Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengunjungi Tempat Tinggal Letnan Suyoso, Pejuang Kemerdekaan Probolinggo

Jawanto Arifin • Rabu, 1 Maret 2023 | 18:50 WIB
TERAWAT: Santoso, keponakan Letnan Suyoso kini tinggal di rumah Suyoso semasa kecil. Inset Letnan Suyoso semasa hidup. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
TERAWAT: Santoso, keponakan Letnan Suyoso kini tinggal di rumah Suyoso semasa kecil. Inset Letnan Suyoso semasa hidup. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Selain Mayor Suroyo yang dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan asal Kota Probolinggo, ada juga nama Letnan Suyoso. Meski kisah tentang Letnan Suyoso terbilang minim, namun sebuah rumah menjadi bukti sejarah kehidupan Letnan Suyoso.

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo

JALAN Suyoso dan Suroyo di Kota Probolinggo bukan sekadar nama tanpa arti. Keduanya merupakan warga Probolinggo yang berjuang melawan penjajah Belanda hingga gugur di medan perang.

Riwayat tentang Serma Suroyo sudah banyak dikenal warga Kota Probolinggo. Bahkan, kisahnya sering ditampilkan dalam sejumlah momen kemerdekaan. Namun, minim sekali kisah tentang perjuangan Letnan Suyoso.

Meski demikian, Letnan Suyoso menyisakan jejak sejarah di Kota Probolinggo. Yaitu, sebuah rumah kuno di pojok timur Jalan Suyoso.

Rumah kuno itu tidak lain milik Kusumoadipuro, ayah dari Letnan Suyoso. Di sanalah Suyoso tinggal hingga meninggal ditembak tentara Belanda saat agresi militer Belanda pada tahun 1948.

Saat ini, rumah tersebut ditempati Santoso, 76 dan istrinya, Sri Tri Wahyuningsih, 61. Santoso adalah putra dari almarhum Sridiyati yang merupakan kakak dari Letnan Suyoso. Itu artinya, Santoso adalah keponakan dari Letnan Suyoso.

“Ibu saya almarhum Sridiyati yang merupakan kakak dari Letnan Suyoso. Jadi Letnan Suyoso itu Paklik saya,” terang Santoso, Selasa (28/2) siang.

Kusumoadipuro memiliki 11 anak. Letnan Suyoso adalah anak bungsu. Sementara almarhum Sridiyati, ibu dari Santoso adalah kakak pas Suyoso atau anak kesepuluh.



“Letnan Suyoso meninggal saat masih bujang. Belum berkeluarga. Jadi, dia tidak memiliki keturunan,” tutur lelaki dengan delapan anak itu.

Rumah itu sendiri dibangun sekitar tahun 1930, dengan luas lahan hampir seribu meter persegi. Meski sudah tua, kondisi bangunan cukup terawat dan kokoh. Bentuknya juga masih asli.

Hanya saja, pagar depan rumah tampak lebih modern. Menurut Santoso, pagar asli rumah tersebut roboh. Sehingga, dia mengganti pagar dengan model yang lebih modern dan berwarna hitam.

Jarak pagar dengan rumah utama itu cukup jauh, sekitar 10 meter lebih. Karena itu, tamu harus masuk halaman rumah untuk membunyikan bel rumah agar kedatangannya diketahui pemilik rumah. Itu pun bila pagar dalam keadaan tidak terkunci.

Bila pagar terkunci, maka tamu hanya bisa mengucap salam dari jarak sekitar 10 meter. Bila beruntung, salam itu langsung didengar pemilik rumah. Namun, bila tidak ya harus berkali-kali teriak mengucap salam.

Wartawan Jawa Pos Radar Bromo cukup beruntung, karena bisa langsung masuk ke halaman rumah. Kemudian, membunyikan sebuah lonceng kuno di rumah itu.

Setelah berapa kali membunyikan lonceng, baru Sri Tri Wahyuningsih keluar dari pintu rumah. Dia lantas memanggil suaminya, Santoso.

Berdasarkan ceritanya ibunya, menurut Santoso, pamannya Letnan Suyoso meninggal dalam usia 20 tahun pada tahun 1948. Saat itu era agresi militer kedua Belanda. Belanda masuk kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu di tahun 1948.



Kakeknya Sukumodipuro yang tak lain ayah Letnan Suyoso adalah pejuang di era kemerdekaan. Letnan Suyoso pun juga pejuang, sama dengan kakeknya.

“Almarhum ibu saya menceritakan, Letnan Suyoso meninggal ditembak oleh tentara Belanda usai salat Subuh di Bengkingan, Dringu,” terangnya.

Jenazahnya pun dimakamkan di Bengkingan. Pemerintah pernah akan memindah Suyoso ke taman makam pahlawan. Namun, saat itu warga Bengkingan menolak. Sebab, bagi warga Bengkingan, Suyoso memiliki peran yang sangat berarti.

Pemerintah lantas mengalah dan membuatkan taman makam pahlawan mini di Bengkingan. Di sanalah jenazah Letnan Suyoso dimakamkan hingga kini.

Selain cerita yang disampaikan Santoso, Jawa Pos Radar Bromo berusaha mencari literasi lebih detail tentang cerita Letnan Suyoso. Namun, minim sekali yang ditemukan. Itu pun bukan cerita khusus tentang Suyoso.

Nama Suyoso dikaitkan dengan Mayjen TNI (purnawirawan) Soekertijo, salah seorang tokoh militer Indonesia. Dikisahkan pada 1944, Sokertijo yang saat itu berusia 17 tahun berangkat ke Bogor pada bulan April bersama beberapa kawannya. Di antaranya, Suwandak (gugur di Lumajang), Suyoso (gugur), Suwignyo (mantan Bupati Malang), dan Sumitro (Jenderal). Mereka berangkat dari Probolinggo untuk mengikuti pendidikan PETA. Artinya, saat itu Suyoso berusia 16 tahun.

Santoso sendiri tinggal di rumah kakeknya itu sejak pensiun dari Bank Indonesia (BI) Malang. Sampai saat ini, rumah itu dirawat dengan baik dan dijaga keasliannya. Sesuai dengan riwayat ibunya sebelum meninggal.

“Sebelum meninggal, ibu minta agar rumah ini dijaga, tidak boleh dijual, tidak boleh diubah bentuknya. Ibu minta rumah ini jadi tempat pulang kalau ada keluarga yang datang ke Probolinggo,” katanya.



Karena pesan ibunya itu, Santoso pun mempertahankan bentuk asli bangunan itu. Hanya gentingnya saja yang diganti galvalum. Sebab, sudah sangat tua dan selalu bocok saat hujan deras.

Santoso sendiri awalnya tidak tinggal di rumah itu. Selama bekerja di Malang, rumah itu dikontrakkan. Namun, kondisiya makin rusak. Bahkan, pagarnya sampai roboh. Karena itu, saat pensiun dia memutuskan untuk merawat dan menempatinya.

“Jadi kami ada paguyuban Kusumoadipuro yang anggotanya anak-anak dari Kusumoadipuro. Pada paguyuban, saya izin untuk merawat dan menempati rumah ini. Sebab, kondisinya waktu itu memprihatinkan. Dan diizinkan oleh paguyuban,” terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#dulu dan kini #sejarah probolinggo #pejuang probolinggo