------------------------------------------------------------------------------------------------------
SKA merupakan pendahulu rocksteady dan reggae. Di dalamnya menggabungkan unsur-unsur musik mento dan musik kalipso dari Karibia dengan jazz dan rhythm and blues dari Amerika Serikat.
Di Indonesia, ska mulai populer sejak sekitar 1990-an. Di Pasuruan, mulai populer sejak sekitar awal 2000-an. Sejauh ini, pengagumnya bermunculan. Komunitasnya terus eksis. Meski tidak sebanyak dulu.
“Selain musik yang mudah dinimati dan diterima semua kalangan, ska menurut saya adalah genre musik pemersatu,” ujar pecinta musim ska asal Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Akhmad David Setiawan, 33.
Menurutnya, aliran musim ini menarik karena selalu happy. Kebanyakan mengusung isu-isu sosial dan cinta. Tentunya antirasis. Genre ini makin asyik ketika dipadukan dengan rock, punk, bahkan orkestra.
Maklum, musisinya tak hanya diisi pemain gitar, bas, drum, dan keyboard. Ada juga ahli terompet, saksofon, trombone, bahkan sampai biola. Tak heran, bila setiap kali musik ska dimainkan oleh band ska, semuanya kompak berjoget ala ska.
“Tanpa dikomando, saat live performance, pasti kompak joget atau dansa skanking dengan sendirinya. Baik yang nge-band dan penontonnnya. Pokoknya asyik dan happy,” ujar Fajar Zamrotul Diya Aulady, warga Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Sejauh ini, banyak band beraliran ska di Pasuruan, masih tetap eksis. Mereka juga melahirkan sejumlah lagu. Bahkan, ada yang sampai rekaman. (zal/rud)
Identik dengan Penampilan Rapi
STYLE unik dari musik ska juga terlihat dari para pemain musiknya. Termasuk penyuka sekaligus komunitasnya. Kebanyakan mereka memakai outfit yang rapi dan formal. Seperti memakai jas. Bahkan, lengkap dengan dasi dan sepatu bot atau pantofel.
“Ska ada ciri khasnya. Bisa ditandai dengan memakai topi newsboys cap atau lainnya. Juga memakai setelan yang rapi dan memakai bot,” ujar Fajar Zamrotul Diya Aulady.
Selain rapi, style pakaian mereka juga identik dengan motif kotak-kotak hitam putih. Soal pilihan pabrikan, bisa dari luar dan dalam negeri. “Seiring berjalannya waktu, style dan lambang tersebut menjadi ciri khas aliran ska hingga sekarang,” kata Akhmad David Setiawan.
Identitas ini kebanyakan digunanakan saat ada event dan perform. Di luar itu, jarang. Paling hanya memakai topi dan kaus. Namun, ada juga yang menjadikan fashion ala ska sebagai gaya hidup.
“Di lapangan ada orang yang suka musiknya, tidak suka fashion-nya. Ada juga yang suka fashion-nya, tidak suka musiknya. Lalu, ada yang suka keduanya. Baik musik maupun fashion-nya,” jelas David. (zal/rud)
Dapat Dinikmati Berbagai Kalangan
SAMA dengan genre musik lainnya, ska juga punya event tertentu. Mulai tingkat daerah hingga internasional. Event inilah yang menjadi ajang silaturahmi.
“Event besar minimal satu tahun sekali. Major event 3-5 tahun sekali. Intinya, di ska ada event tertentu setiap tahunnya,” ujar Fajar Zamrotul Diya Aulady.
Dalam tiap event, kata Fajar, diisi dengan live performance band-band ska. Selain itu, juga sering ada selector atau DJ Sound System. Setiap pertunjukkan dapat disaksikan dan dinikmati berbagai kalangan dan dari segala usia. “Dari berbagai daerah datang. Kumpul jadi satu. Juga sangat antusias,” ujarnya. (zal/rud) Editor : Ronald Fernando