FAHRIZAL FIRMANI, Probolinggo, Radar Bromo
Mustakim sedang membuat gambar di atas kayu menggunakan pensil. Tak lama, kayu itu dipotong. Dengan telaten, ia mengikuti arah gambar yang sudah dibuatnya. Tak berapa lama, kayu itu menjadi bentuk menyerupai gantungan baju.
Itulah keseharian Mustakim di Lapas IIB Probolinggo. Saat jam istirahat bakda duhur, warga binaan (WB) ini membuat sangkar burung. Ia memanfaatkan kayu dan bambu yang tidak terpakai di lapas.
Aktivitasnya itu sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan. Pihak lapas mengetahui bahwa dia adalah seorang tukang. Ia pun ditanya apa bisa membuat sangkar burung.
Mustakim tentu saja langsung mengiyakan. Kebetulan dirinya memang sering membuat sangkar burung di rumahnya saat ada permintaan. Meski tidak terlalu sering, namun membuat sangkar burung tidaklah sulit baginya.
“Saat belum di lapas, saya sering diminta tetangga membuat sangkar burung. Ada saja setiap bulan yang pesan sangkar burung. Cuma pekerjaan utama waktu itu tetap sebagai tukang,” katanya.
Bagi Mustakim, membuat sangkar burung tidaklah sulit. Hanya perlu telaten. Satu meter bambu bisa dibuat menjadi sangkar burung berukuran tinggi 65 sentimeter dan lebar 40 sentimeter. Ini sangkar burung ukuran besar.
Untuk membuatnya, dia dibantu oleh WB lainnya. Yaitu, Babun, 37, warga Desa Malasan Wetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo. Proses pembuatan sangkar burung berukuran besar ini sekitar tiga hari.
Ia membuat desain sangkar burung, memotong, hingga memaku bagian rangkanya. Sementara Babun memasang lidi untuk ventilasi sangkar burung dan mengelas.
“Selama ini, pengerjaannya dibantu satu orang saja. Paling lama tiga hari untuk ukuran besar. Kalau ukuran kecil bisa lebih cepat. Yang paling lama itu memaku rangkanya,” jelas Mustakim.
Pria yang menjadi narapidana karena kasus asusila ini menyebut, harga sangkar burung yang dibuatnya bergantung pada ukuran. Untuk ukuran besar dijual Rp 200 ribu. Sedangkan ukuran sedang Rp 150 ribu. Adapun desain sangkar burung tidak memengaruhi harga.
Namun, jika menggunakan bahan fiber untuk bagian lidinya, maka akan lebih mahal. Sebab, kualitas bahannya lebih bagus dan lebih awet. Untuk ukuran besar bisa sampai Rp 250 ribu. Sedangkan ukuran sedang Rp 200 ribu.
Menurutnya, selama ini tantangan terbesar dalam pembuatan sangkar burung adalah kreativitas modelnya. Ia harus membuat model sebagus mungkin agar pembeli tertarik.
Terbukti, saat ini banyak keluarga WB yang membeli hasil buatannya. Sehingga, membuat Mustakim makin bersemangat membuat sangkar burung.
“Alhamdulillah banyak yang suka. Ini jadi motivasi bagi saya untuk terus membuat karya dengan desain yang lebih menarik. Sehingga, akan semakin banyak yang tertarik membeli,” tuturnya.
Kalapas IIB Probolinggo Risman Soemantri menerangkan, pembuatan sangkar burung sengaja dipilih pihaknya. Sebab, permintaan sangkar burung di Probolinggo cukup banyak.
Selain itu, pihaknya juga lebih dulu mengecek latar belakang WB. Kebetulan, Mustakim adalah seorang tukang. Sehingga, kemudian diputuskan untuk membuat sangkar burung.
“Kami berharap setelah menjalani masa pidananya, Mustakim bisa memanfaatkan skill-nya untuk berkarya lebih baik lagi. Sebab, kerajinan sangkar burung buatannya cukup diminati,” terang Risman. (hn) Editor : Jawanto Arifin