Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Briptu Cahyo Sugito, Personel Polsek Sumberasih, Tekuni Jual Beli Sepatu Bekas

Ronald Fernando • Rabu, 22 Februari 2023 | 15:23 WIB
TAK GANGGU KEDINASAN: Briptu Cahyo Sugito di toko sepatu bekasnya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
TAK GANGGU KEDINASAN: Briptu Cahyo Sugito di toko sepatu bekasnya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Belakangan ramai orang membeli sepatu bekas import dari luar negeri branded alias merek terkenal. Toko-toko sepatu bekas ini juga bermunculan untuk mencari peruntungan. Salah satunya Briptu Mochammad Cahyo Sugito, 25. Pria yang seharinya berdinas di Polsek Sumberasih menekuni bisnis di sela kesibukannya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

FAHRIZAL FIRMANI, Mayangan, Radar Bromo

 -----------------------------------------------------------------------------------------------

SEPATU-sepatu itu disusun rapi di deretan rak yang dibuat memanjang. Model dan warnanya beragam. Mulai merek Amerika hingga Jerman. Ada New Balance, Nike hingga Adidas.

Begitulah yang terlihat di toko Action Company yang terletak di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Toko ini menjual sepatu original second,  namun kualitasnya masih bagus.

"Ini baru saya buka awal Februari. Sebelumnya, saya hanya melayani secara online. Meski second tapi kondisinya masih oke. Di atas 85 persen dari kondisi baru," ungkap Cahyo Sugito mengawali obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Sigit-sapaan akrabnya mengungkapkan ia memang suka dengan sneakers sejak masih SMA. Namun karena harga sneakers original yang baru mahal, waktu itu ia memilih membeli barang yang second.

Dia masih ingat, saat itu sepatu pertama yang dibelinya adalah merek Adidas seharga Rp 500 ribu. Jika bosan, ia jual untuk membeli merek lain. Maksimal, ia pernah memiliki sepatu sebanyak lima pasang. Dan seluruhnya adalah original meski second.

Photo
Photo
SUKA SEPATU: Cahyo Sugito berani jualan karena dia juga juga sepatu branded. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

"Kalau beli baru penurunannya bisa 50 persen. Kalau beli second, ya turunnya sekitar 50 ribuan saja. Sehingga tidak terlalu berisiko. Enaknya, kalau bosan ya, bisa dijual lagi," katanya.

Barulah pada 2019, ia punya ide menjual sepatu second. Namun karena saat itu, ia tidak berani mengambil risiko, niat ini baru terlaksana pada 2021. Apalagi saat itu sedang populer barang thrift. Namun, ia memilih sepatu utamanya sneakers karena masih jarang. Kebanyakan adalah pakaian.

Ia membuka bisnis ini dengan modal Rp 30 juta. Waktu itu bisa mendapatkan 120 pasang. Seluruhnya merek Nike. Ia memilih mendapatkan sepatu second ini dengan membeli dari Thailand. Sebab pusat barang second di Asia dikumpulkan di sana.

Namun karena belum ada toko, ia fokus dengan berjualan secara online melalui instagram. Seluruh sepatu yang dijualnya diletakkan di asrama polisi (aspol). Rupanya, banyak yang cukup meminati. Di bulan pertama, sepatunya laku 40 pasang.

"Karena respon cukup baik, di bulan berikutnya, saya langsung beli lagi. Waktu itu, Rp 5 juta. Dapat belasan pasang sepatu. Kebetulan harganya di bawah Rp 500 ribu," katanya.

Pria yang jadi Panit II Reskrim Polsek Sumberasih ini menyebut semakin lama, semakin banyak yang mengenal tokonya. Pada 2022, ia bisa menjual sepatu hingga 500 pasang. Melihat antusiasme pembeli, ia memberanikan diri melakukan penyesuaian menaikkan harga jual.

Harga per pasangnya yang sebelumnya dibanderol di bawah Rp 500 ribu. Namun sejak 2022, untuk item yang langka dan kondisi di atas 85 persen mulai dijual dengan harga di atas Rp 500 ribu. Kulakannya pun semakin banyak. Rata rata per bulan sudah 200 pasang dari sebelumnya 100 pasang. Kini omsetnya bisa di atas Rp 20 juta

"Mulai berani ambil barang hingga 200 pasang. Harga juga di sesuikan. Kayak Nike mulai Rp 400 sampai 600 ribu. Kalau Adidas mulai Rp 500 sampai satu juta. Bergantung kondisi," katanya.

Selama ini, kata pria asli Lamongan ini, pembelinya kebanyakan dari Jabodetabek dan Kota Malang. Untuk wilayah Probolinggo berada di urutan kedua. Rata rata pembelinya adalah mahasiswa. Untuk pengiriman, setiap pasang sepatu dimasukkan ke dalam kotak sepatu yang bukan original.

Tantangannya berada pada masalah harga. Banyak pembeli Probolinggo yang kurang memahami soal merek. Terkadang mereka suka menawar hingga separo harga. Padahal kualitas sepatu yang dijual olehnya masih like a new atau seperti baru.

Pihaknya memberi garansi, jika palsu, uang kembali dua kali lipat. Selain itu sepatu yang dijualnya lebih murah daripada di kota besar. Seperti Jabodetabek, Surabaya ataupun Malang.

Dengan semakin banyaknya permintaan, ia sering mendapatkan permintaan sepatu yang sulit dicari. Bahkan mereka berani memberikan uang muka agar dicarikan. Namun selama ini, dia menolak karena khawatir tidak bisa diperoleh olehnya.

Menurut pria kelahiran Mei 1997 lalu ini, size-nya beragam mulai dari 38 sampai 48. Karena itulah rata rata pembelinya adalah laki laki. Sebab size perempuan memang terbatas. Ia melayani pembeli usai jam kerja. Namun toko miliknya buka mulai pukul 09.00 hingga 20.00 setiap harinya.

"Tantangannya ya harus pintar atur duit. Karena kadang pengiriman sepatu itu sekitar satu bulan. Jadi harus punya uang uang dijagakan selama dua bulan,” terang Sigit. (fun) Editor : Ronald Fernando
#bisnis sepatu second branded #sepatu bekas