MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo
Berdirinya Ponpes Salafiyah tidak jauh berbeda dengan cikal bakal pesantren pada umumnya di tanah Jawa. Berawal dari sebuah langgar yang dijadikan pusat pengajaran agama Islam.
Langgar itu dibangun di tengah permukiman Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Bentuknya sederhana, terdiri dari beberapa ruangan untuk menginap para santri. Itulah langgar yang dibangun oleh Kiai Hasan Sanusi atau Mbah Slagah sekitar tahun 1779 M. Dengan demikian, saat ini usianya sudah 244 tahun.
“Dari langgar yang kini dikenal orang dengan Langgar Gede itu pula pengajaran dan penyebaran Islam dilakukan secara intens,” kata K.H. Abdullah Sodiq, ketua Yayasan Pesantren Salafiyah.
Hingga berlanjut di era Kiai Hamdani, cucu Mbah Slagah yang kemudian memperluas jaringan pengajaran Langgar Gede. Pada 1867, dia mendirikan bangunan baru di sebelah barat Langgar Gede. Bangunan itu dibuat untuk menampung para santri, berikut dibangun pula bilik-bilik sederhana.
Kepemimpinan Kiai Hamdani diteruskan oleh menantunya yang berasal dari Madura, Kiai Shofiyuddin. Sepeninggal Kiai Shofiyuddin, putranya yang bernama Kiai Arsyad menggantikan kepemimpinannya.
Di bawah Kiai Arsyad, perkembangan pondok pesantren menunjukkan kemajuannya. Berbagai kajian khazanah Islam klasik begitu menarik para santri dari berbagai daerah untuk menimba ilmu di pondok ini. Di antara santrinya yakni Kiai Yasin yang kemudian dijadikan menantu hingga meneruskan kepemimpinan pondok pesantren setelah wafatnya Kiai Arsyad.
Di masa kepemimpinan Kiai Yasin inilah, mulai ada pendidikan madrasah yang dikenal sebagai Madrasah Sunniyah. Hanya saja, madrasah ini tidak jadi satu di kompleks pondok pesantren. Melainkan diletakkan di dekat Masjid Jamik Al Anwar.
Setelah wafatnya Kiai Yasin, secara berturut-turut estafet kepemimpinan pesantren dipegang oleh Kiai Mas Sahalullah, Kiai Muhammad bin Yasin, Kiai Abdullah bin Yasin, Kiai Ahmad Qusyairi bin Shiddiq, dan Kiai Ahmad bin Sahal, sebelum akhirnya kepemimpinan pesantren dipegang oleh Romo Kiai Hamid.
Kepemiminan Kiai Hamid menjadi titimangsa bagi Pesantren Salafiyah menuju pertumbuhan yang begitu pesat. Karena pada masa itu pula, pesantren mulai memberlakukan sistem madrasah yang sebelumnya hanya digelar terpisah di luar pondok pada 1971. Kurikulum madrasah dirancang sendiri dengan berlandaskan asas pengajaran salafi, bukan madrasah formal.
Di masa Kiai Hamid itu pula, didirikannya pesantren putri dengan sistem dan kurikulum pengajaran yang sama persis dengan pesantren putra. Keluasan ilmu dan kearifan Kiai Hamid menarik hati para orang tua dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga membuat Pesantren Salafiyah dengan cepat dikenal. Banyak orang tua mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Kiai Hamid.
Sepeninggal Kiai Hamid, estafet kepemimpinan diteruskan oleh Kiai Aqib bin Yasin, putra terakhir Kiai Yasin. Setelah Kiai Aqib wafat, dibentuklah Dewan Kenadhiran sebagai upaya menjaga keberlangsungan pondok pesantren berdasarkan hasil musyawarah shulaha ahlil balad.
Untuk pertama kalinya diangkat sebagai anggota Dewan Nadhir adalah K.H. M. Sholeh Ahmad Sahal, K.H. M. Idris Hamid, dan K.H. Ahmad Taufiq Aqib. Saat ini kepemimpinan dalam Dewan Nadhir dikendalikan oleh K.H. M. Zakky Ubeid sebagai pengganti K.H. M. Sholeh Ahmad Sahal yang telah wafat; lalu K.H. M. Idris Hamid dan K.H. Abdul Qodir AS.
Kiai Sodiq mengatakan, berdirinya Pesantren Salafiyah seperti lazimnya pesantren di Jawa Timur. Yang dikenal sebagai basis persemaian ajaran Islam ala ahlussunnah wal jamaah.
“Corak pendidikan yang diajarkan dalam Pesantren Salafiyah juga di antaranya pengajaran yang dikembangkan dengan menganut fiqh madzhab Syafi’i,” ungkapnya.
Setiap santri ditanamkan mengenai prinsip tholabul ilmi menurut pandangan Islam. Mulai dari niat awal, fungsi, dan tujuan, hingga berkaitan dengan metodenya.
Seluruh kurikulum dikembangkan dari upaya tafaqquh fiddin yang menjadi ciri khas pesantren sebagai pusat persemaian kader-kader pemimpin Islam. Sementara jenjang pendidikan di madrasah SALAfiyah meliputi idadiyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah.
“Dan sejak tahun 2000, Pesantren Salafiyah menjadi pilot project dalam pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,” kata Kiai Sodiq.
Dia mengatakan, langkah itu dilakukan sebagai upaya strategis bagi pesantren untuk ikut andil dalam penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar. Secara umum, program ini terbagi menjadi dua jenjang. Yaitu, program awaliyah atau setingkat sekolah dasar dan program sustho atau setingkat sekolah menengah. Kemudian pada 2006, mulai ada pendidikan muadalah yang setara dengan aliyah.
“Sehingga ada konvergensi kurikulum yang mengolaborasikan pembelajaran kitab kuning dengan kurikulum nasional. Santri diajarkan untuk menjadi lebih moderat dengan kemampuan berpikir modern,” kata Kiai Sodiq.
Beberapa alumni pesantren Salafiyah bahkan bisa melanjutkan pendidikan di Al Azhar Kairo dan Al Ahqaff Yaman. Belum lama ini, kata Kiai Sodiq, Pesantren Salafiyah juga mengantongi izin untuk membuka ma’had aly yang setara dengan perguruan tinggi. Rencananya, program studi yang akan dibuka yaitu sejarah peradaban Islam.
“Tujuan kami adalah khairunnas anfauhum linnas. Tidak harus menjadi kiai, tetapi yang terpenting bisa memberikan manfaat. Dan anak-anak Salafiyah ini harus siap menjadi subjek pembangunan,” katanya. (hn) Editor : Jawanto Arifin