MUHAMAD BUSTHOMI, Pohjentrek, Radar Bromo
Getaran suara mekanis terdengar dari sebuah gudang kecil. Seorang pria baru saja menyalakan mesin bordir. Beberapa perempuan kembali menginjaki pedal mesin jahit selepas istirahat siang. Puluhan peci yang rampung diproduksi dalam setengah hari itu mulai dikemasi.
Bambang Hariyanto tampak mendedel benang yang jahitannya keliru. Sesekali, ia memang terlibat di tengah kesibukan karyawannya. Apalagi, ketika pesanan peci tengah ramai seperti saat ini. Dia harus lebih detail mengawasi pesanan.
Bambang sendiri sudah cukup akrab dengan urusan jahit-menjahit. Bahkan, jauh sebelum mempekerjakan karyawan, lelaki itu memproduksi peci dengan kelihaian tangannya sendiri.
“Tidak ada keahlian khusus, otodidak saja. Semua hal bisa dipelajari kalau kita punya kemauan,” kata Bambang ditemui di gudang produksinya di Desa Sungi Wetan, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (10/6).
Awalnya, kemauan Bambang terjun dalam usaha kerajinan peci itu sedikit dipaksa keadaan. Dulu, ia seorang karyawan pabrik furnitur. Suatu hari ia harus meninggalkan pekerjaannya lantaran di-PHK.
Maka mau tak mau, Bambang harus mencari cara agar tetap memiliki penghasilan. Apalagi, situasinya saat itu cukup mendesak. Bambang hendak mempersunting istrinya.
“Makanya saya harus mutar otak agar tetap punya penghasilan. Kalau tidak, mau dikasih makan apa istri saya nanti?” katanya.
Berbagai pekerjaan pun ia lakoni. Termasuk menjadi sales. Memasarkan produk orang itu, ternyata gampang-gampang susah. Untungnya pun tak seberapa. Tetapi, itulah yang kemudian membuka jalannya menjadi seorang pengusaha seperti sekarang.
Pengalamannya memasarkan produk ke berbagai daerah membuatnya lebih paham segmen-segmen pasar. Tak terkecuali, peluang pasar peci yang permintaannya cukup menjanjikan.
Penutup kepala yang satu ini memang sangat populer. Terutama di kalangan santri. Hampir setiap lelaki memilikinya. Penggunaannya tidak hanya pada acara-acara resmi ataupun mengaji. Tetapi, juga bisa dipakai saat beraktivitas sehari-hari.
“Saat itu saya melihat peluang pasarnya cukup bagus,” katanya mengisahkan analisisnya saat itu.
Bambang lalu berhenti jadi sales. Ia nekat memproduksi peci. Keterbatasan alat tak membuatnya gamang. Semuanya dilakukan dengan cara manual. Mulai memotong kain dan lapisan dalam, hingga menjahitnya. Kadang kala, Bambang menjahitkan peci-peci pesanan orang ke temannya yang juga menjahit.
“Karena saat awal merintis, saya tidak punya mesin jahit. Jadi kadang saya menjahitkan ke teman,” ujarnya.
Peci-peci buatan Bambang awalnya hanya model songkok. Namun, dia terus mengikuti perkembangan pasar. Permintaan yang paling banyak adalah jenis peci kalbut. Pesanannya nyaris tak pernah berhenti. Bahkan, ketika sudah mempekerjakan beberapa karyawan seperti sekarang.
“Pasar kalbut memang tak pernah mati. Apalagi kalau musim haji begini,” katanya.
Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 60 hingga 100 kodi. Harganya pun beragam. Kisaran Rp 7 ribu hingga Rp 16 ribu. Yang menarik, semua peci buatan Bambang bersifat tahan air.
“Sebab, lapisan dalamnya pakai mika dan talang air. Jadi tidak hancur saat dicuci. Beda dengan songkok yang umumnya pakai kertas,” bebernya.
Bahkan, cara itu diterapkan untuk semua jenis peci yang diproduksinya. Mulai jenis asagofah, kalbut, songkok, hingga model Malaysia. Tetapi, Bambang juga tidak sepenuhnya menuruti permintaan pasar. Ia punya keyakinan jika pasar juga bisa diciptakan.
Itulah sebabnya, ia beberapa kali membuat peci yang cukup unik. Salah satunya, peci goni. Yang identik adalah kain yang dipakai untuk lapisan terluar. Sangat identik dengan tekstur kain goni yang cenderung kasar.
“Tapi bukan goni beneran. Kain ini biasanya dipakai untuk bahan sofa,” kata Bambang yang juga aktif di Himpunan Asosiasi (HIAS) UKM-IKM Kabupten Pasuruan ini.
Belum lama ia memproduksi kain goni itu. Tepatnya sebelum Ramadan lalu. Gayung bersambut. Repons pasar cukup bagus. Pesanan peci goni pernah tembus ratusan kodi. Pasarnya bahkan sampai ke Banten, Batam, hingga Aceh.
Bahkan, di antara peci-peci lain, peci goni itulah yang menyita perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Saat itu dia menghadiri Workshop Peningkatan Inovasi dan Kewirausahaan Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) di Pendapa Kabupaten Pasuruan, pertengahan April lalu.
Tidak hanya tertarik. Sandi langsung mengenakan peci buatannya kala itu. Tentu saja, Bambang cukup bangga karenanya.
“Bahkan, pernah ada orang yang mau beli peci sambil menunjukkan foto Pak Sandi. Dia lantas minta pada saya agar dibuat peci seperti yang dipakai Pak Sandi. Setelah tahu bahwa itu peci buatan saya, orang itu jadi kaget,” kata Bambang. (hn) Editor : Jawanto Arifin