIB
SEMARAK KEMERDEKAAN: Patung Minak Jinggo yang dibuat warga di Kelurahan Mangunharjo dan ditaruh di Kali Banger.
SEMARAK KEMERDEKAAN: Patung Minak Jinggo yang dibuat warga di Kelurahan Mangunharjo dan ditaruh di Kali Banger.

Kali Banger erat kaitannya dengan Kota Probolinggo. Menjadi sungai legendaris, sungai yang mengalir di Kecamatan Mayangan dan Kanigaran banyak menyimpan sejarah. Inilah yang ingin dikenalkan masyarakat di Kelurahan Mangunharjo kepada generasi penerus.

INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo

Dari segi demografis, panjang Kali Banger mencapai 6,4 kilometer. Dahulu sungai ini pernah punya peran penting karena menjadi jalur perdagangan karena dilintasi kapal. Kondisi itu berubah. Kali Banger kerap kotor dan terkesan kumuh.

Nah, di momen hari kemerdekaan sekarang, masyarakat di sekitar sungai, ingin merubah kondisi itu. Tilik saja seperti di RT 01 RW 14 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Di sekitar jalan gang dipercantik dengan ornamen-ornamen yang sengaja dibuat untuk menyemarakkan kemerdekaan republik ini.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke sana di malam hari, suasananya seperti pasar malam. Bahkan banyak spot-spot yang menarik untuk jadi background foto. Masyarakat senang karena kampungnya meriah. Kesan kumuh Kali Banger jadi hilang.

Lampu-lampu hias serta beberapa patung ini, dibuat sejak awal Agustus. Warga secara swadaya, menghias jalan perkampungan. “Dari ujung gang sampai area kali, dihias. Sekaang jadi indah,” beber Taufik Qurrohman Ketua RT 03 RW.

Di antara beberapa patung, ada satu yang menyita perhatian Jawa Pos Radar Bromo. Patung itu, kata warga, adalah tokoh dari sosok Minak Jinggo. Seorang tokoh yang punya sejarah mendalam tentang Kali Banger.

Perlu diketahui, sejarah Kali Banger berangkat dari Kerajaan Blambangan dan Kerajaan Majapahit. Kala itu Kerajaan Blambangan yang berlokasi di Banyuwangi, dipimpin oleh seorang Adipati bernama Kebo Marcuet.

Namun kehadiran Kebo Marcuet ini ternyata dinilai mengancam oleh Ratu Ayu Kencana Wungu, pemerintah Kerajaan Majapahit saat itu. Sebab Kebo Marcuet dinilai terus-terusan merongrong Majapahit.

Memang terdapat beberapa versi terkait sejarah Kali Banger. Salah satunya yang disampaikan oleh Ketua RT 01 RW 14 Kelurahan Mangunharjo, Suyadi, 71.

“Akhirnya untuk bisa menaklukkan Kebo Marcuet, Ratu Kencana Wungu membuat sayembara. Isinya, bila laki-laki akan dijadikan suami dan bila perempuan akan diangkat jadi saudara. Sayembara ini akhirnya dimenangkan oleh Jaka Umbaran. Kebo Marcuet dibuat keok dengan gadha weshi kuning (besi kuning, red). Lepas itu, Jaka Umbaran dijadikan Adipati baru di Blambangan dengan gelar Minak Jinggo,” kata Suyadi mengulas cerita.

Namun ketika Ratu Kencana Wungu tak tepati janjinya, dia menolak menikah dengan Jaka Umbaran yang saat itu tak lagi tampan akibat berperang dengan Kebo Marcuet. Jaka Umbaran terus menagih janji Kencana Wungu.

“Namun lamarannya bertepuk sebelah tangan. Minak Jinggo akhirnya murka atas penolakan itu. Ia yang awalnya mengabdi pada Kerajaan Majapahit, perlahan memberontak,” katanya.

Karena khawatir akan sikap Minak Jinggo, Ratu Kencana Wungu kembali bikin sayembara yang sama. Siapapun yang bisa mengalahkan Minak Jinggo, kalau dia seorang laki-laki akan dipersunting, sedang kalau seorang perempuan akan dijadikan saudara.

Tak ada yang berani untuk menantang Minak Jinggo, hingga muncul seorang pemuda bernama Damar Wulan. Damar Wulan merupakan pengabdi Patih Loh Gender. Ia berparas gagah berani dan tampan.

Untuk melawan Minak Jinggo, Damar Wulan harus putar otak. Dia menyusun siasat dengan mendekati kedua selir Minak Jinggo. Perawakannya yang tampan mampu meluluhkan kedua selir Minak Jinggo yaitu Dewi Wahito dan Dewi Puyengan.

Dari mereka, Damar Wulan berhasil merebut pusaka wesi kuning milik Minak Jinggo. Minak Jinggo yang kehilangan wesi kuningnya menjadi tak berdaya dan berhasil dikalahkan oleh Damar Wulan. Kepalanya di tebas dan darahnya mengalir ke sungai. Sungai inilah yang kemudian menjadi Kali Banger.

Suyadi mengatakan bahwa pemilihan ikon Minak Jinggo seluruhnya merupakan insiatif warga bersama. “Untuk tetap menggaungkan budaya dan sejarah lokal dari Kota Probolinggo,” katanya.

Demi menyampaikan sejarah ini, para warga RT 01, RT 02, RT 03 RW 14 Kelurahan Mangunharjo membuat patung Minak Jinggo. Menurut Sutikno, 64, warga RT 03 RW 14, patung tersebut dibuat untuk menghidupkan sejarah lokal yaitu asal usul Kali Banger.

“Bertepatan dengan acara Agustusan juga, kami harap masyarakat tetap bisa tahu sejarah lokal di Probolinggo. Sosok Minak Jinggo sangat erat kaitannya dengan asal usul Kali Banger. Sejarah ini jangan sampai terlupakan oleh anak cucu kita nantinya. Maka dari itu dibuatlah ikon ini,” kata pria paro baya yang juga tergabung dalam Forum Peduli Kali Banger (FPKB).

Kata Sutikno, pembuatan patung ini cukup menguras tenaga dan waktu. Sebab para warga juga harus pintar membagi waktu antara bekerja dan menyelesaikan patung ini.

“Biasanya dikerjakan malam hari. Para warga mengerjakan ini bersama-sama dengan dana yang dikumpulkan secara swadaya juga. Kompak! Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Tahun lalu juga pernah membuat, tapi yang sekarang parasnya lebih gagah dan garang mukanya,” tambahnya.

Sutikno juga bercerita tentang proses pembuatan tersebut, “Pertama dibuat rangka dari bambu dulu. Lalu dilapisi koran dan gabus. Kemudian dicat agar lebih menarik. Rambutnya kami buat dari pilinan ijuk seolah realistis. Kami pakaikan jarik juga,” katanya. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#kali banger #semarak kemerdekaan #minak jinggo