FAHRIZAL FIRMANI, Kanigaran, Radar Bromo
DESY sebenarnya tidak sengaja menekuni usaha makanan bubur bayi. Saat itu, tahun 2014, dia melihat masih jarang warga Kota Probolinggo yang menjual bubur bayi. Kebanyakan, bubur ayam.
Kondisi ini dinilai Desy sebagai peluang usaha. Maka, dia pun berinisiatif menjual bubur bayi. Staf bidang pelayanan e-government di Diskominfo ini awalnya berjualan dengan menggunakan booth di depan KB Mentari Kota Probolinggo.
Lokasi itu dinilainya potensial karena ada tempat penitipan anak. Tapi, usahanya itu hanya bertahan sebulan. Sebab, tidak banyak pembeli saat itu yang berminat. Dalam sehari, bubur bayi buatannya hanya terjual 10 cup.
Desy lantas pindah lokasi berjualan di Jalan Cokroaminoto, depan Gang Kapuran. Lokasi ini dipilih karena berdekatan dengan rumah kontrakannya.
Pilihannya terbukti tepat. Di Jalan Cokroaminotor yang dikenal padat lalu lintas, usahanya lebih laris. Berbeda dengan sebelumnya, ia berjualan menggunakan rombong.
Dalam sehari, ia mampu menjual lebih dari 60 cup. Pelanggannya tidak hanya mereka yang tinggal di Jalan Cokroaminoro, tapi hingga Mayangan dan Randu Pangger.
“Awal berjualan, bubur bayi ini saya jual dengan harga Rp 3.000. Ternyata setelah pindah ke Jalan Cokro malah ramai. Mungkin karena banyak pengendara yang lalu lalang,” kata warga Jalan Pahlawan, Gang Kemiri, ini.
Karena usahanya laris, ia pun menambah lokasi berjualan sejak 2015. Selain di Jalan Cokroaminoto, ia juga berjualan di Randu Pangger, Alun-alun Kota Probolinggo, dan di depan Perum Asabri, Kecamatan Kanigaran. Semuanya menggunakan rombong. Setiap rombong dijaga oleh karyawan yang diberi upah.
Awalnya, usahanya itu laris. Namun, pandemi Covid-19 juga memukul bisnis bubur bayi milik Desy. Banyak pelanggannya yang mengurangi pembelian mereka.
Sebelum pandemi, satu pelanggan bisa membeli lebih dari dua cup. Saat pandemi, itu semua jauh berkurang. Bahkan, omzetnya menurun. Karena kondisi itu, rombong di Randu Pangger pun ditarik pada 2020. Namun, yang lain dipertahankan.
“Tiga lokasi lainnya tetap ada. Setiap harinya bisa laku di atas 30 cup. Sekarang harga per cup Rp 4.000. Jualannya mulai pukul setengah enam pagi sampai setengah sembilan,” jelas lulusan Politeknik Surabaya ini.
Bubur bayi yang dijualnya ini bukan sekadar bubur biasa. Tapi, ada campuran sayur dan lauk. Dan setiap hari, menu bubur yang dijual selalu berbeda. Misalnya, ada bubur jagung, tempe, keju, dan ayam. Ada juga kacang panjang, wortel, tomat, dan ikan. Dan beberapa menu yang lain. Sehingga, Desy pun memastikan bubur bayi yang dijualnya itu bergizi.
“Pelanggan saya tidak hanya bayi. Ada juga orang tua yang anaknya sudah usia delapan tahun. Katanya, anaknya tidak suka sayur. Tapi, ternyata makan bubur saya malah doyan,” sebutnya.
Istri dari Ahmad Faizal Arfi ini menerangkan, bubur bayi olahannya memiliki sejumlah kelebihan. Yakni, menggunakan beras organik, tidak memakai MSG, dan lauknya selalu dikukus lebih dahulu agar higienis.
Sebagai PNS, ia pun harus pandai mengatur waktu. Ia harus bangun pukul 03.00 untuk menyiapkan bubur masakannya. Sebab, pada pukul 05.00, tiga karyawannya sudah datang ke rumahnya untuk mengambil bubur itu.
Saat ia ada dinas ke luar kota atau harus lembur mengerjakan tugas dari Pemkot, suaminya yang menggantikannya memasak bubur. Karena bagaimanapun, tugasnya sebagai ASN Pemkot tetap yang utama.
Perempuan kelahiran Desember 1987 ini menyebut, bubur bayi buatannya tidak menggunakan aplikasi online untuk pemasarannya. Namun, ia tetap menyediakan delivery order bagi pembeli dalam kota. Harganya pun sama dengan membeli langsung.
“Hanya menambah uang untuk jasa pengiriman saja. Asalkan warga Kota Probolinggo, kami bisa antar. Harga tetap Rp 4000 per cup,” pungkas perempuan asli Kabupaten Lumajang ini. (hn) Editor : Jawanto Arifin