Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

AKBP Makung Ismoyo Jati, Anak Kolong Daftar Akpol untuk Ringankan Beban Ortu

Ronald Fernando • Rabu, 17 Mei 2023 | 17:17 WIB
PEJABAT BARU: AKBP Makung Ismoyo Jati bersama Wakapolresta Kompol Heri Dian Wahono saat silaturahmi ke Balai Wartawan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
PEJABAT BARU: AKBP Makung Ismoyo Jati bersama Wakapolresta Kompol Heri Dian Wahono saat silaturahmi ke Balai Wartawan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
Tongkat komando Polres Pasuruan Kota kini dipegang AKBP Makung Ismoyo Jati. Berasal dari keluarga militer, Makung punya alasan mengapa dia menjadi bagian dari Korps Bhayangkara.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

MUKHAMAD ROSYIDI, Pasuruan, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SUARA azan berkumandang di sekitar markas Polres Pasuruan Kota di Jalan Gajah Mada. Sejumlah personel keluar untuk melakukan zalat zuhur. Sebagian lagi ada yang standby menjaga markas.

Setelah selesai menunaikan ibadah, seorang polisi berpostur tinggi keluar dari pintu masjid didampingi seorang pria berbaju putih dan bercelana krem. Dia langsung ramah menyapa.

"Bagaimana Mas, ayo duduk disini saja ngobrol santai, " kata pria yang tak lain adalah Kapolres Pasuruan Kota yang baru AKBP Makung Ismoyo Jati.

Senyum menghampiri wajahnya saat Jawa Pos Radar Bromo bertemu Selasa (16/5) siang itu. Sebelum memulai pembicaraan, Makung mengaku baru selesai keliling memperkenalkan diri kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama yang ada di Kota Pasuruan. Termasuk silaturahmi ke instansi pemerintah dan vertikal lainnya.

"Baru selesai keliling. Untuk yang kabupaten belum. Maklum, baru menjabat semingguan," katanya.

Photo
Photo
SAAT BARU DATANG: Upacara pedang pora saat menyambur AKBP Makung Ismoyo Jati saat tiba di Polres Pasuruan Kota. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

Pria yang telah dikaruniai tiga anak tersebut mengaku, dirinya besar di keluarga militer. Ayahnya seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat (AD). Ia sebenarnya tak terpikir untuk meneruskan jejak ayahnya untuk menjadi seorang TNI atau polisi. Sebab, saat seseorang menjadi aparat, kehidupannya dan selalu berpindah-pindah. Sama seperti yang dia rasakan saat kecil.

"Saya anak kolong yang hidup mengikuti orangtua, " ujarnya menceritakan masa kecilnya bersama keluarganya.

Lahir di Kota Hujan Bandung, tak menjadikannya besar dan berkarir di sana. Sebagai anak kolong, ia mengikuti ayahnya dinas. Sekolahnya pun harus berpindah-pindah. Sekolah Dasar (SD) misalnya, ia lulus di Magelang; SMP di Bandung dan SMA di Malang.

Selama di Malang itulah, kemudian muncul keinginan berkarir di kepolisian. Bukan tanpa sebab. Dia berpikir, jika mau meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, maka ia akan menjadi beban keluarganya. Karena biaya sekolah perguruan tinggi itu tidak murah. Padahal saat itu dia ingin menjadi dokter.

"Kalau kuliah kan harus keluar biaya lagi. Saat luluspun belum tentu langsung dapat pekerjaan. Dari situ saat saya kelas 3 SMA, saya berpikir ketika lulus mau langsung bekerja," terangnya.

Nah, di situlah dia mencari peruntungan dengan mencoba mendaftar di Akademi Kepolisian (Akpol). Sebelum mendaftar, ia melakukan berbagai upaya latihan agar bisa lulus sekali daftar. Selama setahun penuh dibantu almarhum ayahnya kala itu, ia berlatih sungguhan. Hasilnya tak sia-sia. Dia berhasil masuk.

"Alhamdulillah sekali daftar. Tapi selama setahun saya digemblang fisik, psikologi dan lainnya. Untungnya keluarga mendukung. Waktu itu, pesannya kalau tidak lolos dalam tes kesehatan, maka saya tidak boleh daftar," ungkap pria yang mempersunting seorang dokter itu.

"Istri saya kan dokter. Jadi cukup terwakili cita-cita saya yang dulu, " kelakarnya sembari tertawa.

Makung merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakaknya yang pertama, adalah seorang polisi juga. Menurutnya, ia lolos masuk Akpol pada 1999. Menjalani pendidikan selama 3,5 tahun dan dinyatakan lulus pada 2002.

Penempatan awalnya di Jawa Timur. Setelah itu tugas di Polres Jember menjadi Kepala SPKT. Kemudian dimutasi menjadi Kanit Idik Reskrim selanjutnya ditarik ke Polda Jatim dan tiugaskan di Sabhara hingga 2003 akhir.

Pada awal-awal kedinasannya, Makung banyak ditempatkan di Satreskrim. Setelah dari Polda Jatim, ia lantas dimutasi ke Polres Sidoarjo menjadi Kanitreskrim pada 2005. Kemudian pada 2007 ia sekolah PTIK dan lulus pada 2009.

Setelah lulus, ia tak lagi dinas di Jatim. Tapi ditempatkan di Kalimantan Selatan sebagai Kanit Jatanras Banjarmasin. Kemudian pada 2010-2012 ia ditarik untuk menjadi Kasat Taruna.

"Tahun 2012 pindah lagi ke Jatim dan menjadi Kasatreskrim Polres Jember. Pada 2013 menjadi Kabagops Polres Gersik dan Wakapolres Gresik selama 1 bulan. Dan saya dapat biasiswa sekolah PTIK 2 tahun," ungkapnya.

Ia juga pernah mengemban amanah sebagai bagian Biro Multimedia Divisi Humas Mabes Polri. Di Polda Jatim, Divisi Humas Biro Penerangan Masyarakat juga pernah dilakoninya. Juga Kasubdit paminal polda jatim dan terakhir Kabagbinops di Krimsus.

"Tugas dimana saja saya anggap berkesan. Karena pindah-pindah tugas ini untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya," tandasnya. (fun) Editor : Ronald Fernando
#polres pasuruan kota #akbp makung ismoyo jati