------------------------------------------------------------------------------------------------------
IWAN ANDRIK, Pandaan, Radar Bromo
------------------------------------------------------------------------------------------------------
SENYUMNYA memang lembut. Tawanya tampak riang. Namun semua itu akan berubah, ketika di lapangan pertandingan. Wajahnya yang tampak imut, akan berubah menjadi garang.
Terbukti dengan sederet prestasi yang ditorehkan. Atlet Porprov Shorinji Kempo Kabupaten Pasuruan tersebut, telah menyabet seabrek prestasi cemerlang. Tidak hanya level daerah atau regional. Tetapi juga nasional.
Ia pernah menyabet emas dalam Kejurprov Kediri tahun 2021 lalu di kategori Randori Putri (fight, red) untuk kelas 50 kg. Ia juga pernah menyabet emas dalam ajang Porprov Jatim 2022 untuk embu beregu putri dan seabrek prestasi lainnya. Serta pernah meraih medali emas dalam kejuaraan nasional, Piala Walikota Surakarta, September 2022 kemarin.
Sosok penuh prestasi itu, adalah Amanda Aisyah Ramadhanni. Gadis 18 tahun tersebut, memang seorang atlet Shorinji Kempo. Sudah empat tahun terakhir, ia menekuni bela diri Shorinji Kempo.
“Saya tertarik dengan Shorinji Kempo setelah bertemu dengan Silvana Amini, pelatih saya saat ini pada 2019 silam,” kata Amanda.
Ia bercerita, sejak kecil ia sudah tak asing dengan dunia bela diri. Sebelum menggeluti bela diri asal Jepang tersebut, sebetulnya ia sudah mencoba-coba untuk belajar seni bela diri yang lain.
Saat masih kelas 1 SD, ia sudah belajar pencak silat, Tapak Suci. Namun, tak lama. Hanya beberapa bulan, ia memilih berhenti. Maklum, saat itu, ia hanya ingin bermain-main saja.
Hingga vakum lama. Sampai ia masuk SMP Maarif NU Pandaan. Barulah ia kembali menerjuni dunia bela diri. Tapi, bukan silat. Melainkan taekwondo. “Kebetulan, ayah saya yang minta. Soalnya, ada baju kakak saya yang nganggur. Akhirnya saya diminta untuk ikut ekstrakulikuler taekwondo di sekolah,” ungkap putri dari pasangan Suyadi dan Khuridatul Islamiyah tersebut.
Gadis kelahiran 17 Oktober 2004 ini mengaku, sempat tak tertarik untuk ikut ekstrakulikuler taekwondo. Karena yang diincarnya, adalah ekstrakulikuler Bahasa Jepang. Namun, karena ayahnya terus memaksa, akhirnya ia pun menurutinya.
Hingga dua tahun kemudian. Ia diminta untuk ikut eksebisi kick boxing oleh salah satu pelatihnya. Kebetulan, Kabupaten Pasuruan masuk eksibisi Porprov untuk kejuaraan kick boxing pada 2019 lalu.
Kesempatan itupun tak disia-siakannya. Dengan ikut kompetisi, ia berpeluang menorehkan prestasi juara. “Saya akhirnya kepincut. Hasilnya, di luar dugaan,” ungkap lulusan SMAN 1 Pandaan tersebut.
Karena dalam laga tersebut, ia berhasil menyabet juara pertama. Meski saat laga, ia dibuat sesak dada oleh lawannya. Karena diserang terus mengenai kepala. Hingga mengenai hidung dan membuatnya sulit nafas.
Keberhasilan tersebut, membuatnya semangat untuk belajar lebih dengan dunia bela diri. Hingga akhir 2019 kemudian, ia memutuskan untuk berpindah cabor. Ia memilih shorinji kempo. Setelah mengetahui, kalau pelatihnya, Silvana Amini yang merupakan pelatih shorinji kempo.
Amanda mengaku sempat dibuat bingung. Dengan bela diri yang pernah ditekuninya, tentu akan mempengaruhi gayanya. Sang pelatih menilai gaya Amanda berbeda-beda.
“Gerakan kempo dengan taekwondo kan berbeda. Sempat bingung juga. Tapi, saya berusaha untuk melatih kemampuan agar bisa menguasainya,” sambung remaja yang kini masuk Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra ini.
Ia berlatih keras. Baik di rumah ataupun di tempat latihan bersama. Maklum, tahun 2020 pandemi melanda. Sehingga, banyak aktivitas yang dilakukan di rumah. Termasuk belajar seni bela diri tersebut.
Barulah tahun 2021. Ia mengikuti kejuaraan tingkat provinsi, Kejurprov di Kediri. Ia mengikuti dua kompetisi. Randori putri atau kategori fight untuk kelas 50 kilogram dan juga embu beregu putri atau seni.
Hasilnya, ia membawa pulang dua medali. Satu emas untuk bertarung dan satu perunggu untuk embu beregu. Motivasinya semakin menanjak, ketika ia masuk puslatcab shorinji kempo Kabupaten Pasuruan untuk Porprov Jatim 2022 kemarin. Kesempatan itu, tak disia-siakannya untuk meraih hasil maksimal.
Hasilnya, tiga medali berhasil disumbangkannya. Satu emas untuk embu beregu putri, satu perak untuk beregu campuran dan perunggu untuk randori atau kelas fight putri. Prestasi itu, tak mudah bisa diraihnya. Apalagi, ia sempat kena pukul hingga membuat bibirnya berdarah saat di Porprov Jember tersebut.
“Saya sempat nangis pascapertandingan. Tapi, bukan karena sakit di bibir. Bukan karena luka. Melainkan, karena gagal membawa emas pulang,” tandasnya.
Rasa kecewa itu, akhirnya ia balas saat berlaga di Kejurnas Piala Bergilir Wali Kota Surakarta. Ia berhasil menumbangkan lawan-lawannya untuk kategori randori putri remaja di kelas 50 kg. Hasilnya, ia pun membawa pulang medali emas.
Kini, gadis berhijab ini, sedang fokus untuk menyongsong laga Porprov Jatim 2023 di Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo, yang direncanakan September. “Saya latihan intens. Target saya, bisa meraih emas,” akunya menggebu-gebu. (fun) Editor : Ronald Fernando