Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ki Erwin Guno, Guru yang Sudah 32 Tahun Jadi Dalang

Jawanto Arifin • Kamis, 18 Mei 2023 | 20:11 WIB
JAGA BUDAYA: Ki Erwin Guno saat hendak manggung. (Dok. Pribadi)
JAGA BUDAYA: Ki Erwin Guno saat hendak manggung. (Dok. Pribadi)
Mendalang sejak remaja selama 32 tahun, tidak membuat Ki Erwin Guno Asmoro, 47, merasa lelah. Dia percaya, dirinya adalah salah satu pewaris kebudayaan leluhur. Karena itu, harus terus melestarikan seni pedalangan tersebut.

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, dikenal memiliki sejumlah dalang wayang kulit yang cukup ternama. Mulai di Desa Dayurejo, Desa Watuagung, juga Kelurahan Ledug.

Selain dari tiga daerah itu, Pesanggrahan juga memiliki seorang dalang wayang kulit cukup ternama. Dia adalah Erwin Supriyanto atau lebih dikenal dengan sebutan Ki Erwin Guno Asmoro, 47.

Lelaki yang masih membujang itu sehari-harinya adalah seorang guru di SMPN 1 Bangil. Dia mengajar ekstrakurikuler seni budaya. Di luar aktivitasnya mengajar, Ki Erwin yang tinggal di Lingkungan Pesanggrahan Gang 77, Kelurahan/Kecamatan Prigen, lebih banyak menjadi dalang.

Alumni Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang kini menjadi SMKN 12 Surabaya itu memang tertarik menjadi dalang sejak kecil. Apalagi, dia memang mempunyai bakat.

Karena itu, begitu lulus SMP, dia mantap melanjutkan sekolah di SMKI Surabaya. Dari sana, dia melanjutkan ke D-1 PPPG di Jogjakarta.

Selepas menuntut ilmu secara formal, dia mengasah kemampuannya mendalang dengan nyantrik ke sejumlah dalang sepuh. Tidak hanya dari Pasuruan, tapi juga dari luar Pasuruan.



Tujuannya tidak lain mematangkan ilmu yang didapat di lingkungan formal. Kemudian, menyandingkannya dengan tradisi dan pakem yang disampaikan secara turun temurun dari para dalang sepuh pada penerusnya.

Di antaranya almarhum Ki Panut Dharmoko dari Nganjuk, Almarhum Ki Suwandi dari Jombang, Ki Suparno Hadi dari Gresik. Kemudian, Almarhum Ki Supangkat dari Pandaan.

“Jadi selain memang ada bakat, saya bisa mendalang karena sekolah pedalangan di SMKI. Setelah itu, nyantrik ke dalang sepuh,” beber anak pertama dari sembilan bersaudara, putra almarhum Kasmanu dan Supinah ini.

Ki Erwin mendapat kesempatan mendalang pertama pada 1995 di kegiatan sedekah bumi Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen. Saat itu, ia bahkan belum lulus. Masih bersekolah di SMKI Surabaya.

Setelah tuntas nyantrik, Ki Erwin menekuni dalang jagrak Jawa Timuran. Dia juga menguasai banyak lakon atau cerita pewayangan. Sehingga, saat mentas sudah siap sesuai permintaan yang nanggap.

Seperti lakon Semar Nagih Janji, Semar Mbangun Khayangan, Wahyu Cakraningrat, Padhawa Tani, Wahyu Lumbung Selayur, dan masih banyak lainnya.

“Untuk pementasan dalang wayang kulit, selama ini lebih banyak acara hajatan, selamatan atau sedekah desa, dan event-event kebudayaan lainnya. Di antaranya di sekitaran Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, Gresik, dan Lamongan,” ucapnya.



Selama menjadi dalang, Ki Erwin pun berusaha selalu menjaga dan bertanggung jawab atas nilai-nilai adiluhung dalam budaya pedalangan. Apalagi, seni pedalangan sebagai masterpiece warisan budaya agung leluhur bangsa Indonesia yang sudah diakui dunia atau UNESCO.

“Saat mau tampil atau mentas, ada ritual khusus. Lalu, selama mendalang saya tidak meninggalkan angger-angger pedalangan. Tetap mempertahankan pakem yang ada,” tuturnya.

Dengan cara itu, Ki Erwin terus eksis menjadi dalang. Sejak usia 15 hingga 32 tahun kemudian. Selain juga karena dukungan orang tua dan teman-temannya, Ki Erwin menjadikan beberapa dalang sebagai panutannya. Walaupun, semua idolanya itu kini sudah meninggal.

Di antaranya, Almarhum Ki Suwoto Ghozali dari Surabaya, Almarhum Ki Supangkat. Lalu, Almarhum Ki Panut Dharmoko, dan Almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno.

“Saya akan terus menggeluti pedalangan sebagai pewaris kebudayaan leluhur. Ini adalah cara untuk terus melestarikan seni pedalangan ini,” cetusnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kesenian indonesia