Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kondisi TWSL atau Bonbin Mini Kota Probolinggo setelah 13 Tahun Berdiri

Ronald Fernando • Jumat, 6 Januari 2023 | 22:00 WIB
BONBIN MINI: TWSL Kota Probolinggo yang sudah 13 tahun berdiri. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
BONBIN MINI: TWSL Kota Probolinggo yang sudah 13 tahun berdiri. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Setelah 13 tahun berlalu, Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo masih menjadi wisata keluarga favorit warga Kota Probolinggo. Setiap tahunnya, jumlah satwa di wisata edukasi ini selalu bertambah. Meski sempat terdampak pandemi, TWSL terus berbenah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

FAHRIZAL FIRMANI, Radar Bromo, Mayangan

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepasang suami istri dan anaknya, membeli tiket di pintu masuk TWSL, Selasa (3/1) siang itu. Mereka lantas mengitari sejumlah kandang berisi satwa di sana. Mulai dari satwa buas seperti singa dan buaya, hingga melihat-lihat beragam koleksi burung di sana.

Usai puas berputar di TWSL, mereka duduk di salah satu bangku taman. Lantas berswafoto bersama dengan latar kandang satwa burung di belakangnya. Keluarga itu mengabadikan berbagai gaya dengan ceria.

Selasa itu, tak banyak warga yang berkunjung ke TWSL atau biasa disebut kebun binatang mini atau bonbin mini. Sebab, memang hari itu hari aktif. Biasanya, pengunjung yang datang sehari sekitar 50 sampai 200 orang.

“Begini ini kondisi TWSL kalau hari aktif. Dalam sehari, pengunjung sekitar 50 sampai 200 orang saja. Ramainya itu pas hari libur. Seperti tahun baru itu sampai tiga ribu lebih pengunjung,” kata Kepala UPT TWSL Muhammad Akbarul saat menemani Jawa Pos Radar Bromo berkeliling.

Di dalam TWSL, ada total  246 satwa yang terdiri atas satwa burung, mamalia, ikan, hingga reptil. Rinciannya, 102 ekor burung, 51 ekor mamalia, 12 ekor reptil, dan 81 ekor ikan.

Pada 2022, jumlah satwa yang dimiliki TWSL bertambah lima jenis. Saat itu, TWSL berhasil mengembangbiakkan tiga ekor satwa. Yakni, dua ekor burung Nuri Bayan, satu ekor burung Nuri Kepala Hitam, dan dua ekor Rusa Timor. Jumlah ini sesuai dengan target di tahun sebelumnya.

Terlepas dari itu, jumlah satwa yang dimiliki TWSL setiap tahunnya fluktuatif. Sebab, selain ada pengembangbiakkan, terkadang ada satwa yang mati karena usia tua. Dan kondisi ini alami karena masuk seleksi alam.

“Setiap tahun kami ada target untuk pengembangbiakkan satwa. Target pada 2022, ada lima ekor dan terealisasi lima ekor,” jelasnya

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, pengunjung anak-anak suka berkeliling ke kandang satwa. Lalu menghabiskan waktu bermain di wahana permainan. Sementara, pengunjung dewasa memilih untuk mengabadikan momen dengan berfoto.

“Rata-rata pengunjung yang datang itu dari Kabupaten Probolinggo, ada pula Kabupaten Lumajang. Kebanyakan itu dari kalangan menengah ke bawah. Sebab, harga tiket kami memang murah. Cuma delapan ribu rupiah,” sebut Akbar.

Untuk menjamin kondisi kesehatan satwa di TWSL, pemkot selalu mengupayakan penambahan volume pakan. Khusus singa, tahun ini meningkat menjadi 13 kilogram. Rinciannya, 8 kilogram untuk singa jantan dan 5 kilogram untuk singa betina.

Pakan yang diberikan untuk singa adalah daging ayam dan daging merah. Pemberiannya disesuaikan dengan jadwal. Untuk Januari ini, dalam sepekan singa diberikan daging merah sebanyak dua kali dan empat kali daging ayam. Sementara satu hari lainnya puasa.

Sementara untuk satwa lainnya, seperti lutung, orang utan, beruang madu, hingga burung, juga ada penambahan volume pakan. Namun, tidak signifikan seperti singa. Sebab, pemberian pakan pada singa itu disesuaikan dengan umur dan berat badan.

Pengadaan pakan dilakukan 10 hari sekali. Mulai dari daging, buah, sayur, hingga ikan. Pakan ini disimpan dalam gudang nutrisi. Sebagian diletakkan dalam lemari pendingin, sisanya di ruangan agar kondisinya tetap segar.

“Untuk singa meningkat tiga kilogram dari tahun 2022. Tahun 2022 sempat tidak naik, tetap 10 kilogram seperti pada 2021 akibat recofusing anggaran. Alhamdulillah tahun ini bisa naik volume pakan yang diberikan,” jelas dokter hewan di TWSL, drh. Rizki Ramadhani.

Selain bisa melihat satwa, pengunjung TWSL bisa berkeliling melihat tanaman dan pohon. Adapula playground di bagian tengah. Di sini, pengunjung bisa menikmati sejumlah permainan. Mulai dari jungkat jungkit, perosotan, mangkok putar, hingga besi panjat.

Karena sifatnya wisata edukatif, ada penjelasan tentang hewan di setiap kandangan. Bahkan pengunjung bisa mengetahui lebih dalam dengan melakukan scan pada barcode yang dipasang di pojok atas atau bawah kandang. Ada pula, perpustakaan mini di dekat pintu masuk. Di sini, pengunjung bisa membaca buku pengetahuan tentang satwa.

“Kami juga menawarkan edukasi soal kompos yang terletak di sisi timur. Ini biasanya pengunjung dari kalangan pelajar SD. Kami tunjukkan cara pengolahan dari pembuatan hingga terbentuk kompos,” sebut Akbarul.

TWSL sendiri, berdiri pada tahun 2006 dan diresmikan oleh Wali Kota Probolinggo saat itu, HM Buchori. Daerah yang biasa disebut Joboan itu awalnya daerah biasa dan disulap menjadi kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Lalu pada tahun 2010, TWSL ditambahi sejumlah satwa. Tahun itu juga, keluar SK Kemenhut RI Nomor: SK.527/Menhut-11/2010 yang menyebutkan TWSL adalah Lembaga Konservasi yang kemudian menjadi taman edukasi lingkungan. Di dalamnya ada beragam satwa dan tanaman.

Sejak saat itu, TWSL banyak didatangi warga. Tidak hanya dari Kota Probolinggo, namun juga dari Kabupaten Probolinggo dan daerah lain di sekitarnya. Tiketnya yang murah meriah menjadi salah satu faktor yang membuat tempat wisata ini banyak didatangi warga. (hn) Editor : Ronald Fernando
#twsl kota probolinggo #pemkot probolinggo