Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Jamaah Islam Aboge di Probolinggo

Muhammad Fahmi • Senin, 24 April 2023 | 18:05 WIB
SALAT BELAKANGAN: Puluhan jamaah Islam Aboge di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan salat Id, Minggu (23/4). (Zainal Arifin/ Radar Bromo)
SALAT BELAKANGAN: Puluhan jamaah Islam Aboge di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan salat Id, Minggu (23/4). (Zainal Arifin/ Radar Bromo)
Wajah Islam Indonesia tidak hanya diwarnai dengan perbedaan antarormas keagamaan. Ada pula Islam Aboge yang memberikan perbedaan di tingkat lokal. Termasuk di Kabupaten Probolinggo.

=================================

 

JAMAAH Islam Aboge di Kabupaten Probolinggo, cukup banyak. Mereka tersebar di sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Mereka berbeda dengan muslim kebanyakan. Terutama ketika dalam memulai dan mengakhiri puasa Ramadan.

Islam Aboge Kabupaten Probolinggo, baru melaksanakan salat Id Idul Fitri 1444 Hijriah pada Minggu (23/4). Selisih satu hari dengan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal 1444 Hijriah jatuh pada Sabtu (22/4).

Para jamaah Aboge tetap antusias. Meski minoritas, mereka tetap melaksanakan ibadah dengan tenang. Seperti jamaah Aboge di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces Kabupaten. Puluhan jamaah salat di sebuah musala. Usai salat, para jamaah melanjutkan dengan bersalam-salaman. Saling mohon maaf. Dilanjutkan makan bersama nasi bawaan jamaah.

Islam Aboge merupakan penganut agama Islam. Jamaahnya menjalankan syariat Islam. Seperti salat, puasa, dan zakat. Tata cara salat, puasa, dan zakat pun sama.

Yang membedakan yaitu, Islam Aboge tidak menggunakan kalender Islam dalam menentukan tibanya hari besar Islam. Namun, menggunakan kalender Jawa, Alif Rabo Wage atau disingkat Aboge.

Seperti disampaikan Muhamad Abdullah, 44, salah satu tokoh Aboge di Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.  Kalender Jawa Aboge menggunakan sistem satu windu (delapan tahun) untuk satu periode waktu.

Menurut Aboge, satu windu terdiri atas tahun Alif, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir. Lalu, satu tahun tetap terdiri atas 12 bulan. Kemudian, satu bulan terdiri atas 29-30 hari.

Kalender Aboge memiliki hari pasaran. Yaitu, Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing. Nah, pada sistem pasaran ini, hari pertama pada tahun Alif jatuh pada hari Rabo Wage.

“Jadi kami menggunakan hisab atau metode kalender dalam menentukan hari besar Islam. Sama dengan pemerintah dan ormas keagamaan lain. Bedanya, Aboge menggunakan penghitungan satu windu (8 tahunan),” katanya.

Dengan perhitungan satu windu ini, dipastikan bisa mengetahui kapan awal Ramadan dan awal Lebaran selama beberapa tahun ke depan.

Di Desa Sumbersuko, Islam Aboge dipimpin oleh tokoh Aboge, Kiai Rasuli. Namun, Kiai Rasuli meninggal sekitar tiga tahun lalu.

“Kalau di sini (Sumbersuko), awal mula Aboge dari ayah saya. Beliau termasuk yang ditokohkan. Di daerah lain, Aboge juga punya banyak tokoh sendiri. Seperti di Bantaran, Wringinanom, Kuripan, Leces, dan Lumbang,” tuturnya.

Meski berbeda kalender, Abdullah memandang itu bukanlah perbedaan yang besar. Dia pun tidak mau memaksakan aturan itu pada warga sekitar.

“Bukan saya tidak mau mengikuti pemerintah atau bukan maksud menentang. Saya juga tidak pernah memaksa warga sekitar untuk mengikuti saya. Hanya saja, saya kebetulan tahu hitungannya. Maka, saya mengikuti apa yang saya ketahui,” tuturnya.

Abdullah pun percaya, kalender Aboge dibuat dengan hitungan yang tepat. Tidak sembarangan. Sehingga, tetap bisa dipakai sampai saat ini.

Hal senada disampaikan Kiai Mariye. Tokoh Aboge 70 tahun asal Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, Aboge di Leces berdiri sejak ada almarhum Kiai Urip Badri. Guru yang juga mertuanya. Dan kini, Kiai Mariye yang melanjutkan Islam Aboge ini.

Meski demikian, Kiai Mariye tidak memaksakan ajaran itu pada warga sekitar. Bahkan, pada anak-anaknya. Dia pun tidak pernah meminta ketiga anaknya untuk mengikutinya.

“Anak saya, ya terserah mereka. Mau belajar dan meneruskan silakan. Tidak pun, ya tidak masalah. Jadi, ketika saya meninggal nanti, saya juga tidak tahu apakah ajaran Islam Aboge ini akan diteruskan atau tidak,” terangnya.

Tokoh Aboge di Desa Ngepung, Kecamatan Lumbang, Bambang Setiawan, 44, meyakini hal serupa. Bambang adalah penerus tokoh Aboge sebelumnya, almarhum Tiamar. Tiamar yang memiliki nama asli Wagisan merupakan tokoh Aboge di Ngepung.

Sejak Tiamar meninggal, jamaah Aboge di Ngepung tidak lagi mengikuti perhitungan kalender Aboge dalam merayakan hari besar Islam. Sebab, memang tidak ada paksaan untuk mengikuti perhitungan Aboge.

Karena itu, sejak satu tahun terakhir jamaah Aboge berpuasa dan Lebaran dengan mengikuti pemerintah. Bahkan, juga tahun ini.

Menurut Bambang, hanya tradisi dalam kalender Aboge yang tetap mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, selamatan, membangun rumah, dan yang lain.

“Untuk urusan selamatan atau yang lain, warga masih percaya dengan hitungan kalender Jawa Kuno. Ya, kalender Aboge ini. Sehingga tetap menggunakan perhitungan Aboge tersebut,” katanya. (rpd/hn)

 

  Editor : Muhammad Fahmi
#islam aboge #jamaah aboge