Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Korban Tawuran Mayangan Butuh Biaya Rp 100 Juta untuk Operasi

Ronald Fernando • Rabu, 12 April 2023 | 15:10 WIB
SUDAH DISIAPKAN: Sutirno menunjukkan mahar yang disiapkan Agus Wahyudi untuk meminang kekasihnya. Inset, Agus Wahyudi saat terkapar usai tawuran. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
SUDAH DISIAPKAN: Sutirno menunjukkan mahar yang disiapkan Agus Wahyudi untuk meminang kekasihnya. Inset, Agus Wahyudi saat terkapar usai tawuran. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Agus Wahyudi, 23, warga Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih sejatinya akan menikah akhir April ini. Namun rencana ini sepertinya harus tertunda, sebab sampai saat ini pemuda itu masih kritis dan belum sadarkan diri. Dia harus dirawat setelah menerima luka berat akibat tawuran.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

FAHRIZAL FIRMANI, Sumberasih, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SEORANG pria paro baya terlihat sedih. Matanya berkaca kaca saat ditemui di rumahnya di Dusun Kramat, Desa Ambulu. Sesekali, tatapannya tampak kosong setiap kali mengingat peristiwa memilukan yang dialami oleh anaknya, Agus Wahyudi.

Pria itu bernama Sutirno, 47. Maklum, anaknya mengalami luka yang sangat parah di bagian kepala dan wajah. Sehingga harus dirujuk ke rumah sakit Bina Sehat Jember. Hingga kini, anak keduanya itu masih belum melewati masa kritis.

Sutirno mengaku ia tidak menyangka jika anaknya mendapat musibah pada Sabtu malam itu (8/4). Meski ia sempat gelisah karena Agus tidak kunjung pulang hingga dini hari. 

Ia bercerita, sehari-harinya Agus mencari nafkah dengan pekerjaan serabutan. Agus pernah bekerja sebagai tukang bangunan hingga bengkel. Namun, sebulan terakhir, ia bekerja di tambak milik warga setempat.

Kebetulan hari itu, Agus bisa pulang lebih cepat karena tambak tempatnya bekerja baru saja panen. Setelah sempat beristirahat sebentar di rumah, ba’da Maghrib, Agus berpamitan pada ayahnya untuk mengantar undangan.

Photo
Photo
CALON MEMPELAI: Agus Wahyudi dan kekasihnya yang rencananya mau menikah setelah Lebaran. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

“Rencananya, 30 April ini, Agus akan menikahi pacarnya, Siti Maimunah, warga Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok. Pacarnya ini hari harinya kerja di koperasi simpan pinjam,” ungkap Sutirno.

Agus memang memiliki banyak teman. Termasuk di Kota Probolinggo. Namun ia tidak menjelaskan undangan itu akan diantar kemana. Waktu itu, Agus menaiki motor Honda Beat. Di rumahnya masih tersisa sekitar 70 kartu undangan yang belum diantar. Mereka adalah teman teman Agus.

Hanya saja, Agus seperti pemuda kebanyakan. Dia kerap nongkrong bersama temannya di Kota Probolinggo setiap Sabtu malam. 

Ia pun mengiyakan karena ia mengira anaknya tidak akan lama. Sebelum tengah malam, Agus biasanya sudah pulang. Namun malam itu, hingga pukul 00.00, Agus tidak juga kembali ke rumah. Ia tidak bisa tidur karena menunggu kedatangan Agus.

Ternyata, salah seorang teman nongkrong Agus datang dini hari. Ia datang membawa motor milik Agus. Katanya, Agus masuk rumah sakit karena mengalami luka usai dipukul di Mayangan.

“Cuma waktu itu, temannya itu tidak bilang kalau luka parah. Mungkin, karena tidak ingin saya dan istri saya, Niyati, 45, khawatir. Ternyata saat saya cek ke RSUD dr Mohammad Saleh Kota Probolinggo, wajahnya hancur,” jelas Sutirno.

Karena luka yang dialaminya parah, Agus harus dirujuk ke RSUD Bina Sehat Jember. Saat itu Sutirno melihat, wajah anaknya sampai tidak bisa dikenali. Kecuali telinganya yang utuh. Seluruh tulang wajah patah dan retak. Bagian tempurung kepala juga hancur akibat terkena batako.

Karena hal itulah Agus masih belum sadarkan diri. Dokter setempat menyampaikan pada keluarga bahwa anaknya itu harus dioperasi pada bagian wajah dan kepala untuk mengembalikan fungsinya. Biayanya lebih dari Rp 100 juta.

Ia pun kebingungan. Sebab selama ini Agus itu tulang punggung keluarga. Anaknya itu sosok pekerja kerja dan tidak pernah memilih-milih pekerjaan. Sementara dirinya hanya beternak sapi. Itu pun jumlahnya hanya satu ekor.

“Agus yang selalu membantu ekonomi keluarga. Dia tulang punggung kami. Dia kerap membantu adiknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Ia sering memberi uang untuk sangu adiknya,” terang Sutirno.

Ia masih belum bisa memastikan terkait pernikahan anaknya itu. saat ini pihaknya masih konsentrasi pada kesembuhan Agus. Dirinya masih berupaya mencari uang untuk membayar biaya operasi tersebut.

Namun, karena dirinya tidak memiliki pekerjaan, tentu biaya operasi itu tidaklah sedikit. Untuk mencari utangan pun tidak mudah. Sebab, ia tidak memiliki harta yang bisa digadaikan.

“Saya sudah menyampaikan hal ini pada Pak Kades. Saya yakin anak saya tidak bersalah. Tidak mungkin dia blayer karena motor yang dibawa itu Honda Beat, jenis matic,” pungkasnya. 

Agus Wahyudi adalah salah satu korban tawuran di Mayangan. Dia menjadi bulan bulanan massa di Mayangan, Kota Probolinggo Sabtu malam (8/4). Tawuran ini dipicu karena ada yang memblayer knalpot brong berulang kali dan memukul warga. (fun) Editor : Ronald Fernando
#tawuran probolinggo #blayer motor #mabuk dimassa