Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petani Milenial asal Rembang, Pasarkan Sedap Malam hingga Timor Leste

Ronald Fernando • Senin, 15 Mei 2023 | 01:33 WIB
PETANI MILENIAL: Syinta Sofiatul Khusniah saat berada di lahan pertanian sedap malamnya
PETANI MILENIAL: Syinta Sofiatul Khusniah saat berada di lahan pertanian sedap malamnya
Ketekunan Syinta Sofiatul Khusniah, 22, menjadi petani sedap malam, berbuah manis. Bukan hanya pundi-pundi rupiah didapatkan. Perempuan asal Ketapan, Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan ini, juga menyabet penghargaan Young Ambassador Agriculture 2023 dari Kementrian Pertanian RI.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SENYUM mengembang dari bibir perempuan kelahiran 3 Mei 2001 itu. Suaranya, terdengar menggebu-gebu. Penuh semangat. Ketika menceritakan perjuangannya dalam membudidayakan sedap malam.

Terlebih disinggung soal penghargaan yang baru saja diraihnya. Ia tampak antusias menceritakannya.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Kamis (11/5) lalu, raut kebahagiaan terpancar di wajahnya. Ya, Syinta Sofiatul Khusniah memang tengah berbahagia. Maklum, ia baru saja mendapatkan penghargaan istimewa. Yakni dinobatkan sebagai Young Ambassador Agriculture 2023.

Pengharagaan tersebut didapatinya dalam kontestasi yang digelar oleh Kementrian Pertanian RI pada 2 – 5 Mei 2023 di IPB Bogor. Ada 50 orang terpilih sebagai Young Ambassador Agriculture 2023 tersebut. Syinta masuk diantara puluhan petani milenial terpilih tersebut dari 1.050 peserta se-Indonesia.

Tentu saja, hal itu tidaklah didapatkannya dengan mudah. Butuh perjuangan. Serta pembuktian. Kalau dirinya, benar-benar layak disebut petani milenial.

Dan hal itu mampu dibuktikannya, tidak dengan instan. Karena selama ini, dirinya memang bergelut di dunia bercocok tanam. Yakni petani sedap malam. “Sejak duduk dibangku Madrasah Aliyah, saya memang menggeluti pertanian sedap malam,” kata alumni UIN Malang Jurusan Matematika tersebut.

Syinta menceritakan, ia terjun sebagai petani sedap malam, sejak tahun 2018 lalu. Ketika itu, dirinya masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Aliyah. Lulusan MAN 1 Pasuruan ini tertarik dengan dunia pertanian, setelah melihat adanya peluang.

Ia memandang, sektor pertanian sebenarnya bisa berkembang. “Artinya, sektor pertanian, bisa menjadikan seseorang itu sukses,” ungkapnya.

Padahal semula, ia berpandangan berbeda. Dalam paradigmanya, petani itu tak lepas dari nuansa kotor, melelahkan hingga masuk belenggu kemiskinan. Sehingga, tak ada keinginannya, untuk terjun di dunia pertanian.

“Dulunya, saya mau kerja kantoran saja. Bisa duduk di ruangan ber AC dan mendapatkan gaji besar. Tidak ada dalam benak saya, untuk terjun di dunia petani. Maklum, waktu itu, anggapan saya, petani itu pekerjaan yang berat, harus berpanas-panasan di siang hari hingga membuat tubuh kotor,” selorohnya.

Pandangan itu dirasakannya, ketika masih sangat belia. Hingga akhirnya duduk di bangku madrasah aliyah. Pandangan anak pertama dari pasangan Yasib dan Siti Zaenab tersebut berbeda.

 

Photo
Photo
PENGHARGAAN: Syinta saat bersama kepala BPPSDMP, Prof. Ir. Dedi Nursyamsi., M.Agr

 

Karena ternyata, pekerjaan sebagai petani, tidaklah seberat yang dibayangkannya. Bahkan, seorang petani bisa meraih kesuksesan. Paradigma tersebut didapatinya, melihat orang-orang sukses yang bergerak di dunia pertanian.

“Salah satunya, saya melihat ayah saya (Yasib, red) yang bekerja sebagai seorang petani sedap malam. Kehidupannya cukup enak. Kerjanya bebas dan tidak disuruh-suruh orang. Hasil yang didapatkan, juga menjanjikan,” papar dia.

Dari situlah, ia mulai belajar bertani. Pilihannya, ada pada sedap malam. Alasannya, banyak warga yang menggelutinya. Serta, menjadi ikon Kabupaten Pasuruan, terutama pertanian Rembang. “Saya ingin sedap malam, lebih dikenal masyarakat secara luas,” ungkap dia.

Syinta belajar bertani, dengan mengikuti ayahnya. Ketika ada kesempatan, ia kerap kali ke lahan sedap malam ayahnya. Untuk membantu sang ayah, memetik bunga-bunga sedap malam.

Usai dipetik, bunga beraroma harum itu, kemudian dijualnya. Ia sering ikut ayahnya, menjual sedap malam. Di pasar, ataupun kolega ayahnya tersebut. “Bahkan, saya juga ikut menjual melalui jejaring sosial. Seperti aplikasi tiktok ataupun WA,” timpal pemilik Vista Florist tersebut.

Pelan tapi pasti, ia mulai menyewa lahan kecil-kecilan. Lahan tersebut digunakannya, untuk usaha pertanian sedap malam sendiri di kampungnya. Hasilnya cukup lumayan. Untuk menambah uang jajan, bahkan membantu penghasilan orang tuanya.

Hingga ia berpikir untuk menambah luasan lahan. Ia pun mengajukan bantuan dana hibah kompetitif melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support Service (YESS) pada tahun 2021 silam.

Siapa yang meyangka, proposal bisnis yang diajukannya terhadap program yang diinisiasi Kementrian Pertanian RI dan International Fund For Agriculture (IFAD) diterima.

Ia pun mendapatkan sokongan dana sekitar Rp 70 juta. Untuk pengembangan pertanian usaha sedap malam di Kabupaten Pasuruan. “Dari bantuan dana yang sifatnya kompetisi untuk mendapatkannya itulah, saya manfaatkan untuk pengembangan usaha yang saya geluti, budidaya sedap malam,” kenang Syinta.

Perempuan berhijab inipun, mampu mengembangkan luasan lahannya. Dari yang semula hanya menyewa 0,7 hektare hingga akhirnya bisa memiliki lahan hampir 2 hektare. Dari lahan itupula, ia mampu menanam ribuan bunga sedap malam hingga sekarang.

Dari ribuan bibit bunga sedap malam itu, ia bisa memetik belasan ribu tangkai sedap malam perbulannya. Bunga-bunga itu, kemudian dijualnya tak hanya offline. Tetapi juga online. Pasarnya, merambah tak hanya Bali. Tetapi juga Jogjakarta hingga Jakarta. Bahkan, juga Timor Leste.

Omsetnya pun, tak kalah dengan pegawai kantoran. Ia bisa mengantongi Rp 10 juta bahkan Rp 20 juta per bulannya. “Kadang kami sampai kualahan untuk menerima orderan, ketika mendekati lebaran,” akunya.

Hingga Februari 2023 kemarin. Ia mendapatkan informasi adanya kompetisi Young Ambassador Agriculture 2023 tersebut. Kompetisi bagi kalangan petani milenial yang digelar Kementrian Pertanian inipun, membuatnya tertarik. Untuk kemudian mengikuti kontestasi.

Saat itu, ada sekitar 1.050 peserta se Indonesia yang berpartisipasi. Termasuk dirinya. Seleksi pun dilalui. Hingga hanya ada 90 peserta yang lolos seleksi administrasi untuk bisa mengikuti tahapan berikutnya.

Ia pun kemudian harus mengikuti pelatihan dan penilaian di Depok, selama seminggu. Barulah kemudian penjurian dilakukan Mei. Ada 70 peserta, yang lolos untuk mengikuti penjurian tersebut. Penjurian itu dilakukan, tak hanya oleh pihak kementrian, tetapi juga melibatkan akademisi.

“Kami mengikuti penjurian tersebut, di Hotel IPB Bogor sejak 2 Mei hingga 5 Mei 2023,” beber dia.

Saat penjurian itu, ia sempat dibuat ragu untuk bisa lolos. Maklum, waktu yang disediakan, cukup singat. Bahkan, ia belum memaparkan banyak hal, waktu yang diberikan juri telah habis. “Hanya dikasih waktu dua menit. Belum bicara banyak, waktunya sudah habis. Itu yang membuat saya, tidak yakin bisa lolos,” tuturnya.

Hingga akhirnya, 50 peserta yang dinyatakan lolos sebagai ambassador petani milenial diumumkan. Namanya, termasuk diantaranya. Ia pun benar-benar tak menyangka dengan hal itu semua.  “Pastinya senang. Dan saya pun, tidak menyangka bisa menang,” urainya. (Iwan Andrik/mie)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang Syinta sang Petani Milenial

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Editor : Ronald Fernando
#petani milenial #petani pasuruan