MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo
Satu persatu pelanggan keluar dari depot ketika waktu sudah lewat pukul 18.00. Mereka kenyang setelah menyantap seporsi nasi rawon favorit di Jalan Raya Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, itu. Menjelang isya, depot mulai tampak lengang. Para pramusaji bergegas melipati boks untuk memenuhi pesanan pelanggan.
Setiap harinya, depot itu memang nyaris tak pernah sepi. Apalagi memasuki 10 hari terakhir Ramadan. Pembelinya bukan hanya datang dan makan di tempat. Sebagian besar malah memesan rawon dengan dibungkus boks. Biasanya untuk tradisi ater-ater menjelang Lebaran.
Dalam sehari, pesanan yang datang bisa sampai 300 boks. Bahkan terkadang, pesanan dari perusahaan bisa tembus 1.500 boks. Maklum, nasi rawon memang menjadi makanan khas di Pasuruan. Masyarakat sudah begitu akrab dengan masakan ini.
Rumah makan yang menawarkan sup daging berkuah cokelat pekat itu juga menjamur di mana-mana. Tidak sulit jika ingin berwisata kuliner khusus rawon. Tetapi, Rawon Sakinah boleh dibilang adalah primadonanya.
Usaha depot rawon itu sendiri dirintis oleh Sakinah. Dulu, Sakinah berjualan nasi rawon di lingkungan Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Panggungrejo, Kota Pasuruan. Usahanya terus berkembang. Banyak orang yang doyan masakannya, lantas menjadi pelanggan.
Sakinah kemudian membuka depot di Jalan Kartini, Kelurahan Bangilan, di kecamatan yang sama. Namanya juga dijadikan brand depot yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu.
Sekitar tahun 2004, putri pertama Sakinah yaitu Reny membuka cabang di Pleret. Ia menjalani usaha itu bersama suaminya, M. Sofyan dan dibantu adik iparnya, Evi Wahyuni. Meski sudah mengelola cabang sendiri, semua masakan mulanya tetap diambil dari Depot Sakinah.
“Itu berlangsung selama satu bulan pertama ketika baru buka cabang,” kata Evi Wahyuni.
Ia dan Reny kemudian belajar memasak rawon dari resep rahasia Sakinah. Tentu saja, proses itu cukup memakan waktu. Karena meski mengacu pada resep yang persis, hasil masakannya belum tentu sama. Baik aroma, hingga rasa.
“Sampai diberikan buku resepnya sama Umik (Sakinah). Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Umik cocok juga. Mulai rasa dan aromanya pas katanya,” ungkap Evi.
Lambat laun, Sakinah mulai mempercayai Reny dan Evi untuk mengelola cabang depot di Pleret itu. Sebab, masakan mereka sudah sesuai dengan cita rasa rawon Sakinah.
Yang khas dan membedakan rawon Sakinah dengan rawon lain adalah lauknya. Penikmat rawon Sakinah tidak hanya akan disuguhi dengan daging empal. Melainkan juga ada sate komoh dengan potongan daging jumbo. Mirip seperti deretan empal yang ditusuk dengan bambu. Lalu dibakar di atas bara api. Sate komoh memang kuliner khas Kota Pasuruan yang jarang ditemukan di daerah lain. “Sate komoh ini yang paling banyak diminati,” kata Evi.
Bahkan, kata Evi, ada pelanggannya dari luar daerah yang rela berkeliling Pasuruan ketika lupa alamat depot Rawon Sakinah Pleret. Karena setelah keluar dari exit Tol Bukir, pelanggan tersebut keliru mengambil arah jalan ke Bangil. Dia pun harus menempuh perjalanan lebih jauh sebelum sampai ke Pleret.
“Katanya nggak mau makan rawon lain. Maunya yang pakai sate komoh,” kata Evi.
Tiga potong daging yang besar dengan tekstur empuk memang begitu menggoyang lidah ketika disantap. Ditambah lagi, campuran irisan daun bawang yang memperkuat cita rasa rawon. Taburan tauge pendek didekat sambal memberi rasa manis pedas di antara kuah rawon yang berwarna pekat.
Penikmat Rawon Sakinah Pleret berasal dari berbagai daerah. Tak terkecuali bule-bule yang biasanya berwisata ke Gunung Bromo. Dengan jam buka pukul 06.00 hingga 22.00, Evi mengatakan, dalam sehari depotnya bisa menghabiskan 60 hingga 100 kilogram daging sapi untuk diolah jadi empal maupun sate komoh.
Meski begitu, depotnya sebenarnya juga punya menu lain. Seperti pecel, sambelan, gule, sop buntut, dan kikil. Namun, tetap saja, pelanggan yang datang kebanyakan pesan nasi rawon.
“Dari dulu menu andalannya memang rawon. Karena dagingnya juga selalu fresh, nggak pernah nandon. Ketika Lebaran biasanya kami baru buka H+3,” katanya.
Seporsi nasi rawon dibanderol dengan harga Rp 30 ribu. Depot Rawon Sakinah Pleret saat ini sudah memiliki beberapa cabang. Antara lain di Jalan Panglima Sudirman Kota Pasuruan, Kebun Kuliner Jalan Sultan Agung, dan Food Court Warungdowo. Evi sendiri sudah mempekerjakan sedikitnya 26 karyawan dari usaha kuliner itu. (hn) Editor : Jawanto Arifin