Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dari Bekal Nyantri, HM. Shobih Asrori Bisa Terjun ke Dunia Politisi

Ronald Fernando • Sabtu, 25 Maret 2023 | 14:57 WIB
ALUMNI SIDOGIRI: Shobih Asrori yang saat ini menjadi Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)
ALUMNI SIDOGIRI: Shobih Asrori yang saat ini menjadi Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)
Kehidupan pesantren membuat HM. Shobih Asrori mendapatkan banyak bekal keilmuan. Tidak hanya tentang agama. Tetapi juga ilmu sosial untuk berinteraksi dengan banyak orang. Dari situpula, ia bisa terjun ke dunia politik, hingga menjadi Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan hingga saat ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

TIDAK ada dalam benak HM. Shobih Asrori untuk menjadi politisi sebelumnya. Saat ia masih kecil, keinginannya hanyalah untuk menimba ilmu agama dan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Maklum, selain ia merupakan anak pertama dari 14 bersaudara, orang tuanya juga berbasis pesantren.

Photo
Photo
Sejak belia, Gus Shobih memang dididik di dunia pondok pesantren. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)

Bahkan abahnya yakni KH. Munir Ali merupakan pendiri Pondok Al Ishlah di Madurejo, Kecamatan Wonorejo. Sementara umiknya, Hj. Cholilah Ahmad Jufri, mendampingi sang abah untuk membesarkan pondok pesantren tersebut.

“Belajar di pesantren memang menjadi kemauan saya. Karena itu sejak lulus SD, saya memilih untuk meneruskan pendidikan di pondok pesantren,” ungkap lulusan SDN Kejayan saat kelas 1 dan 2 ini, serta lulusan SDN Pakijangan 1 saat kelas tiga dan SDN Wonorejo 1 saat kelas 4 sampai 6 ini.

Gus Shobih-sapaan HM. Shobih Asrori mengungkapkan, usai menamatkan pendidikan sekolah dasar, ia memilih untuk meneruskan pendidikannya di Pondok Pesantren (Ponpes) Sidogiri, Kecamatan Kraton. Alasannya, Ponpes Sidogiri termasuk salah satu pondok pesantren ternama di Indonesia. Hingga beberapa tahun mondok di Sidogiri, ia kemudian dipercaya untuk tugas mengajar di Pondok Pesantrel Al Kholiliya, Kepang, Kabupaten Bangkalan, Madura.

Photo
Photo
Sejak belia, Gus Shobih memang dididik di dunia pondok pesantren. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)

Namun itu tak lama. Dia kemudian memilih untuk kembali mondok. Gus Shobih memilih untuk memperdalam keilmuan agamanya, di Ponpes Al Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pilihannya untuk mondok di Al Anwar  karena tempat ini menyediakan Bahtsul Masa’il atau diskusi masalah kitab, yang membuatnya tertarik untuk memperdalam keilmuan.

Apalagi, banyak tokoh yang dilahirkan Ponpes Al Anwar. Seperti KH. Abdul Alim bin Abdul Jalil Sidogiri. Dan seabrek ulama lainnya.

Selama mondok di Al Anwar tersebut, banyak suka ataupun duka yang dialaminya. Misalnya, ketika ia harus mandi. Jangan dikira, bisa mandi dengan mudah. Karena, untuk mendapatkan air tawar untuk mandi, sangatlah susah.

Ia dan santri lainnya, harus menumpang angkutan umum. Agar bisa ke tempat pemandian yang jaraknya hingga 5 km. “Maklum, di tempat mondok saya waktu itu, air tawar susah. Bahkan, kami terbiasa untuk mandi dengan air asin,” kisah Gus Shobih.

Layaknya kehidupan pondok pesantren pada umumnya, didikan kemandirian dan kedisiplinan senantiasa diajarkan kepada santri. Termasuk dirinya. “Untuk mencuci pakaian kami lakukan sendiri. Begitu juga dengan makan. Kami masak sendiri. Jadi, benar-benar dilatih mandiri,” sampainya.

Photo
Photo
Sejak belia, Gus Shobih memang dididik di dunia pondok pesantren. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)

Hingga beberapa tahun lamanya ia mondok di Al Anwar. Gus Shobih lantas memilih untuk berkhidmah atau melayani sang gurunya, KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al Anwar yang meninggal di Makkah tahun 2019 lalu.

Ia memilih berkhidmah dengan menjadi sopir bagi sang guru, yang merupakan kyai kondang dan dakwahnya menjangkau seluruh Indonesia. Empat tahun lamanya ia mengabdikan diri kepada sang kyai.

Hingga kabar haru menimpa Gus Shobih. Ketika itu, ia dijemput keluaganya. Lantaran orang tuanya sakit keras. “Saya memilih untuk pulang dan menunggui orang tua saya. Hingga 27 Ramadan kemudian, abah saya meninggal dunia,” tuturnya.

Masa muda yang banyak dihabiskan di pondok, membuat banyak masyarakat Wonorejo yang mengelukan Gus Shobih. Terbukti, tahun 1996 kemudian. Ia dipaksa untuk menjadi pengurus PPP di Kecamatan Wonorejo.

Dari situlah, karir politiknya mulai diukir. Karena pada 1997 kemudian, dia dicalonkan menjadi legislatif dan berhasil menjadi wakil rakyat. “Saya memang buta tentang politik waktu itu. Saya terjun di dunia politik, karena dorongan tokoh-tokoh masyarakat,” beber politisi yang sempat merasakan jabatan Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan tersebut.

Photo
Photo
Sejak belia, Gus Shobih memang dididik di dunia pondok pesantren. (Foto : Gus Shobih for Jawa Pos Radar Bromo)

Hanya selang dua tahun kemudian, masa reformasi membuat harus membuatnya untuk mengikuti pemilihan kembali. Namun tidak dengan PPP. Karena, pada tahun 1998, ada partai baru, PKB yang membuatnya akhirnya berlabuh ke partai tersebut. Ia pun dicalonkan oleh partai berlambangkan bola dunia dan juga sembilan bintang tersebut.

Dari situlah, ia kemudian didapuk kembali menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan saat pemilu 1999 silam.  Bahkan, pada pemilu berikutnya, tahun 2004, ia kembali terpilih untuk menjadi wakil rakyat.

Konsistensi Gus Shobih sebagai politisi, berlanjut hingga pemilu 2009. Ia kembali dipercaya untuk menduduki kursi dewan di Raci. Begitu juga ketika tahun 2014 dan pemilu 2019 kemudian. Ia terpilih kembali. Bahkan, saat ini, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan.

Meski awalnya buta tentang politik, Gus Shobih mengklaim kalau banyak memperoleh pelajaran berharga saat mondok. Khususnya, dalam hal organisasi ataupun kegiatan sosial. Ia masih ingat ketika banyak santri di Al Anwar Sarang yang ternyata banyak dari Pasuruan.

Namun antara satu dengan yang lainnya, kerap tidak mengetahuinya. Hingga akhirnya, ia membentuk Ikatan Keluarga Santri Pasuruan Komisariat Ponpes Sarang Rembang tahun 1992 silam. Dari situlah, mereka saling mengenal.

“Kami sering keliling kampung-kampung untuk menerima titipan kiriman anak-anak pondok dari keluarganya. Dari situlah, kami mengenal banyak orang,” paparnya.

Gus Shobih muda, saat itu juga aktif di berbagai organisasi. Mulai dari Pengurus Anshor Kecamatan Wonorejo, LBM NU Cabang Pasuruan hingga mendirikan Kelompok Bimbingan Haji NU. Bahkan ia didapuk sebagai ketua KBIHU NU cabang Kabupaten Pasuruan sampai sekarang.

“Pendirian bimbingan haji NU itu, awalnya terbersit karena adanya orang haji tanpa Towaf Ifadhoh. Padahal, hal itu wajib dilakukan. Karena bila tidak, maka tidak boleh mengumpuli pasangannya selamanya,” beber politisi yang juga pendakwah ini.

Bukan hanya di organisasi NU. Gus Shobih juga aktif sebagai pengurus PKB. Semula, ia hanya didapuk sebagai Ketua PAC PKB Wonorejo. Namun jabatannya terus berkembang, hingga Wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Pasuruan. (one/fun/*) Editor : Ronald Fernando
#santri yang politisi #shobih asrori