Musim haji tahun ini semestinya menjadi kebahagiaan bagi keluarga Niron Sunar Suna, 70. Pria lansia asal Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, berangkat ibadah bersama istrinya usai menanti selama tiga tahun. Namun, Niron malah dikabarkan menghilang sejak 28 Juni lalu.
FAHRIZAL FIRMANI, Sumberasih, Radar Bromo
Kekhawatiran sedang dialami oleh keluarga besar Niron. Pria yang sehari-harinya bertani ini terpisah dari rombongannya. Sudah lebih dari dua pekan ini yakni sejak Kamis (29/6), dia dikabarkan menghilang.
Tentu saja keberadaan Niron yang sampai kini belum diketahui, membuat khawatir keluarga. Meskipun Niron kondisinya sehat, dari segi usia dia terbilang lanjut usia.
Yusup putra Niron mengungkapkan, ayahnya sudah lama ingin berangkat haji. Niron mendaftar bersama istrinya, Kamsani, 68.
Namun dua kali mereka harus kecewa. Harapan bisa berangkat pada 2020 gagal terwujud karena ada pandemi Covid-19. Saat itu, Pemerintah Arab Saudi membatasi jumlah jemaah haji hanya untuk orang lokal saja demi keamanan.
Lalu, saat pemerintah Arab Saudi kembali membuka keran kuota ibadah haji pada 2022, Niron berkesempatan berangkat. Tetapi harapan berangkat ke tanah suci kembali tertunda. Karena ada kebijakan pembatasan maksimal usia 65 tahun.
“Saat ada kabar jika orang tua saya berangkat haji tahun ini, mereka sangat senang. Tiga tahun menanti, akhirnya bisa ke tanah suci,” katanya.
Niron bersama Kamsani berangkat ke tanah suci pada 16 Juni lalu dari kloter 65 Surabaya. Terakhir kali Kamsani bertemu suaminya usai melempar Jumroh pada Kamis pagi (29/6) setelah menunaikan ibadah salat subuh.
Karena tidak melihat Niron, Kamsani langsung mengabarkan keluarganya melalui sambungan telepon. Kepada Yusup, Kamsani menyebut Niron terpisah dari rombongan dan tidak terlihat sejak Kamis (28/6) pagi.
Mendengar kabar dari ibunya, Yusup langsung mencari kabar melalui Kemenag. Pihak Kemenag pun membenarkan. Di hari itu pula, petugas di Arab Saudi menemukan kartu nama Niron di wilayah Mina.
“Jujur saya panik. Apalagi penyebab ayah saya menghilang juga tidak jelas. Tidak ada yang tahu kemana perginya ayah saya,” jelas Yusup.
Yusup mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum kabar ayahnya menghilang. Namun, ia tetap berharap ayahnya bisa ditemukan dalam kondisi sehat dan bisa pulang ke rumah dengan selamat.
Menemukan ayahnya, kata Yusup, memang tidak akan mudah. Sebab, pribadi Niron ini tertutup dan cenderung pemalu. Saat bingung di suatu tempat, Niron tidak akan langsung bertanya pada orang lain. Selama ini, Kamsani istrinya yang lebih banyak bicara.
Selain itu, Niron tidak membawa alat komunikasi. Ia pernah menawarkan untuk membelikan handphone kepadanya. Namun Niron menolak. Alasannya, ia tidak cocok dengan handphone. Sehingga, yang punya handphone hanya ibunya.
“Ayah saya ini pemalu. Kalau bepergian, ibu saya yang selalu membantu. Dia juga tidak mau diberi handphone,” tutur Yusup.
Pria yang menjadi Kades Muneng Kidul ini menuturkan, dia masih yakin ayahnya bisa ditemukan. Selama belum ada kabar tentang kondisi ayahnya, maka kemungkinan besar ia masih hidup.
“Insyaallah, ayah saya masih hidup. Kami masih menjalin komunikasi dengan kemenag. Saya juga terus menghubungi ibu saya terkait kabar di sana,” terangnya.
Namun Selasa (11/7) malam, pihak keluarga mendapat kabar bahwa Niron sudah meninggal dunia. Mulai tadi malam, keluarga sudah menggelar tahlilan di rumah.
Yusup mengaku sangat berduka. Apalagi, disana istri Niron sendirian. Tidak ada yang menemani. Tapi keluarga harus berusaha tabah dan sabar karena ini semua sudah menjadi kehendak yang kuasa. "Saya jadi kepikiran dengan ibu saya. Ibu saya di sana sendiri," tutur Yusup. (fun)
Editor : Ronald Fernando