Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pemilik John Fitness Tekuni Binaraga karena Darah Tinggi, Kini Incar PON

Fahrizal Firmani • Rabu, 2 Agustus 2023 | 01:35 WIB

 

DISIPLIN: Johan Rahman, 40, warga Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, disiplin olahraga hingga raih banyak prestasi.
DISIPLIN: Johan Rahman, 40, warga Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, disiplin olahraga hingga raih banyak prestasi.

Sakit membuat Johan Rahman, 40, jadi paham artinya sehat. Dia rutin nge-gym karena darah tinggi yang dideritanya pada 2017. Siapa sangka, aktivitas di dunia binaraga itu justru menjadi berkah baginya. Ia sering menang dalam lomba binaraga dan body contest.

FAHRIZAL FIRMANI, Leces, Radar Bromo

Pagi itu, Johan Rahman sedang mengangkat barbel. Beberapa menit saja, peluh membasahi badannya. Ia lantas membuka kaus yang dipakainya. Otot-otot di tubuhnya pun terlihat. Dia lantas melanjutkan angkat barbel.

Begitulah keseharian Johan, pemilik John Fitness di Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ia berolahraga sembari mengembangkan gym miliknya.

Namun, jangan tanya dulu dia seperti apa. Warga Desa/Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, itu tidak tertarik pada dunia gym. Hingga usia 30-an, ia tidak pernah sekalipun datang ke gym.

Lalu, pada 2017, dia tiba-tiba didiagnosis darah tinggi. Tekanan darahnya cukup tinggi, 160 – 120 mmHg (milimeter air raksa).

Karena sakitnya itu, Johan mengalami sakit kepala di bagian belakang. Hingga dia pun curhat pada seorang temannya untuk meminta saran.

Temannya lantas menyarankan Johan rutin berolahraga body building atau binaraga di gym. Tekat kuatnya untuk sembuh membuat lelaki itu antusias. Dia pun langsung nge-gym.

Selama tiga bulan pertama, ia menggunakan personal trainer dan rutin berolahraga lima kali dalam seminggu. Tiga bulan kemudian, sakit darah tingginya sembuh. Johan pun sangat bersyukur.

Bukannya berhenti karena sudah sembuh. Sejak saat itu, dia justru makin semangat menekuni olahraga tersebut.

"Setelah dinyatakan sembuh, saya tidak berhenti. Karena saya merasa olahraga ini sudah berperan dalam hidup saya. Saya menjadi tertarik membentuk tubuh," katanya.

Tidak sekadar membentuk tubuh, Johan kemudian tertantang untuk berprestasi. Pada pada 2017, dia memberanikan diri ikut ajang body contest. Yaitu, UPC Ultimate Body Contest di Balekambang, Kabupaten Malang.

Saat itu, ia masuk 10 besar di ajang grand final. Namun, belum berhasil juara. Meski demikian, Johan cukup puas. Sebab, itu merupakan kontes pertama baginya. Sementara lawan-lawannya rata-rata sudah berpengalaman ikut body contest.

Pengalaman pertama itu membuat Johan makin percaya diri menggeluti turnamen. Pada 2018, ia berhasil masuk 10 besar di kelas middle. Pada 2019, ia mengikuti ajang body contest sebanyak empat kali. Satu di antaranya menjadi juara.

"Saya juara di kelas middle. Lalu, juara 7 di Solo, juara 5 di ajang Banyuwangi Body Contest dan juara 7 di Jember Bengkel Otot," katanya.

Sayang, selama pandemi pada 2020, body contest ditiadakan. Dan baru ada turnamen pada tahun 2021. Saat itu, ia membawa pulang dua penghargaan. Juara 1 di Jember Notonegoro Sport dan juara 4 Body Battle di Solo.

Tahun berikutnya, prestasinya makin moncer. Pada 2022, ia berhasil menjuarai lima kontes yang diikutinya. Di antaranya medali perak Kejurprov Binaraga. Sementara pada 2023, ia berhasil menggondol dua penghargaan. Termasuk juara lima Binaraga Kejurnas Solo.

"Yang paling berkesan itu saat mendapat perak Kejurprov. Karena itu, murni usaha pribadi tanpa peran dari pemerintah. Tapi, nyatanya bisa menjadi juara kedua," jelas Johan.

Total saat ini lebih dari 15 penghargaan yang diperolehnya. Baik di ajang body contest, maupun binaraga. Namun, khusus di binaraga, ia hanya memperoleh dua medali.

Ia memang lebih fokus pada body contest. Alasannya lebih banyak kejuaraannya. Turnamen body contest dan binaraga sendiri memang berbeda. Body contest yang dinilai kesimetrisan antara otot dada dan perut. Saat tampil, hanya memakai celana pendek.

"Kalau binaraga itu cuma pakai celana dalam. Yang dinilai itu otot secara keseluruhan. Kalau body contest cuma perut ke atas," katanya.

Meski banyak meraih juara, hadiah yang diperoleh dari kejuaraan tidak sebanding dengan pengeluaran selama menekuni olahraga itu. Hadiah juara satu misalnya, hanya Rp 10 juta untuk satu turnamen.

Sementara persiapan yang dilakukan menghabiskan sekitar Rp 10 juta. Kadang ia hanya terima hadiah Rp 5 juta saat meraih juara dua.

"Cuma saya tetap bangga. Karena ini prestasi. Mengikuti turnamen tidak melulu uang yang dicari, tapi juga kebanggaan usai menjadi juara," tutur bapak empat anak ini.

Saat ini, Johan menargetkan bisa ikut PON. Untuk mencapainya ia konsisten berolahraga dan lebih disiplin menjaga pola makan. Yang tidak kalah pentingnya, yaitu niat dan konsistensi.

Setiap harinya, bungsu dari tiga bersaudara ini mengonsumsi 1,5 kilogram dada ayam. Dengan ditambah vitamin dan suplemen dua atau tiga kali sehari. Serta, air minum minimal lima liter, plus asupan sayur dan buah.

"Asupan protein berupa susu bisa habis Rp 900 ribu sebulan. Belum lagi vitamin sekitar Rp 100 ribu. Tidak murah untuk membentuk tubuh," tutur suami Yuni Susilowati ini. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#binaraga probolinggo