Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Posoan Cup, Ngabuburit ala Pemain Tarkam Pasuruan

Jawanto Arifin • Kamis, 13 April 2023 | 22:50 WIB
PERTAMA: Final Posoan Cup di Lapangan Segent. Liga tarkam ini pertama digelar yang digagas Kelurahan Sebani dan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
PERTAMA: Final Posoan Cup di Lapangan Segent. Liga tarkam ini pertama digelar yang digagas Kelurahan Sebani dan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
Ada beragam aktivitas yang biasa dilakukan warga untuk menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa. Di Kota Pasuruan, ngabuburit dilakukan di lapangan sepak bola. Masyarakat terhibur melihat timnya berlaga. Para pemain ngos-ngosan karena kehabisan tenaga.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Mendung tipis menggelayuti langit kota ketika peluit panjang menandai dimulainya pertandingan pemungkas Posoan Cup, Minggu (9/4). Ratusan penonton mengerumuni lapangan Segent. Partai final bergulir dua jam sebelum waktu berbuka.

Dua tim langsung on fire di menit-menit pertama. Namun, belum sampai gol, sejumlah pemain mulai dirotasi. Keringat deras bercucuran. Sementara di tepi lapangan, tidak terlihat sebotol pun air mineral. Jangankan untuk minum, sekadar berkumur pun tidak bisa.

Pertandingan demi pertandingan dalam turnamen tarkam itu memang digelar menjelang waktu berbuka. Karena itu, rata-rata pemain tidak bisa tahan lama di lapangan. Mereka yang terlihat sudah kehabisan tenaga, segera ditarik keluar. Posisinya digantikan pemain cadangan.

Kondisi itu terus terjadi selama laga yang mempertemukan tuan rumah Gentong FC dengan Semar FC. Baru menjelang turun minum, tim tuan rumah leading. Dua gol bersarang di gawang tim asal Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

Pertaruhan gengsi semakin sengit di babak kedua. Pola permainan Gentong FC semakin sulit diimbangi. Apalagi setelah gol ketiga tercipta. Di samping itu, mereka juga diperkuat beberapa mantan pemain liga. Sebut saja Kasan Soleh, Siswanto, dan Irfan Junaedi.

Tim tamu hanya mampu mempersempit selisih gol lewat tendangan penalti. Tak ayal, tim yang berhak angkat trofi pun bisa ditebak. Kendati demikian, siapa yang juara dan runner-up dalam turnamen itu hanya sebuah gelar. Yang lebih penting adalah momentumnya.



Karena jarang-jarang ada turnamen sepak bola yang dilangsungkan saat bulan puasa. Bisa jadi, ini yang pertama di Pasuruan. Ada 16 tim yang ikut berlaga. Baik dari kabupaten, kota, bahkan Malang. Usia pemainnya juga dibatasi. Pemain berusia 35 sampai 39 tahun maksimal hanya 3 orang. Selebihnya 40 tahun ke atas.

Selain sedang puasa, usia pemain yang rata-rata sudah kepala empat membuat stamina mereka lebih cepat terkuras. Kasan Soleh benar-benar merasakan betapa pertandingan itu cukup menyiksa. Dia berujar jika sebenarnya masih kuat bermain full time. Tapi, ketika dalam kondisi normal.

”Berhubung sedang puasa, lebih cepat lemas. Maksimal 40 menit sudah ampun,” kata pemain berusia 40 tahun itu.

Tetapi, dia happy-happy saja. Apalagi masih bisa memberikan pertandingan yang enak ditonton. Menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang sedang ngabuburit. Kasan Soleh juga menyebut turnamen Posoan Cup merupakan terobosan yang unik.

”Ini harus diteruskan. Kalau bisa dikembangkan di tahun-tahun yang akan datang dengan tim yang lebih banyak. Jadi bisa digelar sebulan penuh,” kelakarnya.

Sementara Irfan Junaedi juga tampak ngos-ngosan. Namun, dia punya taktik agar staminanya tidak cepat menurun. Ia lebih banyak memainkan aliran bola cepat antarlini. Dengan lebih meminimalisasi gerakan, pemain bisa ngirit tenaga.

”Memang sangat terasa ketika kondisi perut kosong dan haus. Tapi, sebenarnya ini sudah pas dengan durasi 30 menit x 2,” ungkapnya.



Menurutnya, turnamen di tengah Ramadan ini bukan sekadar mengincar juara. Tetapi, lebih dari itu. Juga memberikan ajang silaturahmi bagi pecinta sepak bola. Termasuk menjadi momentum reuni bagi pemain-pemain liga. Misalnya saja pertemuan beberapa pemain Persema seperti Nanu Cahyo, Junaedi, Zainal Arifin, dan Setio Budi.

”Jadi tujuannya bukan semata jadi juara. Yang terpenting bisa reuni dan silaturahmi dengan teman-teman,” katanya.

Bagi Camat Gadingrejo Imron Rosadi, turnamen itu juga cukup menarik. Apalagi diinisiasi dua kelurahan. Yakni, Gentong dan Sebani. Kolaborasi itu cukup penting untuk mendukung suasana masyarakat yang harmoni.

”Seperti visi misi wali kota, dengan event turnamen seperti ini, pemain bisa terus menyambung silaturahmi. Begitu juga dengan masyarakat yang semakin menjunjung tinggi sportivitas,” katanya. (hn/mie) Editor : Jawanto Arifin
#ngabuburit buka puasa