Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sate Cempe Leces, 33 Tahun Pertahankan Racikan Bumbu

Jawanto Arifin • Selasa, 18 April 2023 | 22:56 WIB
BERTAHAN: Rumah Makan Sate Cempe di Desa Clarak, Kecamatan Leces sudah berusia 33 tahun. Inset, beberapa menu khas di RM Sate Cempe. (Foto: Fahrizal Firmani/Radar Bromo)
BERTAHAN: Rumah Makan Sate Cempe di Desa Clarak, Kecamatan Leces sudah berusia 33 tahun. Inset, beberapa menu khas di RM Sate Cempe. (Foto: Fahrizal Firmani/Radar Bromo)
Rumah makan Sate Cempe sudah banyak dikenal, jauh sebelum dibangun exit tol Leces. Bahkan, menjadi salah satu warung jujukan bagi penggemar sate di Probolinggo. Saat ini, Sate Cempe makin dikenal karena lokasinya dekat exit tol Leces di Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

FAHRIZAL FIRMANI, Leces, Radar Bromo

Sejumlah kendaraan roda empat parkir berjejer di depan rumah makan Sate Cempe di Clarak. Tempatnya cukup luas. Pengunjung pun bisa memilih untuk menyantap makanan di dalam atau di luar, dekat halaman parkir.

Di dalam, ada sembilan meja makan berbentuk persegi dan persegi panjang. Masing-masing dilengkapi sejumlah kursi. Ada yang dua, empat, hingga delapan buah yang diletakkan berhadapan hingga memutar.

Sementara di luar, ada tiga buah meja. Masing-masing meja dilengkapi empat buah kursi. Baik di dalam dan luar, ada wastafel yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk cuci tangan sebelum dan setelah menikmati hidangan.

"Alhamdulillah, sejak 2010 saya punya warung sendiri buat rumah makan ini. Sebelumnya sempat ngontrak di Desa Kedawung, Leces," kata Wijiati, 52, pemilik rumah makan Sate Cempe memulai obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Menurutnya, Sate Cempe ini adalah usaha turun temurun keluarganya di Kabupaten Kediri. Ia belajar ke orang tuanya. Hingga akhirnya memutuskan merantau ke Leces bersama suaminya, Fauzi, 60, pada 1990.

Pertama kali buka usaha, ia mengontrak. Lalu sejak 2019, usaha miliknya terus tumbuh. Sebab, lokasi rumah makannya tepat berada di persimpangan exit tol Leces. Lokasi yang strategis ini membuat banyak kendaraan roda empat mampir untuk makan.

Ia pun tidak mengira usahanya bisa tumbuh pesat. Karena sebelumnya, lokasi yang ditempatinya saat ini hanyalah sawah. Ia memberanikan diri membeli karena tidak ingin kontrak lagi. Ternyata, lokasi itu kemudian menjadi exit tol Leces.



Rata-rata pembelinya dari luar Probolinggo. Saat hari biasa, rumah makannya selalu ramai pada siang hari. Pertumbuhannya pun mencapai 20 persen dibanding sebelum ada jalan tol. Sebelumnya dalam sehari, ia hanya memasak tiga ekor kambing. Kini empat ekor kambing sehari.

"Kebanyakan pelanggan dari luar Probolinggo. Ada plat AD, B, hingga D. Mereka biasanya datang rombongan bersama keluarganya. Sekali pesan bisa sampai enam menu," ungkapnya.

Menu andalan di tempatnya adalah sate spesial dan sate campur. Satu porsinya Rp 30 ribu. Bagi yang tidak suka daging kambing, bisa memilih sop iga, bakso, hingga sate ayam.

Harga sop iga Rp 40 ribu per porsi. Semenara bakso dan sate ayam Rp 20 ribu tiap porsi. Menu alternatif ini sudah ada sejak 2010.

"Jadi bagi yang nggak suka daging kambing, tidak usah khawatir. Ada menu lain. Sop iga dan sate ayam itu juga best seller. Karena kadang dalam satu keluarga ada yang tidak suka kambing," kata Wiji.

Ia memilih cempe karena dagingnya memiliki sejumlah keunggulan. Menurut pelanggan, dagingnya lebih empuk dan baunya tidak terlalu menyengat daripada daging kambing. Selain itu, keluarganya selalu memakai kecap khas kediri. Sehingga, rasanya khas.

Selama 33 tahun, kunci sukses usahanya adalah menjaga bumbu racikan. Walau ada kenaikan pada bahan yang digunakan, namun ia tidak pernah mengurangi takarannya. Ini juga untuk menjaga cita rasanya tidak berubah di lidah para pelanggannya.

Selain itu, daging juga diolah dengan khas. Usai dipotong, daging langsung dimasukkan ke mesin pendingin. Tujuannya agar daging tetap segar.



“Begitu ada pelanggan, baru kami olah. Sehingga benar-benar segar dan empuk saat disantap," jelas ibu dua anak ini.

Meski demikian, Wiji mengaku ada saja yang komplain dengan makanannya. Biasanya karena kurang cocok rasanya. Pihaknya pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Sebab, lidah orang memang berbeda-beda. Di luar itu, rata-rata mereka mengaku puas.

Selama ini, ia biasanya hanya tutup pada hari H sampai H+2 Lebaran. Namun, sejak tahun 2021, ia tutup mulai hari Lebaran hingga H+7. Alasannya, sejak dua tahun ini, keluarga besarnya datang berkunjung ke Leces. Mereka biasanya datang di waktu yang berbeda.

"Kalau sebelumnya kami yang pulang ke Kediri. Jadi tutup cuma sebentar. Paling tiga hari, terus balik untuk buka lagi. Kalau sekarang, biar bisa fokus ke keluarga," tuturnya.

Warungnya pun selalu buka tiap hari. Mulai pukul 08.00 sampai 21.00. Kadang bisa sampai pukul 22.00 kalau sedang ramai pengunjung. Sebab, ada saja pengunjung yang tidak langsung pulang usai makan. Mereka biasanya ingin mengobrol dulu.

"Cuma selama puasa, paling ramai ya jam berbuka itu. Pukul 17.30 sampai pukul 18.30. Tapi, tutupnya tetap sama seperti sebelum puasa," tutur Wiji. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kuliner legendaris #kuliner jujukan pemudik