Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pandai Besi di Puspo yang Pertahankan Pembuatan Sajam dengan Cara Tradisional

Jawanto Arifin • Senin, 19 Juni 2023 | 19:32 WIB
RATUSAN TAHUN: Muhammad Jufri dan putranya, Junaedi, 37, saat membuat gaman atau sajam. Pembuatan dilakukan dengan cara yang sama selama 200 tahun terakhir. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
RATUSAN TAHUN: Muhammad Jufri dan putranya, Junaedi, 37, saat membuat gaman atau sajam. Pembuatan dilakukan dengan cara yang sama selama 200 tahun terakhir. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
Pembuatan senjata tajam (sajam) saat ini bukan lagi hal sulit. Teknologi membuat pengerjaannya jauh lebih mudah. Toh, keluarga Muhammad Jufri memilih tetap membuat sajam atau mereka sebut gaman dengan cara tradisional. Menjadi generasi kelima, Jufri meneruskan cara tradisional itu bertahan selama 200 tahun terakhir.

MUKHAMAD ROSYIDI, Puspo, Radar Bromo

Desa Kemiri di Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, merupakan sebuah desa yang ada di kaki Gunung Bromo. Suasananya nyaman dan udaranya sejuk. Bahkan, walau waktu menunjukkan pukul 11.02.

Di sanalah, tempat keluarga Muhammad Jufri tinggal. Di sana pula, usaha pandai besi warisan keluarganya berdiri. Tepatnya di depan masjid desa itu, di sebuah bangunan mirip pendapa.

Siang itu, Jufri dan anaknya, Junaedi, 37, sedang mengerjakan pesanan pisau. Beberapa kali percikan api terlihat ketika palu dihantamkan oleh Jufri.

Semenara Junaedi seperti sedang memainkan kayu, ke atas dan ke bawah. Saat hal itu dilakukan, api yang ada di depannya semakin menyala seperti ditiup.

Itulah proses pembuatan pusaka yang dilakukan keduanya. Aneka macam pusaka mereka buat. Mulai dari pisau, celurit, hingga pedang.

"Ini warisan. Hanya saya yang meneruskan di keluarga saya," terang Jufri sembari membuat pusaka yang disebut gaman oleh orang sekitar.

Photo
Photo
GENERASI KELIMA: Pandai besi di Puspo memilih cara tradisional untuk melestarikan warisan keluarga. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)



Jufri adalah generasi kelima dari para pendahulunya. Jika ditotal, ada sekitar 200 tahun lebih pembuatan pusaka itu dilakukan oleh keluarganya. Jufri sendiri adalah anak pertama dari empat bersaudara. Dan hanya dia yang meneruskan warisan pandai besi itu.

"Warisan ini jatuh ke saya. Adik-adik saya ada warisan yang lain," ungkapnya.

Hari itu, Jufri dan Junaedi sedang membuat pusaka jenis pisau. Ayah dan anak itu tampak kompak. Junaedi, bertugas membuat api tetap menyala dengan cara memompa udara. Sedangkan, Jufri bertugas memanaskan besi yang bakal dijadikan pisau.

Setelah besi memerah, lantas besi dipindah ke tempat penempaan. Dengan cekatan, besi ditempa. Caranya, palu dipukulkan ke besi sehingga menimbulkan percikan api. Begitu terus hingga sedikit demi sedikit, besi mulai membentuk pisau.

"Ini sudah hampir jadi. Nanti terus dilakukan pengikiran. Agar lebih halus," kata Jufri.

Tugas pengikiran dilanjutkan oleh Junaedi. Ia terus saja melakukan pengikiran hingga pinggirannya halus. Kemudian, dilanjut dengan satu pembakaran terakhir.

"Ini nanti akan ada capnya. Tapi, untuk pengecapan menunggu hari baik," kata Junedi menuturkan.

Pembuatan gaman sendiri tidak sembarangan. Dalam sebulan hanya ada tiga hari. Yakni, Senin Pahing, Jumat Pon, dan Jumat Kliwon. Ini sesuai dengan warisan kakeknya dulu.



"Ya, begitu memang aturannya. Dari dulu ya begitu. Saya meneruskan saja," jelasnya.

Bukan hanya pusaka berbentuk senjata tajam (sajam) saja yang dibuat. Ada beberapa berbentuk liontin dan mata cincin. Karena peminatnya memang berbeda-beda.

"Banyak yang beli. Dalam negeri, maupun luar negeri. Kalau luar negeri Malaysia, Singapura, bahkan Arab Saudi ada yang beli," ungkapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pandai besi tradisional #pandai besi