Anjloknya harga bunga sedap malam menginspirasi Synta Sofiatul Khusnia untuk mengolahnya menjadi produk lain. Semula, dia ingin mengolah bunga sedap malam menjadi parfum. Namun, karena biaya produksi yang tinggi, dia pun memilih produk yang lebih sederhana. Yaitu, teh bunga sedap malam. Siapa sangka, kreasi ini banyak peminatnya.
IWAN ANDRIK, Rembang, Radar Bromo
Warnanya merah kehitaman. Tak ubahnya seduhan teh pada umumnya. Namun, ketika masuk lidah, rasanya berbeda. Tidak sama dengan seduhan daun teh. Melainkan hampir mirip dengan gula aren.
Bukan tanpa alasan. Teh yang dibuat oleh Synta Sofiatul Khusnia ini memang bukan dari pucuk daun teh. Melainkan, dari bunga sedap malam yang tumbuh subur di kampungnya.
“Kata ayah saya, rasanya memang mirip gula aren,” aku perempuan kelahiran 3 Mei 2001 itu.
Warga Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, memang tak lepas dari bunga sedap malam. Peraih penghargaan Young Ambassador Agriculture 2023 tersebut adalah petani milenial sedap malam. Sementara kampungnya dikenal sebagai sentra pertanian sedap malam.
“Saya mulai menekuni pertanian sedap malam sejak 2018,” ungkapnya.
Tak heran, manis pahitnya pertanian sedap malam dirasakannya. Ketika harga jualnya tinggi, ia merasakan nikmatnya menjadi petani bunga berbau wangi itu. Namun, ketika harga anjlok, ia pun merasa tak enaknya.
Untuk memanen bunga pun enggan. Maklum, biaya panen juga tidaklah murah. Sementara, bunga yang dipetik harga jualnya murah. Dijual pun kadang sulit lakunya. “Akhirnya, bunga yang sudah dipetik kerap terbuang,” tambah dia.
Kondisi itu sering dialami tidak hanya olehnya. Tapi, juga oleh petani sedap malam di kampungnya. Saat sedang bagus, harga sedap malam mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Namun, saat anjlok, hanya dihargai Rp 30 ribu untuk 10 kg atau Rp 3 ribu saja per kilogram.
Padahal, biaya produksi sedap malam tinggi. Mulai pupuk, ongkos pekerja, dan lainnya. Kondisi itu sering membuatnya sedih. Synta lantas berpikir untuk menyelamatkan pamor bunga sedap malam. Mengolahnya jadi produk lain, sehingga harganya akan meningkat. Dengan demikian, petani sedap malam tidak hanya bisa menjualnya dalam bentuk bunga segar di pasar.
Semula, ia berpikir mengolah sedap malam menjadi parfum. Sebab, bunga ini memang dikenal dengan wanginya yang sangat khas. Selain itu, selama ini banyak penelitian tentang pembuatan parfum sedap malam di sejumlah kampus. Namun, tidak pernah ditemukannya yang benar-benar merealisasikan penelitian tersebut.
Akhirnya Synta pun enggan mengikuti jejak penelitian sebelumnya. Apalagi berdasarkan pengalamannya, pembuatan parfum sedap malam membutuhkan biaya yang tak murah.
“Waktu sekolah saya pernah membuat parfum dari ekstrak bunga sedap malam. Ternyata, biayanya besar. Karena harus membeli zat kimia ditambah alat penyulingan,” tandas putri dari pasangan Yasib dan Siti Zaenab tersebut.
Dia pun berpikir keras untuk memanfaatkan bunga sedap malam lebih sederhana. Namun, banyak dibutuhkan. Ia pun menggali beragam informasi. Juga belajar tentang bunga. Hingga dia menemukan bahwa bunga sedap malam bisa diolah menjadi minuman.
Ide itu muncul setelah ia mendapati temuan bahwa bunga kamboja bisa dimanfaatkan untuk minuman. Sehingga, ia pun berpandangan sedap malam juga bisa dimanfaatkan untuk hal yang sama.
“Saya juga banyak belajar pada teman di Tulungagung. Di sana, banyak petani bunga telang. Ternyata, bunga tersebut dibuat cendol. Jadi saya berpikir, bunga sedap malam seharusnya juga bisa digunakan untuk bahan makanan atau minuman,” beber lulusan sarjana matematika di UIN Malang ini.
Ia pun mulai melakukan percobaan pada pertengahan 2022. Membuat teh dari bunga sedap malam. Ternyata, hal itu tidak semudah yang dipikirkannya. Berulang kali percobaan yang dilakukan gagal.
Pernah, warnanya tidak muncul. Pernah juga bunga yang dipetik akhirnya busuk, sehingga tidak bisa diolah. Serta, persoalan-persoalan lain yang membuatnya semakin penasaran untuk menuntaskan tantangan tersebut.
Sebulan lamanya, Synta berkali-kali mencoba. Hingga akhirnya, ia menemukan rahasia meramu bunga sedap malam menjadi minuman. Menurut Synta, bunga yang dipilih haruslah dipetik segar. Kemudian langsung dijemur selama 4 hingga 5 jam di bawah terik matahari.
Usai dijemur, bunga tersebut langsung dimasukkan toples. Hingga mengering dan baru diolah tahap berikutnya. Termasuk kemudian mengemasnya.
Synta lantas meminta sejumlah teman dan tetangganya untuk merasakan teh sedap malam buatannya. Dan hasilnya, mereka rata-rata suka. Dari situ, ia mulai memproduksi teh sedap malam. Meski tidak massal lantaran keterbatasan tenaga dan kesibukannya.
Sebulan, ia baru bisa memproduksi puluhan kemasan serbuk bunga sedap malam. Kemasan itu dihargainya cukup murah. Satu kemasan hanya Rp 8 ribu yang terdiri atas enam saset.
“Saya pernah jual tidak hanya sekitaran Pasuruan. Tetapi juga Bogor,” ungkap dia. (hn)