Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Abdul Rouf Sempat Jadi Sopir Pikap, Kini Anggota DPRD Kab Pasuruan

Ronald Fernando • Sabtu, 8 April 2023 | 14:42 WIB
ALUMNI TEBUIRENG: Abdul Rouf yang kini duduk di parlemen DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto: dok Pribadi)
ALUMNI TEBUIRENG: Abdul Rouf yang kini duduk di parlemen DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto: dok Pribadi)
Cita-cita Abdul Rouf, 59, ketika masih muda bukan menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Melainkan, aparatur sipil negara (ASN) di Departemen Keagamaan atau saat ini Kementerian Agama. Namun, alumnus Pesantren Tebuireng Jombang, ini kini duduk di parlemen sebagai anggota legislatif.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

ABDUL Rouf memulai pendidikannya di SDN Gununggangsir 1 Beji, Kabupaten Pasuruan. Kemudian, melanjutkan ke SMP Avisena, Kedungcangkring Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Hingga akhirnya memutuskan nyantri di Ponpes Tebuireng Jombang pada 1979.

Rouf mengaku sejak kecil memang ingin mondok. Keinginan ini tak lepas dari lingkungannya. Kakaknya, rata-rata keluaran pesantren. Almarhum abahnya, H. Moch. Asyari, juga dikenal sebagai kiai kampung di wilayah Beji.

Awalnya, hanya ingin mondok di sekitaran Beji. Agar dekat rumah. Namun, abahnya mengarahkannya untuk nyatri di Tebuireng.

“Orang tua memang menjadi inspirasi bagi saya. Keinginan saya mondok, tak lepas dari orang tua yang dulunya juga pernah mondok, bahkan menyabet gelar kiai kampung,” ujarnya.

Sejak lulus SMP pada 1979, Rouf berangkat ke Jombang. Menuju Tebuireng. Katanya, awalnya kehidupan di pesantren jauh dari nyaman. Tidak seperti yang dibayangkan. Ia sempat tidak kerasan. 

Di Tebuireng, ia benar-benar dilatih kemandirian dan kesabaran. Misalnya, untuk makan. Tidak seperti di rumah. Semuanya nyepak. Tinggal makan. Di pesantren, harus memasak sendiri. Bila tidak, perut tak akan terisi. Ia pun hanya bisa sarapan setelah jam istirahat sekolah. 

Berbeda ketika di rumah. Pagi hari, saat hendak berangkat sekolah, bisa menikmati makan pagi. “Awalnya kaget dengan kehidupan pondok. Apa-apa harus dilakukan sendiri,” ujar putra ketiga dari enam bersaudara pasangan H. Moch. Asyari dan Hj. Muliah ini. 

Didikan pesantren juga melatih kedisplinan. Harus menaati peraturan ataupun mengikuti kegiatan demi kegiatan pondok. Bila tidak, harus siap disanksi.

Rouf pernah mengalaminya. Saat itu, ia tidak mengikuti pengajian rutin. Berpura-pura memasak di dapur ponpes. Ketahuan. “Saya harus bersih-bersih halaman dan kamar mandi pondok,” kenangnya. 

Meski kehidupan pondok terasa berat, ia berusaha bertahan. Butuh sekitar enam bulan untuk beradaptasi. Namun, kemudian bisa menikmati kehidupan di pesantren.

Di pondok berbagai kegiatan dilakoni. Termasuk terlibat dalam organisasi ekstrakurikuler pondok. Mulai dari organisasi kompleks atau wisma pesantren. Kala itu, ia menjabat seksi akomodasi dan konsumsi. Pengalaman berorganisasi ini menjadi bekal ketika keluar dari pesantren.

Usai dari Tebuireng pada 1982, Rouf berencana memperdalam ilmunya ke Ponpes Lirboyo, Kediri. Menimba ilmu bareng kakaknya. Namun, keinginannya terkendala biaya. Tanaman di sawah orang tuanya diserang hama. Gagal panen.

“Orang tua saya sedih karena tidak bisa membiayai saya mondok lagi. Kondisi pertanian waktu itu sedang hancur. Saya pun memilih pulang,” ujar politisi yang kini tinggal di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, ini.

Keluar dari pondok, Rouf menganggur. Namun, kemudian pamannya memberinya pekerjaan. Sebagai sopir pikap di toko bangunan kawasan Gempol. Rouf juga sempat mendaftarkan diri menjadi CPNS di Departemen Keagamaan pada 1983. Namun, bapak tiga anak ini tak lolos. Tahun berikutnya, kembali mendaftar untuk menjadi CPNS di Kemenag di Surabaya. Lagi-lagi gagal.

Meski sudah menjadi sopir pikap, Rouf masih terus berusaha menimba ilmu. Pada 1984, ia memutuskan kuliah di IKIP PGRI Pasuruan. Selain dekat rumah, juga tidak mengganggu pekerjaannya. Pagi bekerja, sore kuliah. 

Selain bekerja di toko bangunan, Rouf juga pernah menjadi guru di SMP Islam Yayasan Pendidikan Agama Islam di Gondanglegi. Saat itu, statusnya juga mahasiswa. Kurang lebih tiga tahun mengajar.

Rouf menamatkan pendidikan sarjana jurusan PMP KN di IKIP PGRI pada 1989. Pada 1990, mengikuti seleksi sekretaris Desa Gununggangsir. 

“Saya diminta beberapa tokoh masyarakat mengikuti seleksi. Selain saya, ada tiga calon lain yang mendaftar. Tapi, waktu tes mereka mundur. Tidak hadir,” jelasnya.

Ia pun mengemban jabatan sekdes Gununggangsir. Karena itu pula, Rouf melepas jabatan sebagai guru SMP. Pada 1998, mundur sebagai sekdes. Memilih mendaftar sebagai calon legislatif dari PKB.

Rouf dipercaya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, tak lepas dari jabatannya sebagai sekretaris MWC Nahdlatul Ulama (NU) Beji. Rouf yang juga menjabat DPAC PKB Kecamatan Beji, diminta mencalonkan diri.

Ternyata, mulus. Dalam Pileg 1999, ia mendapatkan dukungan masyarakat. Menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan untuk kali pertama. Pada 2004, kembali dipercaya menjadi anggota dewan. Pada Pileg 2009, Rouf gagal. Namun, pada 2014 kembali terpilih begitu juga pada pileg 2019. Kini, ia tergabung dalam komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan.

Menurutnya, semua ini tak lepas dari didikan di pesantren dan organisasi. Rouf banyak berkecimpung dalam organisasi kemasyarakatan. Ia menjadi Ketua PR GP Ansor Gununggangsir pada 1995. Kini, ia juga menjadi Sekretaris PC NU Bangil.

Di dewan, Rouf juga sempat menduduki jabatan penting. Seperti ketua Fraksi PKB dan ketua DPRD Kabupaten Pasuruan sementara pada 2019.

Ia berpesan kepada generasi muda dan kalangan santri untuk tetap berjuang menggapai impian. “Jangan pernah menyerah meski lelah. Karena, bakal ada hasil baik yang akan dirasakan,” ujarnya. (one/rud/*) Editor : Ronald Fernando
#dprd kabupaten pasuruan #santri yang politisi