Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perkenalkan, Ini Galih Rakasiwi, Dalang Cilik yang Juga Pelajar SMPN 1 Beji

Rizal Syatori • Jumat, 11 Agustus 2023 | 17:22 WIB

 

BAKAT DARI KELUARGA: Galih Rakasiwi memegang salah satu wayang usai latihan di sekolahannya. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
BAKAT DARI KELUARGA: Galih Rakasiwi memegang salah satu wayang usai latihan di sekolahannya. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Galih Rakasiwi baru berusia 15 tahun. Namun, dia mulai mahir menjadi dalang. Sejak SD dia belajar mendalang saat anak seusianya asyik bermain. Kini, dia menjadi salah satu dalang cilik di Kabupaten Pasuruan.

 

RIZAL FAHMI SYATORI, Beji, Radar Bromo

 

SUARA gamelan terdengar dari halaman SMP Negeri 1 Beji. Hari itu, di aula kesenian sekolah tersebut, memang sedang ada latihan kerawitan. Mengiringi dalang cilik yang asyik berlatih.

Dialah Galih Rakasiwi, pelajar kelas IX di SMP Negeri 1 Beji. Anak kedua putra pasangan suami istri (pasutri) Awedi Wicaksono dan Sulastri itu berlatih dengan menggunakan baju dalang. Layaknya sedang mentas di pertunjukkan wayang kulit.

Raka–panggilannya–memang sangat menyukai kesenian kerawitan dan dalang. Saking senangnya, Raka sudah belajar mendalang sejak kelas V SD. Tentu saja itu bukan kebetulan.

Ayahnya adalah seorang pengrawit. Sementara ibunya seorang sinden yang juga guru kesenian. Tak heran, Raka sudah akrab dengan dunia kerawitan sejak kecil. Sering melihat ayah dan ibunya berlatih, akhirnya menumbuhkan rasa suka dalam dirinya pada dunia kerawitan.

“Mendalang bagi saya adalah hobi. Sejak kecil saya sudah suka dengan wayang kulit. Dan mulai belajar mendalang sejak kelas V SD,” cetus warga Dusun Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan itu.

Tidak hanya itu. Kakak kandungnya, Dimas Dwipa Surya adalah seorang dalang. Dan kakeknya, semasa hidupnya juga merupakan dalang kondang asal Gempol yaitu Ki Suleman atau dikenal dengan sebutan Mbah Leman.

Bisa dikata, Raka tumbuh dan besar dalam keluarga seniman. Khususnya kerawitan. Dan bakat itu mengalir dalam darahnya, membuatnya mencintai dunia mendalang.

“Kata ibu, sejak saya masih di kandungan sudah diajak ke acara wayang kulit. Ibu kan sinden. Dan menjadi dalang merupakan bakat sekaligus turunan dari keluarga,” tuturnya.

Untuk mengasah kemampuannya mendalang, Raka pun rutin berlatih di rumahnya. Terutama di kamarnya, minimal sepekan dua kali. Dia pun punya empat wayang kulit untuk berlatih. Masing-masing Gatot Kaca, Seno, dan dua cakil.

SUDAH BIASA: Gaya Galih saat mendalang. Dia mulai belajar mendalang sejak kelas 5 SD. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
SUDAH BIASA: Gaya Galih saat mendalang. Dia mulai belajar mendalang sejak kelas 5 SD. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Dia juga rutin latihan di sekolah bersama rekan-rekannya. Sebab, SMP Negeri 1 Beji mempunyai peralatan gamelan lengkap. Juga ada media dan beberapa wayang untuk pementasan wayang kulit.

“Latihannya secara otodidak, juga lihat-lihat kaset video dan YouTube. Untuk pengucapannya diajari ibu, juga kakak. Lama kelamaan akhirnya terbiasa dan bisa,” ungkapnya.

Raka pun tak bosan berlatih untuk terus mengasah kemampuannya. Termasuk melatih beberapa gerakan yang sampai saat ini menurutnya paling sulit dilakukan. Di antaranya, gerakan sabet atau gerakan saat adegan perang.

Dia bahkan juga bisa menjadi pengrawit. Yakni, memainkan alat jenis bonang dan kendang dengan bergabung di kerawitan sekolahnya.

Sampai saat ini, Raka sudah dua kali mentas menjadi dalang wayang kulit. Masing-masing di Prigen dan Pandaan. Dia pun mengaku tidak bosan belajar dalang atau mendalang. Meskipun di zaman modern ini, banyak anak seusianya yang belajar hal lain.

“Ini kan juga sekaligus uri-uri budoyo atau menjaga kelestarian kesenian Jawa. Biar tidak punah dan ada penerusnya,” cetusnya tersenyum.

Lalu bulan ini, rencananya Raka akan mentas pertunjukkan wayang kulit di Pandaan. Dia akan menjadi dalang diiringi kerawitan oleh rekan-rekannya.

Dia juga fokus latihan untuk mengikuti Festival Dalang Bocah Se-Jatim. Festival ini akan digelar di Gedung Cak Durasim, Surabaya, pada Agustus–September mendatang.

Selain latihan rutin, Raka juga menjaga pola makan. Sejumlah makanan menjadi pantangannya. Yakni, makanan gorengan dan pedas, juga minuman es.

“Saya ingin menekuni profesi ini. Ingin seperti Mbah Leman dan Mas Dimas,” tuturnya.

Kepala SMPN 1 Beji Yayuk Sudarwati menegaskan, Raka memang siswanya. Dan dia mempunyai bakat menjadi dalang. Sangat mungkin dia menjadi dalang profesional, jika terus giat berlatih.

Ibu dari Raka juga guru kesenian di SMPN 1 Beji. Sekaligus menjadi pengajar dan pembina kerawitan para pelajar di sekolah yang di dalamnya Raka ikut serta.

“Kami dari sekolah tentunya memfasilitasi, juga men-support penuh. Supaya bakat para pelajar bisa tersalurkan di bidang seni, termasuk kerawitan dan dalang,” ungkapnya. (hn)

Editor : Ronald Fernando
#dalang cilik #seniman pasuruan