Bagi sebagian banyak orang, ikan wader merah biasanya untuk dikonsumsi karena mengandung protein hingga omega 3. Di luar negeri, ikan ini punya nilai tinggi karena kerap dijadikan ikan hias. Di Pandaan, M Sudarmaji berhasil membudi dayakan benihnya.
RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
DUNIA budi daya ikan, bagi Sudarmaji sebenarnya sudah cukup lama digeluti. Sejak 1988 lalu, dia sudah memulainya dengan lele, nila dan gurami. Hasilnya memang pasang surut. Awalnya, budi daya ini menjadi pekerjaan sampingan untuk tambahan penghasilan. Dia memanfaatkan lahan tanah persawahan miliknya, yang disulap menjadi kolam-kolam ikan.
Hingga sekitar tahun 2017, dia mengenal wader merah atau wader abang. Dia mulai belajar dengan teknik pemijahan semi buatan. Dia pun belajar selama empat tahun. Juga gencar melakukan eksperimen. Dia tertarik karena ikan ini lebih menghasilkan.
Hingga Juli 2021, ikan ini menjadi fokus utamanya. Dia pun makin mantap karena sistem Pemijahan Ikan Wader Merah Semi Buatan (PIWARAH SIBU) yang dipakainya, hasilnya lebih maksimal. Termasuk untuk omset yang didapatkan.
“Pemijahan itu sama artinya dengan perkawinan. Untuk pembenihan bibit wader merah ini, saya pakai cara semi buatan yang biasa saya sebut Piwarah Sibu,” ucap M. Sudarmaji saat ditemui di kolam budi daya benih ikan wader miliknya.
Untuk budi daya benih wader merah, sejatinya ada banyak teknik. Seperti pemijahan alami, semi buatan dan buatan. Dari ketiga teknik proses pemijahan tersebut, dia lebih pilih dan fokus dengan pemijahan semi buatan. Karena dengan pemijahan semi buatan, menghasilkan daya tetas yang tinggi. Kemudian benih yang dihasilkan lebih adaptif.
Nah, bibit inilah yang membuatnya mampu meraup cuan. Sebab Sudarmaji bisa menyediakan benih ikan lokal buat re-stocking perairan umum, dan menjaga kelestarian ikan wader merah di alam.
“Pemijahan semi buatan ini menghasilkan benih ikan wader merah tidak tergantung pada alam dan musim. Dapat dilakukan setiap waktu juga mempercepat waktu siklus pemijahan dan memperkecil tingkah kematian induk,” tuturnya.
Dia berujar, teknik ini sebenarnya tidak membutuhkan alat atau sarana dan prasarana yang terlalu banyak. Dia hanya memerlukan kolam, keramba waring, substrat, aerator, selang, serok ikan. Kemudian spuit, ember atau aquarium dan kain lap.
Bahan yang digunakan adalah indukan ikan wader merah, air, ovaprim, NaCl Fisiologis, dan minyak cengkih. Peralatan dan bahan-bahan tersebut mendapatkannya juga mudah. Bahkan tersedia di pasaran. Bisa toko, apotek maupun via online.
Dari bahan-bahan tersebut, ikan wader merah indukan disuntik hormon untuk perangsang pemijahan. Setelah disuntik hormon, indukan ditempatkan di kolam pemijahan yang di dalamnya sudah disiapkan keramba. Keramba disediakan untuk antisipasi agar ikan indukan tidak memakan telurnya.
Lalu, di kolam tersebut juga ditaruh substrat atau kotak, yang berfungsi untuk tempat peletak telur dari bahan rumput biasa. Setelah di indukan di suntik hormon, dimasukkan ke kolam pemijahan sore harinya. Menyesuaikan suhu agar turun atau rendah.
Sebelum di suntik hormon, ikan indukan lebih taruh di ember yang airnya dicampur dengan minyak cengkih. “Tujuannya agar indukan saat disuntik hormon tidak terlalu bergerak-gerak,” bebernya.
Setelah durasi 12 jam, akan terjadi pemijahan dan mulai bertelur. Kemudian setelah 16 jam atau empat jam berselang, ikan indukan diangkat dan di kembalikan lagi ke kolam penangkaran induk. “Dua belas jam kemudian, telur mulai menetas di kolam pemijahan. butuh waktu dua hari, anakan atau larva sudah terlihat berenang. Lha ini namanya larva atau bibit, yang dijual ke luar atau pembudidaya ikan wader merah, ” ujarnya.
“Bisa dikatakan dengan pemijahan semi buatan seperti ini, daya tetas dan jumlah anakan yang dihasilkan oleh ikan wader merah lebih tinggi. Ini jika dibandingkan dengan pemijahan cara alami dan buatan murni,” ungkapnya.
Apakah memerlukan kolam yang luas? Kata Sudarmaji, kolam pemijahan miliknya hanya berukuran 1x2 meter. Ini bisa diisi dengan jumlah indukan maksimal 300 ekor. Terdiri dari 100 ekor betina dan 200 ekor jantan. Dan dari 300 ekor indukan tersebut, bisa menghasilkan larva sebanyak sekitar 500.000 ekor.
Di lahan miliknya, sudah ada beberapa kolam pemijahan. Kapanpun atau setiap saat siap untuk digunakan atau dimanfaatkan untuk pemijahan. Kemudian per larva atau bibitnya dijual. “Jumlah yang kami kirim sesuai permintaan dari pembudidaya. Sehingga sebulan, omzet kotornya bisa mencapai sekitar puluhan jutarupiah,” katanya.
Sudarmaji sengaja memilih ikan wader merah. Ikan ini untuk konsumsi kuliner yang tumbuh pesat di pulau Jawa dan Bali. Rasanya enak dan renyah serta gurih, saat di konsumsi. Selain itu mempunyai keunggulan dibandingkan dengan wader jenis lainnya, yakni pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit dan lebih adaptif.
“Saya pilih fokus dan konsentrasi budi daya benih saja untuk wader merah ini. Karena keterbatasan kolam dan lahan. Selain itu, saya juga budi daya ikan hias di lahan yang sama. Jadi sama-sama jalan,” ujarnya.
Dalam menjalankan usahanya ini, sudah menjadi pekerjaan utamanya. Ia dibantu oleh tiga orang lainnya, masih saudara juga warga dari dusun yang sama. “Pelanggannya sudah ada, dari pembudidaya ikan wader merah juga. Benih saya kirim ke berbagai daerah dan kota di Jatim, Jateng hingga Jabar,” kata pria lulusan SMP tersebut.
Berkat budi daya benih wader merah, dia seringkali didapuk menjadi narasumber Piwarah Sibu. Untuk pelatihan serta diklat, yang kerap diadakan Dinas Perikanan Pemprov Jatim maupun Pemkab Pasuruan hingga sejumlah perguruan tinggi. Atas inovasi Piwarah Sibu ini, ia juga pernah juara satu lomba inovasi dan teknologi Pasuruan Maslahat 2023, dengan kategori teknologi dan nonteknologi.
“Dulu saat awal merintis atau proses berinovasi, saya aktif ikut seminar dan pelatihan di luar. Setelah berhasil seperti sekarang, gilian sekarang saya seringkali diminta menjadi narasumber. Bisa bagi ilmu dan pengalaman,” cetusnya tersenyum. (fun)
Editor : Ronald Fernando