IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo
Pria yang akrab disapa Judin tersebut, tampak begitu serius. Matanya begitu awas. Melihat pergerakan tangan muridnya menyervis smartphone di sampingnya.
Sesekali ia memandu. Mengarahkan tangan muridnya itu saat mengotak-atik smartphone di depannya. Aktivitas itulah yang biasa dilakukannya ketika pulang bekerja.
Instruktur servis smartphone di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Pasuruan, ini tak jarang “membawa” anak didiknya belajar di rumahnya. Tentunya, ketika tugas di kantornya sudah selesai.
Hal ini dilakukannya agar anak didiknya benar-benar menguasai teknis servis smartphone yang digeluti mereka. “Biasanya siang hari setelah pulang kantor, saya membuka pembelajaran di rumah. Harapan kami agar anak-anak bisa cepat menguasai materi,” ungkap Judin saat ditemui di rumahnya.
Kelahiran 24 Agustus 1984 ini mengungkapkan, menjadi instruktur bagi kalangan disabilitas sudah dilakoninya sejak 2019. Ketika itu, ia diminta UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Pasuruan di Dermo, Kecamatan Bangil, untuk mengajar di sana.
Mulanya ia menolak. Karena ia kerap “gugup” jika harus mengajar di depan orang banyak. “Namun, karena Abah saya nyuruh, akhirnya saya menyanggupi. Sampai sekarang, saya menjadi instruktur di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Pasuruan tersebut,” beber dia.
Menjadi instruktur di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Pasuruan tak dilakukannya serta merta. Ia memang memiliki keahlian di bidang servis smartphone. Hal itu tak lepas dari pelatihan-pelatihan yang diikutinya.
Lulusan SMKN 1 Bangil tahun 2003 ini diajak belajar servis handphone di ITS oleh rekannya ketika lulus sekolah. Sempat urung ikut pelatihan lantaran tidak ada biaya. Hingga rekannya lulus pelatihan.
Ia pun belajar darinya. Bekal dari pembelajaran elektronika di sekolah kejuruan, membuatnya cepat paham. Hanya dua bulan berselang, ia sudah menyerap ilmu yang didapatkan temannya dari pelatihan servis handphone tersebut. Dari situlah, ia mulai menerima layanan servis handphone.
“Namun, kala itu belum membuka layanan sendiri. Masih ikut konter-konter handphone,” kisah suami dari Siti Aisyah ini.
Hingga pada 2005, ia memilih untuk membuka jasa servis sendiri. Ia pun rutin ikut pelatihan. Segudang sertifikat pelatihan teknisi smartphone didapatnya. Termasuk dari Mikromedia STTSI Malang yang dibimbing oleh Yonki Velas, master teknisi smartphone.
Bapak tiga anak yang tergabung dalam Komunitas Tekhnisi Pasuruan (KTP) ini pun semakin mengembangkan usahanya. Tidak hanya menerima jasa servis. Ia juga melayani mereka yang hendak belajar servis.
“Selain cari uang, itung-itung ibadah untuk membantu orang agar mahir menyervis smartphone,” ungkapnya.
Saat itu, hanya satu atau dua orang. Karena ia merasa gugup kalau harus mengajari banyak orang. Baru tahun 2019, dia mendapat tawaran dari UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Pasuruan, Dinas Sosial Pemprov Jatim, untuk menjadi instruktur bagi kalangan disabilitas.
Judin mengaku, dirinya sempat menolak karena selama ini hanya mengajari orang per orang. Ada perasaan canggung atau gugup kalau harus mengajari banyak orang.
Namun, ia akhirnya menyanggupi. Setelah orang tuanya mengarahkannya. Agar ia mau menerima tawaran tersebut. “Sejak itulah saya menjadi instruktur di UPT tersebut,” jelasnya.
Meskipun menjadi instruktur bagi kalangan disabilitas tidak mudah. Terutama yang memiliki kekurangan fisik. Harus didasari kesabaran ekstra.
“Fisik mereka kan tidak seperti orang normal. Punya keterbatasan. Jadi, kesulitan dalam mengajari adalah hal yang wajar,” sambung dia.
Hal itu pernah dirasakannya ketika ada salah satu anak didiknya yang tidak punya tangan dan kaki sejak lahir atau tunadaksa. Saat pengenalan teori tentang software dan hardware, memang bisa dipahami dengan baik. Namun, ketika praktik, kesulitan dihadapi.
“Karena tidak punya tangan dan kaki, akhirnya menggunakan mulut. Dan hal itu jelas tidak mudah, ketimbang melatih mereka yang memiliki fisik normal,” jelasnya.
Karena itulah, kerap sekali butuh waktu lebih panjang untuk mengajari mereka yang memiliki keterbatasan fisik ketimbang mereka yang normal. Jika mereka yang normal butuh waktu tiga bulan, maka mereka yang memiliki keterbatasan fisik bisa sampai enam bulan. Bahkan lebih. “Hal inilah mengapa harus ekstrasabar,” imbuhnya.
Namun, tidak semua yang memiliki keterbatasan fisik lambat menangkap pembelajaran yang diberikan. Bahkan ketika praktik sekalipun. Karena tak jarang, ia mendapati anak didiknya begitu mahir. Bahkan, ada yang cepat tanggap sampai melebihi mereka yang memiliki fisik normal.
“Hal itu membuat saya senang. Puas rasanya. Kalaupun nantinya bisa melampaui saya, itu tidak menjadi masalah. Justru ada kebanggaan tersendiri dalam benak saya, bisa mengajari mereka sampai berhasil,” tandasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin