IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo
Waktu menunjukkan pukul 21.30. Suasana sepi menghiasi warung Setia Budi. Kondisinya lengang. Hanya ada kursi berwarna merah yang menghiasi.
Tidak ada seorang pun pembeli yang duduk untuk makan. Hanya pemiliknya, Adi Putro yang tengah santai di sudut rumah makan tersebut.
Warung yang terletak di salah satu pertokoan Swadesi, Bangil, itu sepi, bukannya tanpa alasan. Beberapa orang sebenarnya sempat datang. Untuk memesan sate kambing buatan Adi. Namun sayangnya, mereka terpaksa harus gigit jari.
Lantaran menu andalan sate kambing khas Bangil tersebut, memang telah habis dipesan. “Maaf, Mas, satenya habis,” ungkap Adi saat kedatangan pembeli.
Menurut Adi, sebelum pukul 21.00, Kamis (13/4) malam itu, menu sate di warungnya memang telah habis. Karena ada rombongan kampus yang datang. Mereka memborong semua sate yang disediakannya.
Adi mengakui, sate khas Bangil memang menjadi menu andalan di warungnya. Meski sebenarnya, ada menu lain seperti nasi campur dan krengsengan. “Memang yang terkenal di sini adalah sate kambing khas Bangil,” jelasnya.
Sate kambing khas Bangil yang dikelolanya saat ini, sebenarnya peninggalan orang tuanya, almarhum Subakir. Warung tersebut didirikan sekitar tahun 1970. Diberi nama Setia Budi.
Nama itu dipilih, sebab saat itu sedang merebak sate Madura. Namun, sate khas Madura di Bangil cenderung kecil-kecil ukurannya. Itulah yang kemudian menginspirasi Subakir untuk membuat sate dengan ukuran agak besar dan menjadi khas Bangil. Dari situlah, warung sate kambing khas Bangil akhirnya muncul.
“Semula, bukan jualan sate. Tapi, nasi goreng. Bapak kemudian ingin berinovasi dan membuat sate yang menjadi ciri khas Bangil. Akhirnya bapak menciptakan sate kambing khas Bangil ini,” kenangnya.
Awal berdiri, warung sate kambing khas Bangil, Setia Budi, itu mulanya bukan di Swadesi. Melainkan di depan Alun-alun Bangil. Ia pun masih ingat ketika masih kecil, warung tersebut sangat ramai. Pembeli datang siang dan malam. Tidak pernah sepi. Apalagi, ketika ada Pasar Malam. Menambah keramaian pembeli.
“Saya masih kecil waktu itu. Saya masih ingat. Ketika ada Pasar Malam di Alun-alun Bangil, suasana warung sangat ramai,” cerita lelaki kelahiran tahun 1979 tersebut.
Hingga kemudain, pemerintah daerah merenovasi kawasan Alun-alun Bangil. Warung Setia Budi milik bapaknya tersebut lantas pindah ke Swadesi Bangil. Di Swadesi ini pun, pembeli masih ramai.
Sebab, Swadesi Bangil sering menjadi tempat transit wisatawan yang hendak ke Bali. Tidak hanya wisatawan dalam negeri. Tetapi juga luar negeri. Alhasil, banyak wisatawan yang makan di warung itu. Ada yang dari Hongkong, Perancis, dan negara seberang lainnya.
Saking terkenalnya, sampai-sampai banyak pesohor negeri yang datang. Seperti KH Hasyim Muzadi dan beberapa tokoh negeri lainnya. “Termasuk Pak Erik Tohir sebelum menjadi menteri, juga pernah datang ke sini,” ungkapnya.
Memang, kondisi warung Setia Budi yang kini dipegangnya tak lagi berjaya seperti era 1990-an. Banyaknya warung makan, serta Swadesi yang kini tidak lagi menjadi transit wisatawan, menjadi salah satu faktornya.
Namun, ia yakin warung Setia Budi masih disukai sampai sekarang. Rata-rata, ada 10 hingga 20 pelanggan yang datang per harinya. “Memang jauh dengan era keemasan dulu,” jelasnya.
Eksistensi warung sate kambing khas Bangil tersebut, tak lepas dari racikan bumbu dan pengolahan kambing gibas yang dilakukan secara khusus. Adi mengklaim, pengolahannya merupakan rahasia keluarga.
“Pastinya ada perbedaan. Kambing yang diolah, empuk dan pemanggangannya tidak sembarangan. Bumbunya pun enak karena diolah khusus dan menyatu dengan daging,” timpalnya.
Satu porsi dihargai Rp 60 ribu. Untuk satu porsi tersebut, pembeli bisa mendapatkan 10 tusuk sate khas Bangil. Dulunya, bisa satu kuintal daging kambing dihabiskan. Namun sekarang, hanya beberapa kilogram daging sehari. (hn) Editor : Jawanto Arifin