Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Sopir Bison yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Travel Wisata

Jawanto Arifin • Rabu, 25 Januari 2023 | 22:00 WIB
BERTAHAN: Alif di dalam kendaraannya. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
BERTAHAN: Alif di dalam kendaraannya. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Kendaraan angkutan umum jurusan Bromo atau yang sering disebut Bison, sudah jarang ditemui. Saingan mereka banyak. Tetapi masih ada sopir yang bertahan meski saingan mereka kian banyak.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo, Radar Bromo

Selasa (24/1) pagi suasana Terminal Bayuangga lengang. Tetapi jejeran angkutan kendaraan banyak berjejer. Para sopir ngetem seraya berharap masih ada sisa penumpang, walau long weekend sudah berlalu.

Di antara kendaraan itu, ada Bison. Mobil pengangkut umum (MPU) yang memang sengaja disebut Bison karena nama mereknya. Kendaraan ini dulu kerap ditemui melintas di Jalan raya Bromo.

Pagi itu terlihat ada tiga unit yang tengah parkir. Tak ada sopir yang terlihat. Sebab kendaraan yang berjejer mulai pagi hingga pukul 09.00 itu, belum ada penumpangnya.

Bison yang bejejer itu sesuai nomor urut. Mereka bergantian menunggu antrean untuk berangkat. Cara yang efektif untuk meredam konflik antarsopir sehingga tak saling senggol saat mencari penumpang.

Tapi sampai jam menunjukkan pukul 10.00, dari tiga unit tersebut, belum ada satupun yang berangkat. Bahkan tak ada satu penumpang pun yang naik. Ini sudah terjadi sejak lima hari silam. Pantas saja, sopir yang berada di urutan kedua dan ketiga tampak hanya memarkirkan mobilnya saja. Selanjutnya ditinggal pulang sembari menunggu urutan yang pertama jalan ketika sudah mendapatkan penumpang.

Di sebelah lokasi parkir Bison, ada sebuah warung. Tempat ini jadi markas sopir. Tampak beberapa pria tengah duduk santai. Salah satu dari mereka adalah Ahmad Yusuf. Dia merupakan sopir Bison yang berada di urutan pertama.



“Saya berangkat dari rumah di Triwung Kidul pukul 04.30. Mobilnya sudah nunggu di sini. Bahkan sudah lima hari ini mobil belum jalan. Jadi saya nunggu ada penumpang,” katanya.

Pria satu anak itu menerangkan, dia jadi sopir Bison sejak 2002. Saat itu jalur Bromo masih belum dipadati jip. Bahkan bus pariwisata jarang masuk. Sehingga sopir seperti Yusuf masih merasakan kejayaan Bison.

Seiring waktu berjalan, pemilik kendaraan jip mulai tambah banyak. Travel kian berkembang. Semuanya mencari wisatawan dan mengambil penumpang. Begitu juga dengan bus pariwisata, yang mulai masuk ke Bromo. Belum lagi gempuran angkutan online. Semenjak itu sopir Bison seolah kembang kuncup.

“Dulu model angkutan Bromo ini ngider. Ada saja penumpangnya. Tetapi saat ada banyak kendaraan pribadi, entah itu motor atau mobil, jasa angkut kami tiarap,” beber Yusuf.

Sopir seperti dirinya memang mengandalkan penumpang yang penuh. Tidak mungkin mereka berangkat, jika penumpang minim. Sebab bisa rugi di solar. “Sekali jalan solar habis Rp 100 ribu dan uang setoran ke juragan Rp 150 ribu. Jelas ndak nutut,” terangnya.

Semenjak itu penghasilan Yusuf tak menentu. “Dulu ketika mobil ambil dari garasi sudah harus setor Rp 150 ribu. Nah, untuk sekarang ini tidak begitu. Ketika muat, baru dihitung setoran dan modelnya persentase. Misalnya dapat 400, maka disetorkan Rp 150 ribu,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Alif, 39. Pria yang juga asal Triwung Kidul, ini mengaku kerap mengatur siasat. Agar pendapatan yang kecil tetap bisa menghasilkan, dia cari ceperan. Caranya, dia bekerja sama dengan jip dan hotel. “Kami ngangkut pengunjung dari terminal dan menawarkan hotel. Jika setuju dan menginap, kami dapat fee dari hotel. Begitu juga dengan jip,” terangnya.



Lain lagi dengan cerita Slamet Akbar. Dia sudah 10 tahun lebih jadi sopir Bison. Pria 43 tahun ini mengaku, kebanyakan sopir Bison merupakan warga setempat. Sehingga, meski mobilnya ditinggal di terminal, mudah untuk memantau. “Yang di sini (ngetem di terminal) semuanya warga sini (Triwung Kidul dan sekitarnya, red). Yang ngetem di Sukapura sana, juga warga sana. Tetapi persoalannya hampir sama,” katanya. Bagi ketiga sopir ini, bekerja sebagai sopir, tetap harus mereka lakoni. Sulit untuk meninggalkan karena mereka belum terpikirkan untuk beralih ke pekerjaan lain. Meski dari penghasilan sebenarnya mepet.

“Saya dari kecil, awal kerja hingga saat ini jadi sopir Bison. Jadi belum punya pikiran untuk bekerja lain. Senangnya lagi, saya bisa belajar bahasa Inggris karena sering interaksi dengan turis, meski tidak lancar,” katanya.

Mereka masih yakin Bison bisa tetap jaya. Sebab secara resmi jika dilihat dari website untuk transportasi dari terminal ke Bromo, mestinya harus menggunakan Bison. Apalagi saat ini banyak turis backpacker yang jelas memilih irit. (fun) Editor : Jawanto Arifin
#bison bromo #wisata bromo #kendaraan ke bromo