RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo
Bagi wisatawan yang ke Pasuruan, belum lengkap bila tak berkunjung di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Berada di dataran tinggi, membuat kawasan setempat menyimpan banyak hidden gems wisata yang instagramable.
Prigen bukan hanya Tretes. Di Desa Sukoreno, yang memiliki ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan air laut (dpl), juga terdapat sejumlah wisata. Salah satunya Coban Segrayah.
Wisata air terjun ini ada di aliran Kali Trawas. Di kawasan perbatasan antara Dusun Kesiman dengan Brubuh, Desa Sukoreno, Kecamatan Prigen.
Beberapa waktu lalu, Jawa Pos Radar Bromo berkesempatan mengunjunginya. Lokasinya mudah dijangkau. Hanya sekitar 300 meter dari jalan kabupaten yang menghubungkan kecamatan Gempol–Prigen. Untuk ke lokasi, bisa dilalui dengan jalan kaki, naik sepeda pancal, hingga motor.
Pengunjung yang naik motor, parkirnya di lokasi seperti lapangan. Setelah itu, dilanjut jalan kaki. Saat terdengar suara gerojokan air, itu menandakan sudah dekat dengan coban.
Benar saja, tak lama kemudian, pemandangan indah menghampar. Nuansanya masih sangat alami. Tinggi air terjunnya sekitar enam meter saja. “Lantaran itu, warga lebih sreg menyebutnya dengan coban. Bukan air terjun,” terang Heri Siswoyo, warga Dusun Brubuh yang juga pengurus BPD Sukoreno.
“Paling ramai dikunjungi Sabtu dan Minggu atau saat hari libur nasional. Biasanya ramai dari pagi sampai sore. Pengunjung yang naik motor, parkirnya di lapangan. Setelah itu, dilanjut jalan kaki,” imbuhnya.
Sekdes Sukoreno Baron Efendy menerangkan, warga sudah mengetahui Coban Segrayah sejak dulu. “Air terjun ini jadi jujukan para pemuda untuk mandi. Tapi, untuk masyarakat umum, wisata ini baru bomming sekitar 2020 lalu,” terangnya.
Persisnya saat pandemi lalu. Saat sejumlah tempat wisata tutup, warga banyak meng-explore sejumlah wisata alam. Coban Segrayah pun kian banyak dikenal.
Tak hanya warga Pasuruan. warga dari Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya, banyak berdatangan. “Selain aksesnya mudah, di sini (Coban Segrayah) kan masih gratis,” cerita Baron.
Saat masuk musim hujan seperti saat ini, debit air di Coban Segrayah mengalir deras. Hulu sungai setempat ada di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Meskipun air cobanya mengalir deras, namun disebutkan Baron masih cukup aman. Saat hujan turun, wisatawan harus berhati-hati. Sebab, debit air kian tinggi. Bebatuannya pun licin. Lantaran itu, saat hujan turun, tak disarankan ke lokasi.
Di titik air terjun, kedalaman sungai mencapai sekitar 1,5-2 meter. Lumayan dalam. Lantaran itu, kebanyakan pengunjung lebih memilih mandi di tepian sungai. Tidak langsung di bawah air coban.
Keberadaan Coban Segrayah pun dinilai sangat potensial untuk lebih dikembangkan lagi. Lantaran itu, pihak desa berencana menjadikan kawasan setempat sebagai objek wisata unggulan.
“Kini masih dipikirkan dan mulai dirintis. Semoga saja ke depannya bisa terealisasi (rencana pengembangan wisatanya). Tentunya, juga dikelola dengan maksimal,” harap Heri.
Sementara itu, Firmansyah, 22, salah seorang pengunjung asal Sidoarjo yang datang bersama sejumlah temannya mengaku, kawasan setempat masih alami. “Saya baru kali ini ke sini. Ternyata cobannya bagus. View sekelilingnya menawan. Airnya cukup jernih dan dingin. Apalagi, udaranya sejuk sekali di sini,” tuturnya.
Hal senada juga diutarakan Muhammad Rizki Firdaus, asal Kecamatan Gempol. Meski sudah beberapa kali datang ke sana, ia mengaku tak bosan dan kerap ingin datang lagi.
“Bagus. Masih alami semuanya. Tapi sayang, di sekeliling gerojokan atau cobannya seringkali didapati ada sampah. Kalau kemudian dijadikan wisata, keberadaan sampah-sampah itu harus diperhatikan,” harapnya. (mie) Editor : Jawanto Arifin