MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo
Keberadaan Pasar Persatuan itu boleh dibilang cukup terpencil. Lokasinya di wilayah Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Sebenarnya lokasinya tidak begitu jauh dari kompleks Pasar Gadingrejo. Tapi, bagi orang yang belum pernah ke sana, bakal sedikit kebingungan.
Sebab, kios-kios di pasar itu tidak terlihat dari jalan umum. Di depannya terdapat beberapa bengkel besi tua.
Namun, sebenarnya ada dua jalan untuk memasuki Pasar Persatuan atau biasa disebut pasar loak itu. Yaitu, di sisi selatan dan sisi utara. Itu pun tidak begitu kentara.
Bahkan, tak ada gapura atau sekadar papan yang menandakan bahwa di lokasi tersebut ada aktivitas jual beli. Lebar akses jalannya tidak lebih dari 2 meter. Kondisinya juga tidak cukup baik. Paving jalan sudah banyak yang lepas.
Di dalam pasar, terdapat puluhan kios. Semuanya sudah tampak kusam. Menandakan bahwa bangunan-bangunan itu sudah tua termakan usia.
Hampir sebagian besar kios selalu bocor jika musim hujan. Pintu-pintu kios yang terbuat dari kayu juga tidak sedikit yang sudah jebol.
Para pedagang mau tak mau harus terbiasa dengan kondisi itu. Bila ada kerusakan pada kios yang ditempati, mereka bahkan harus memperbaikinya sendiri. “Itu pun kalau ada rezeki,“ kata Mulyono, salah seorang pedagang.
Tapi, sebagian besar pedagang membiarkannya. Mereka sekadar memperbaiki semampunya. Hanya untuk memastikan kiosnya tidak membahayakan.
Wajar saja, kata Mulyono. Sebab, kondisi Pasar Persatuan sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.
Semakin hari semakin sedikit orang yang datang. Begitu pula saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi pasar itu, beberapa waktu lalu. Pengunjung pasar bisa dihitung dengan jari. Mulyono yang menempati kios sejak awal dibangun cukup paham bagaimana perkembangan pasar tersebut.
“Kalau dibanding dengan dulu, jelas sangat jauh. Bisa lihat sendiri sepinya,“ katanya.
Sebelum dibangun pasar, lokasi itu dulunya merupakan terminal angkutan. Sementara sebagian besar pedagang adalah mereka yang berjualan di kawasan Bangilan. Mereka kemudian dipindah ke pasar tersebut setelah pembangunannya rampung sekitar 1979.
Praktis Pasar Persatuan sudah berdiri selama 44 tahun. Dan selama itu pula para pedagang menempati kios-kios yang sama seperti awal dibangun.
Mashudi yang pernah menjadi ketua paguyuban mengatakan, Pasar Persatuan selama ini seolah dianggap tidak ada. Sebab, pemerintah sama sekali belum merehab bangunan-bangunan kios yang ada.
“Jangankan rehab, untuk mengurus saja sepertinya kami harus lakukan sendiri,“ katanya.
Menurutnya, rehab bangunan kios Pasar Persatuan selama ini baru sebatas rencana. “Sudah ganti lima wali kota sampai sekarang belum terlaksana,“ bebernya.
Dia menyebut, petugas kebersihan pasar saja tidak ada. Mau tak mau para pedagang yang harus secara sadar menjaganya. Sebab, bila dibiarkan, kondisi pasar itu semakin kumuh. Sedangkan saluran air saja, kata Mashudi, baru-baru ini saja dibangun.
“Itu pun saya pribadi. Mohon maaf bukan apa-apa, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Karena saya lihat lama-lama kalau dibiarkan akan semakin kumuh,“ ujarnya.
Sekarang para pedagang dihadapkan dengan kenaikan tarif retribusi. Dari yang semula Rp1.500 per hari menjadi Rp2.500. Itu artinya mereka harus mengeluarkan Rp 90 ribu setiap bulannya.
Menurut Slamet, pedagang yang lain, tarif itu mungkin terbilang receh bagi sebagian orang. Tapi, tidak untuk pedagang kecil seperti dirinya. “Karena penghasilan kan tidak menentu,“ katanya.
Apalagi sekarang kondisi pasar semakin sepi. Aktivitas jual beli baru sedikit bergerak setelah dua tahun dihantam pandemi. Slamet sendiri tidak jarang harus pulang dengan tangan hampa. Bila sudah buntu, dirinya terpaksa menjual rugi dagangannya.
Sementara Ahmad mengaku pasrah dengan kondisi bangunan-bangunan kios itu. Meski sebenarnya dia juga sangat menginginkan agar kiosnya diperbaiki.
“Tapi kalau diperbaiki kemudian malah memberatkan, mending tidak. Sekarang saja nggak ada perbaikan apa-apa, retribusinya sudah dinaikkan,“ ujarnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin