------------------------------------------------------------------------------------------------------
LAHIR dan besar di Kota Pasuruan, membuat H.M. Nawawi kental dengan kehidupan santri. Pria kelahiran tahun 1977 ini mengawali karir politiknya dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai yang didirikan sejumlah tokoh Nadlatul Ulama (NU).
Nawawi merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Kakaknya, mantan Wali Kota Pasuruan Aminurrohman, terlebih dahulu terjun ke dunia politik.
Nawawi menghabiskan pendidikan dasar sampai menengah di Kota Pasuruan. Setelah lulus dari SMA 3 Kota Pasuruan, ia mencari pengalaman dengan bekerja di PT Meiji.
“Setelah lulus SMA, saya langsung bekerja. Setelah mempunyai pendapatan sendiri, saya juga ikut kelas karyawan dengan mengambil kuliah di STMIK Yadika Bangil,” ujarnya.
Berjuang merangkak dari bawah, Nawawi mengatakan, sangat berpegang teguh terhadap ajaran sang guru, Habib Taufik bin Abdul Qodir Assegraf. Sejak remaja, Nawawi memang rutin mengaji di Madrasah Sunniyah Salafiyah yang kini menjadi Pesantren Sunniyah Salafiyah Pasuruan.
Nawawi mengaku biasa mengaji selepas magrib. Mulai dari belajar bahasa Arab, fikih, hadis, dan sebagainya. Selain ilmu agama, katanya, ada kebiasaan rutin yang paling diingat saat belajar kepada Habib Taufik. Yakni, memegang teguh budaya disiplin dan fokus.
“Saya banyak belajar dari Habib Taufik, bahwa kita harus rutin disiplin dan fokus dalam mengerjakan apapun. Juga wajib mengamalkan ilmu agar berkah,” ungkapnya.
Nawawi sendiri mulai terjun ke politik sejak 1999. Diawali dari jabatan sebagai Sekretaris Ranting PKB Kelurahan Kebonsari. Pada tahun selepas reformasi itu, ia terpanggil dan ikut merasa tergerak terjun ke politik.
Setelah 10 tahun menjadi pengurus PKB, Nawawi mulai ikut dalam kontestasi politik. Mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Pasuruan dari daerah pemilihan Kecamatan Purworejo.
Ternyata, dari pencalonan pertamanya, langsung terpilih. Masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi anggota DPRD periode 2009-2014. Para pemilihan legislatif pada 2014, kembali nyaleg. Namun, kala itu gagal.
Tak menyerah, Nawawi kembali berusaha pada 2019. Ia pun kembali melenggang ke kantor DPRD Kota Pasuruan. Bahkan, meraih suara terbanyak di Kota Pasuruan. “Ternyata bisa terpilih di dapil Kecamatan Panggungrejo,” ujarnya.
Pada periode kedua ini, Nawawi dipercaya menjadi ketua Komisi 1 DPRD Kota Pasuruan. Membidangi pendidikan dan kesehatan.
Menurutnya, sebagai kader partai memang diajarkan untuk pantang menyerah. Kendati sempat tidak terpilih pada periode 2014-2019, ia tetap aktif di pengurusan PKB. Bahkan, pada 2022, didapuk sebagai wakil ketua I PKB Kota Pasuruan.
Sebagai pengusaha transportasi, Nawawi mengatakan, karakter NU kental dengan kehidupan sehari-hari. Baik di dunia bisnis maupun politik. Termasuk dengan guyub bermasyarakat. Nawawi bisa menyuarakan aspirasi masyarakat di legislatif.
“Karena sudah terbiasa dengan budaya santri, jadi terbiasa dengan adab kesantrian. Seperti taat kepada guru. Dan berprilaku menjunjung tinggi akhlak dan adab santri,” ujarnya.
Karakter itulah yang terbawa mulai dari lingkungan pekerjaan, keilmuan, bisnis, dan saat menjadi politikus. Sebagai legislatif, Nawawi mengatakan, bisa lebih memberikan manfaat yang lebih luas dengan kebijakan politik yang diembannya saat ini bersama PKB.
“Yang terpenting juga kita tetap menjaga kepercayaan, sehingga tetap punya nilai dan bagaimana kita bisa bermanfaat lebih luas kepada masyarakat, terutama di Kota Pasuruan,” ujarnya.
Kini, selain menjadi Ketua Komisi 1 di DPRD Kota Pasuruan, Nawawi juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah Nurut Thoyib di Pledo’an, Kelurahan Kebonsari, yang merupakan yayasan keluarga. (eka/rud/*) Editor : Ronald Fernando