Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Ilmi, Pengasuh Ponpes Alqusyairi Rejoso yang Jago Mendesain Logo

Jawanto Arifin • Selasa, 4 April 2023 | 18:40 WIB
JAGO DESAIN LOGO: Pengasuh Ponpes Alqusyairi, Kecamatan Rejoso, Achmad Mi’yarul Ilmi atau Gus Ilmi menunjukkan salah satu desain logo karyanya. (Muhamad Busthomi/jawa Pos Radar Bromo)
JAGO DESAIN LOGO: Pengasuh Ponpes Alqusyairi, Kecamatan Rejoso, Achmad Mi’yarul Ilmi atau Gus Ilmi menunjukkan salah satu desain logo karyanya. (Muhamad Busthomi/jawa Pos Radar Bromo)
Achmad Mi’yarul Ilmi boleh dibilang gus milenial. Di pesantren, dia menjadi kiai muda yang mengasuh santriwati. Di luar, dia membuka majelis dakwah Ngaji Lan Ngopi. Di sisi lain, dia juga jago mendesain logo. Karyanya bahkan dijual sampai luar negeri.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Menuangkan ekspresi dalam bentuk visual memang sudah menjadi kegemarannya sejak lama. Bahkan, semasa kecil, dia tak bisa jauh dari pensil, kertas, dan krayon. Sejak TK, beberapa lomba menggambar pernah diikuti.

Itulah sekilas tentang Achmad Mi’yarul Ilmi, 29. Pengasuh Ponpes Alqusyairi di Dusun Ngebras, Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, yang juga jago mendesain logo.

Kegemarannya itu semakin terasah ketika kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Dia memang seorang mahasiswa psikologi. Namun, dia juga berkecimpung di Satuan Desain Mahasiswa (Sadewa). Komunitas itulah yang mengembalikan memori masa kecilnya terhadap dunia menggambar.

”Bedanya hanya pada tools yang digunakan. Tidak lagi memakai pensil dan kertas,” kata Gus Ilmi, sapaannya.

Baginya, tidak sulit untuk memahami teknik menggambar yang sudah menerapkan teknologi. Apalagi jika sudah terbiasa mengasah imajinasi. Namun untuk membuat logo, tidak bisa sembarangan. Setidaknya, harus memahami tipologi logo itu sendiri.

”Dan, setiap membuat desain memang memiliki ciri dan caranya masing-masing,” katanya.

Dia mulai serius menggeluti dunia desain logo selepas menikah pada 2018. Karena bagaimana pun, dia punya tanggung jawab baru. Harus menghidupi anak orang yang dipersuntingnya sebagai istri.



Dengan kegandrungannya terhadap sepak bola, Gus Ilmi sempat berencana menjual jersey tim-tim liga. Namun, dia me-remake logo-logo tim tersebut. Dengan mengusung konsep fantasi, sehingga kesannya lebih modern.

”Karena saya lihat logo-logo tim bola kita kan tidak komersil, kurang modern. Makanya saya me-remake dengan nuansa fantasi,” katanya.

Dulu belum banyak desainer yang me-remake logo-logo tim sepak bola. Beda dengan sekarang yang sudah menjamur. Untuk tim Liga 1 saja, ada 18 logo tim yang sudah di-remake. Belum lagi tim-tim Liga 2 dan Liga 3.

Semua desainnya sudah jadi. Nuansanya lebih segar dan kekinian. Gus Ilmi sudah optimistis jualannya bakal laris manis. Apalagi setelah semua desain itu diunggah ke Instagram. Jumlah follower-nya melejit hingga tembus 15 ribu.

”Tapi, rencana itu saya batalkan sendiri,” katanya.

Ia mengurungkan niatnya berjualan jersey tim bola dengan logo fantasi. Mulanya karena dia harus mengerjakan orderan logo. Lama-lama semakin banyak orang yang justru memintanya membuat desain logo sesuai permintaan mereka.

Gus Ilmi pun cepat-cepat melirik peluang itu. ”Akhirnya sekalian saya buka jasa desain,” ungkapnya.

Bahkan, suatu ketika dia mendapat pesanan langsung dari Jaino Matos. Pelatih sepak bola asal Brasil itu memintanya membuat logo untuk Badak Lampung FC.



Inilah yang menarik. Suporter tim itu mungkin tak banyak yang tahu bahwa Gus Ilmi adalah orang di balik logo tim kesayangan mereka. Sebab, memang ada perjanjian antara Gus Ilmi dengan Jaino Matos.

”Karena memang itu kategori corporate, jadi mereka nggak mau diumumkan dulu sebelum launching oleh manajemen,” katanya.

Jaino Matos saat itu hanya mengizinkan Gus Ilmi melemparkan beberapa clue mengenai logo Badak Lampung FC yang baru. Selepas itu, semakin banyak pesanan logo yang diterimanya. Nama usahanya, logoal.co makin banyak dikenal orang.

Bahkan, dia sempat ditawari empat perusahaan jasa desain. Keempatnya ditolak. Gus Ilmi ingin kemampuannya mendesain tidak sampai mengganggu aktivitasnya. Sebab, dia juga punya tanggung jawab untuk mengajar santriwati di Ponpes Alqusyairi yang baru didirikannya pada 2020.

”Bukan berarti saya menolak datangnya rezeki,” ungkapnya.

Kendati demikian, pesanan demi pesanan terus datang. Bahkan, bukan hanya dari kota-kota di Indonesia. Gus Ilmi juga tak sekali dua kali mendapat pesanan dari luar negeri. Seperti Malaysia, Singapura, China, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

”Kebanyakan permintaan untuk bikin logo restoran, clothing, dan sepeda,” bebernya.

Namun, ada juga beberapa pesanan yang terlewati. Hal itu tidak lepas dari kesibukan Gus Ilmi mengasuh santrinya. Sehingga, terkadang dia juga tak sempat membuka e-mail ataupun direct message. Seperti pesanan yang mestinya digarap dari Rusia, Jerman, dan Amerika baru-baru ini.



”Apalagi waktu antarnegara kan berbeda. Perbedaannya terkadang cukup panjang. Sehingga, beberapa terlewatkan,” ungkap dia.

Selebihnya, Gus Ilmi harus tetap membagi waktu antara tugasnya mengajar santri dengan menggarap pesanan desain logo. Karena itu, dia biasanya mengerjakan desain sepanjang malam. Ketika semua aktivitas pesantren sudah kelar.

Itu pun terkadang masih membuatnya kewalahan. Seperti ketika menerima pesanan dari perusahaan di Filipina. Pemesannya meminta revisi sampai lebih dari lima kali. Otomatis Gus Ilmi juga meminta kelonggaran waktu. Lantaran aktivitasnya di pesantren tidak bisa diganggu.

”Saya bilang kalau pengerjaannya hanya malam hari. Karena pagi sampai sore saya punya tanggung jawab ke santri,” katanya.

Beruntung kondisi itu dipahami oleh si pemesan. Malah pihak perusahaan itu memberikan donasi untuk pembangunan di pesantrennya.

”Padahal pesanannya saja sudah sampai Rp 3 juta saat itu. Tapi, masih ngasih donasi untuk pesantren,” kata lulusan Ponpes Fathul Ulum Kwagean itu. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#Ponpes Alqusyairi #Gus Ilmi Rejoso