Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mohamad Tri Wahyu Irfani Tekuni Dunia Dalang Sejak Masih di Bangku SD

Ronald Fernando • Jumat, 3 Maret 2023 | 16:00 WIB
TERBIASA: Gaya Mohamad Tri Wahyu Irfani (Inset) saat mendalang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
TERBIASA: Gaya Mohamad Tri Wahyu Irfani (Inset) saat mendalang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
Menjaga warisan budaya memang tak mudah. Budaya populer menjadikan seni tradisi peninggalan nenek moyang terus tergerus. Tapi tidak di mata Mohamad Tri Wahyu Irfani. Pemuda asal Ledug, Prigen ini meyakini, seni pertunjukan tradisional masih ada tempat di masyarakat.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Photo
Photo
MASIH MUDA: Mohamad Tri Wahyu Irfani saat tampil di pertunjukkan wayang kult. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

SENYUM ramah terlihat di wajah Mohamad Tri Wahyu Irfani saat Jawa Pos berkunjung ke rumahnya di Lingkungan Paras, Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, sekitar akhir Januari lalu. Pemuda 24 tahun yang seharinya petani bunga tersebut, nampak santai.

Dari penampilannya, siapa yang sangka ternyata pemuda yang masih membujang ini adalah dalang wayang kulit. Bahkan dia terlibat aktif. Sudah beberapa kali dia tampil di sejumlah pertunjukkan.

“Saya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) suka dengan wayang kulit. Mulanya karena sering diajak nonton pertunjukkan wayang kulit oleh orang tua. Lama-lama jadi suka, kemudian tertarik menjadi dalang,” ucap Ki Gung Irfani, panggilan tenarnya sebagai dalang.

Anak ketiga putra pasangan suami-istri (pasutri) Dasim dan Rodiyah ini masih ingat,

Sebenarnya menjadi dalang wayang kulit bukanlah cita-citanya. Sedari kecil, dia ingin menjadi seorang tentara.

Namun, orangtuanya yang kerap mengajak nonton wayang, merubah pandangannya. Hampir tiap kali ada pertunjukkan wayang kulit di sekitaran Kecamatan Prigen, dia selalu diajak. Entah itu acara hajatan maupun sedekah desa.

Perlahan dia mulai tertarik dan suka dengan wayang kulit. Bahkan saat kelas 3 SDN Ledug 2, dia sudah terbiasa menonton wayang walau digelar malam hingga dini hari.

Rasa suka ini lalu timbul dan kian dalam saat Irfani tertarik untuk belajar menjadi dalang. Ini terlihat saat dia dibelikan orang tuanya mainan wayang kulit. Dari mainan itulah Irfani latihan sendiri di rumah.

Mulanya dia belajar otodidak. “Selain belajar sendiri dirumah, saat masih sekolah dasar saya juga berlatih ke dalang senior di Pacet, Mojokerto dan pernah pula ke Pandaan. Lama kelamaan akhirnya bisa,” tutur alumni SMPN 1 Prigen dan SMKN 1 Prigen ini.

Saat belajar dalang ke dalang senior, Irfani kecil hanya melihat-lihat saja. Atau menjadi nyantrik. Sesampainya di rumah, ilmu yang didapat dipraktikannya sendiri hingga berulang–ulang. Entah itu di depan kaca atau di tembok rumahnya.

“Seni pendalangan bagi saya bisa membuat keren, karena peminat dan yang menekuninya jarang. Toh kalaupun ada, hanya sebagian kecil saja,” terangnya.

Hingga Irfani berkesempatan untuk tampil pertama. Dia masih ingat betul, pernah menjadi dalang di pagelaran wayang kulit. Seingatnya pada 2018 lalu. Dia tampil di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo. Saat itu, ia masih siswa kelas VIII SMP di SMPN 1 Prigen.

Semenjak itu dia mulai dikenal oleh kalangan atau masyarakat umum. Hingga berlanjut tampil menjadi dalang di pagelaran wayang kulit di beragam acara seperti sedekah desa maupun hajatan.

“Sejauh ini, untuk dalang wayang kulitnya masih di sekitaran Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto saja. Ini sekaligus menyalurkan hobi dan untuk tambahan penghasilan,” tuturnya.

Meskipun menjadi dalang muda dan sudah berpengalaman, hingga kini di rumah saat waktu lengangIrfani tetap berlatih. Ebab untuk menjadi seorang dalang, ada yang harus diperhatikan. Percaya diri, fokus terutama hati dan pikiran. Termasuk harus ekstra hati-hati, atau titi laras.

“Kunci utamanya, penting kita yakin dan berani. Juga tak lupa aktif belajar,” katanya sambil tersenyum.

Menurut dia, menjadi dalang bukanlah hal yang mudah. Karena saat pagelaran berlangsung, di acara sedekah desa maupun hajatan, dia harus fokus pada wayang, sinden dan wiyaga. Otak juga dituntut konsentrasi penuh, memikirkan pra adegan yang harus ditampilkan.

Begitu juga dengan telingga, yang harus selaras dengan gamelan. Selebihnya adalah kreatifitas tangan buat dodokan cempolo, pegang wayang. Diluar itu, kaki juga berfungsi untuk ngeprak.

“Memang sepintas terlihat biasa saja. Tetapi sebenarnya berat. Karena terus berlatih juga pengalaman, maka seorang dalang jadi terbiasa,” ucapnya.

Kini Irfani sudah memainkan sejumlah lakon atau cerita pewayangan yang telah dikuasainya. Antara lain Wahyu Cakraningrat, Gugure Pantolo Maryam, Wahyu Kedung Sejati, Wahyu Bakar Kencana. Selain itu juga Anjila Duta, Wahyu Darma Sejati, Kresnaduta, dan lain-lain.

“Kalau lakon atau cerita, sesuai dari request yang nanggap. Biasanya cerita yang dibawa sudah jauh-jauh sebelumnya disampaikan ke kami sebagai dalang,” ujarnya pria yang mengidolakan Ki Manteb Soedarsono, Ki Anom Soeroto, Ki Enthus Soesmono, Ki Sugilar dan masih banyak lainnya.

Irfani bangga bisa meneruskan seni pertunjukkan tradisional ini. Kelak dia bisa bercerita ke generasi penerusnya. “Menjadi dalang tidaklah membonsankan, karena sudah terlanjur suka dan senang. Seni ini tetap terus saya geluti hingga tua,” ucapnya. (fun) Editor : Ronald Fernando
#dalang muda #seniman kabupaten pasuruan