Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Beji Ini Raup Cuan dari Buat Miniatur Bus dari Kertas

Iwan Andrik • Rabu, 19 Juli 2023 | 00:40 WIB

 

UNIK: Rifky Ardhani Arishandy, 18, perajin miniatur paper bus saat menunjukkan kreasinya. Pesanan miniatur bus dari kertas ini terus berdatangan.
UNIK: Rifky Ardhani Arishandy, 18, perajin miniatur paper bus saat menunjukkan kreasinya. Pesanan miniatur bus dari kertas ini terus berdatangan.

Ketertarikan Rifky Ardhani Arishandy, 18, pada bus memicu kreativitasnya muncul. Ia merancang miniatur bus dari kertas. Siapa sangka, kreativitas sederhana itu justru membuat warga Mindi, Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, itu kebanjiran rupiah.

IWAN ANDRIK, Beji, Radar Bromo

Bentuknya mini. Sekilas mirip desain bus pada umumnya. Dengan bingkai plastik, membuat tampilannya tampak indah.

Bus mini itu merupakan kreasi Rifky Ardhani Arishandy. Remaja 18 tahun ini memang memiliki hobi unik. Membuat miniatur bus. Namun, bukan dari kayu atau plastik seperti kebanyakan. Melainkan dari kertas. Hobi itu sudah dilakoninya empat tahun belakangan.

“Saya sengaja membuat miniatur bus dari kertas untuk meringankan biaya produksinya,” kata Rifky saat ditemui di rumahnya.

Ketertarikannya membuat miniatur bus itu dipicu oleh kesenangannya melihat bus. Sejak kecil ia memang menggandrungi transportasi umum dengan bentuk panjang itu.

Setiap keluar kota atau mudik ke Kediri, ia selalu naik bus. Sehingga, tumbuh rasa suka pada kendaraan bus dalam benaknya.

“Saya memang menggandrungi bus sejak kecil. Setiap rekreasi atau keluar kota, saya dan teman-teman sering naik bus. Begitu juga ketika mudik ke Kediri, saya dan keluarga naik bus,” sampainya.

Rasa sukanya pun berkembang seiring waktu. Dia mulai ingin memiliki bus. Setidaknya, miniaturnya. Sehingga, bisa dipajangnya di rumah dan bisa sering-sering dilihatnya.

Dia pun berpikir untuk memiliki miniatur bus. Lalu sejak kelas 3 SMP, dia mulai belajar membuat miniatur bus secara otodidak.

“Saya belajar otodidak. Lihat video dan coba-coba,” kata remaja kelahiran 8 November 2004 tersebut.

Mulanya ia membuat bus dari kertas HVS. Dia membuat pola di komputer, lalu di-print atau dicetak. Setelah pola itu tercetak, barulah ia merakitnya.

Namun, tentu saja tidak langsung jadi. Tidak semudah yang dibayangkan. Awalnya, pola bus itu bentuknya tak presisi. Hal itu terjadi berulang kali. Bahkan, sempat membuatnya hampir menyerah. Namun, karena penasaran, ia pun terus melanjutkan.

Hingga akhirnya, miniatur bus dari kertas HVS itu jadi. Tapi, bukan berarti masalah selesai. Ternyata, miniatur tersebut gampang pesok. Bahkan, rusak ketika keciprat air. Maklum, terbuat dari kertas.

“Akhirnya saya cari alternatif kertas lain. Dari situ, barulah saya memanfaatkan art paper,” bebernya.

Art paper dipilihnya karena lebih tahan lama. Ia pun menjadi bersemangat untuk berkreasi. Beragam PO bus pun dibuatnya. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang kru bus. Di situ, ia menunjukkan kreasinya.

“Ternyata, kru bus itu berminat dengan kreasi saya. Saya pun membuatkannya,” tutur lulusan SMKN 1 Bangil ini.

Dari situ, order mulai mengalir. Ia menjual kreasinya tidak hanya dengan mendatangi PO bus atau kru bus. Tetapi, juga secara online. Alhasil, pesanan miniatur bus kertas itu terus mengalir. Tidak hanya dari Pasuruan. Tetapi, juga luar kota, seperti Tangerang.

“Saya jual secara online dengan mengirim via paket. Kadang juga COD-an,” akunya.

Satu miniatur bus dihargainya Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Tergantung besarnya ukuran. Rata-rata, satu miniatur bus buatannya memiliki ukuran 20 cm x 6 cm hingga 30 cm x 7 cm.

Lelaki yang bekerja di pabrik gitar di wilayah Beji ini mengaku, bisa membuat beberapa miniatur bus dalam sebulan. Biasanya, ia mengerjakannya saat sedang senggang. Yaitu malam hari sepulang kerja atau di waktu luang lainnya.

“Pernah juga sampai larut malam buatnya. Khususnya ketika pesanan banyak datang,” sambung dia.

Pembuatan miniatur bus dari kertas tersebut bukannya tanpa kendala. Ia pernah merasakan pengalaman tak enak. Setelah mendapat komplain dari pembelinya. Itu terjadi lantaran miniatur bus buatannya pesok saat dikirim.

“Ya, mau tidak mau harus mengganti. Itu sudah risiko. Kalau memanfaatkan kayu, biaya produksinya lebih mahal soalnya,” tandasnya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#miniatur bus