FAHRIZAL FIRMANI, Wonoasih, Radar Bromo
Penerangan belum bisa dirasakan oleh masyarakat Kota Probolinggo secara merata. Terutama mereka yang tinggal di Kecamatan Wonoasih. Banyak ruas jalan di sini yang cukup gelap. Bahkan, sejumlah jalan nyaris tanpa penerangan. Sehingga, saat malam kondisinya cukup rawan.
Seperti di Jalan Ir. Sutami, Kecamatan Wonoasih. Ruas jalan yang berada di jalur lingkar selatan (JLS) Kota Probolinggo ini memiliki spot gelap cukup banyak. Membentang mulai dari Kelurahan Jrebeng Kidul, Pakistaji, hingga Kedunggaleng.
Salah satu spot yang cukup gelap berada di tugu batas kota, masuk Kelurahan Kedunggaleng sampai jembatan Ir Sutami yang berbatasan dengan Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Penerangan di lokasi ini sangat minim. Bahkan, di jembatan Ir Sutami kondisinya nyaris tanpa penerangan. Gelap gulita.
Padahal, jalan ini merupakan jalur nasional yang setiap harinya dilewati banyak kendaraan besar. Mulai dari bus hingga truk gandeng.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, penerangan hanya berasal dari lampu sorot kendaraan dan rumah warga. Setelah jembatan Ir Sutami, bahkan penerapan dari rumah warga nyaris tidak ada. Sebab, di sini jarak rumah warga dengan jalan raya cukup jauh. Sehingga, penerangan dari rumah warga tidak sampai ke jalan raya.
“Kalau tidak ada kendaraan yang lewat, ya gelap. Walau sedikit dibantu oleh lampu rumah warga, tapi tidak seberapa terang. Yang terang hanya pinggir jalannya,” ungkap Liwon, ketua RT 1/RW 4 Kelurahan Kedunggaleng.
Ia menyebut penerangan di lokasi ini sangatlah penting. Sebab, lokasi ini cukup rawan. Karena minim penerangan, titik ini sempat menjadi black spot untuk aksi pembegalan dan kecelakaan dua tahun lalu.
Bahkan, pihaknya sempat meminta melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) Kecamatan Wonoasih agar lokasi ini diberi closed circuit television (CCTV). Namun, usulan ini belum disetujui.
Akhirnya, warga RT 1/RW 4 mengaktifkan ronda. Lokasinya di sisi timur tugu batas kota, di utara jalan. Kebetulan lokasi ini ada warung milik warga. Kegiatan ini sempat berjalan lebih dari setahun.
“Tapi, kini sudah tidak berjalan lagi. Cuma, Alhamdulillah tidak serawan dulu meski gelap saat malam,” lanjutnya.
Sebab, saat ini warga membuat penerangan di pinggir jalan menuju permukiman di RT 1/RW 4. Penerangan ini menggunakan solar cell atau tenaga surya. Ada tiga titik lampu yang saat ini sudah ada di sana.
Rencananya, menurut Liwon, pihaknya akan kembali mengajukan pemasangan penerangan jalan umum (PJU). Yakni, mulai lokasi tugu batas kota hingga jembatan Ir Sutami dalam musrenbang tahun ini. Harapannya, jalan bisa menjadi lebih terang.
Tidak hanya di ruas JLS, penerangan minim juga terjadi di ruas jalan permukiman warga. Seperti di Jalan Rambutan, Kelurahan Jrebeng Kidul; lingkungan Jati, lingkungan Arum Jati, dan lingkungan Jatian di Kelurahan Wonoasih.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Jrebeng Kidul Fauzan J mengatakan, spot jalan yang gelap di Kota Probolinggo itu cukup banyak. Tidak hanya di Kecamatan Wonoasih, di Kecamatan Kedopok juga masih ada ruas jalan yang gelap.
“Sebenarnya tidak hanya di wilayah selatan, penerangan di wilayah tengah juga belum merata. Seperti di makam cina, perbatasan dengan Kecamatan Kedopok itu juga masih cukup gelap,” jelas Fauzan.
Kapolsek Wonoasih Kompol Sumardjo menyebut, selama ini tidak ada perlakuan yang berbeda untuk patroli yang dilakukan oleh anggota. Namun, untuk lokasi yang dinilai rawan, patroli yang dilakukan anggota lebih sering dan lebih lama. Baik itu rawan karena kondisi gelap atau sering terjadi kriminalitas.
“Untuk titik yang dinilai membahayakan, biasanya anggota yang piket itu patroli lebih dari sekali. Dan mereka biasanya berhenti di lokasi itu cukup lama untuk memantau kondisi sekitar atau berbincang dengan warga,” katanya.
Anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo Zainul Fatoni mengatakan, keberadaan penerangan sangat penting dalam pembangunan suatu daerah. Penerangan bisa membantu wilayah untuk lebih berkembang.
Pihaknya pun selalu mendorong pemkot agar lokasi yang masih minim penerangan seperti di wilayah selatan tidak luput dari prioritas. Sehingga, pembangunan bisa merata hingga ke selatan Kota Probolinggo.
“Tentu penerangan ini penting untuk memajukan suatu wilayah. Kami selalu dorong agar wilayah selatan ini juga dapat perhatian karena memang penerangannya masih minim,” sebut politisi dari PPP ini.
Sementara, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo Agus Effendi mengatakan, penambahan penerangan di wilayah selatan akan dilakukan secara bertahap. Sebab, ini membutuhkan dana yang besar.
Bahkan, setiap tahunnya, Dishub sebenarnya selalu menambah PJU baru. Untuk tahun ini saja, PJU dipasang di 50 titik. Prioritasnya adalah di wilayah selatan Kota Probolinggo. Harapannya, pada 2024 spot yang gelap atau minim penerangan sudah tidak ada di wilayah perkotaan.
“Semua bertahap. Karena butuh anggaran besar, kami lakukan penambahan baik melalui APBD ataupun dari kementerian pusat untuk JLS. Nanti, di P-APBD 2023 juga kami usulkan,” pungkas Agus. (hn) Editor : Jawanto Arifin